Langkah Cristiano Ronaldo untuk menambahkan trofi kompetisi Asia ke dalam lemari prestasinya harus terhenti. Al Nassr, tim yang dibelanya, gagal merengkuh gelar AFC Champions League Two (ACL 2) 2025-2026 setelah takluk dengan skor tipis 0-1 dari Gamba Osaka di partai puncak. Pertandingan krusial yang memperebutkan supremasi sepak bola Asia ini berlangsung di Stadion Al Alawwal Park pada Minggu, 17 Mei 2026, dini hari WIB. Bagi bomber asal Portugal itu, laga ini sejatinya menjadi momen penentu untuk menorehkan sejarah baru di benua kuning.
Namun, impian tersebut harus pupus berkat gol tunggal yang dicetak oleh Deniz Hummet pada menit ke-29. Gol tersebut tidak hanya memastikan kemenangan bagi Gamba Osaka, tetapi juga memupus harapan Ronaldo untuk merayakan gelar juara di hadapan publik Al Nassr. Hasil yang mengecewakan ini menambah daftar panjang kekalahan Ronaldo di laga final, yang kini mencapai angka 15 sepanjang karier profesionalnya. Rekor ini mencakup pertandingan di level klub maupun tim nasional, terhitung sejak tahun 2002 hingga 2026.
Sejak kepindahannya ke Arab Saudi tiga setengah tahun lalu, Ronaldo telah empat kali merasakan kekalahan di berbagai laga final. Sebelumnya, ia harus mengakui keunggulan Al Hilal di Piala Super Saudi dan juga menelan kekalahan dari Al Ahli di kompetisi yang sama. Selain itu, Al Hilal juga berhasil menghentikan ambisi Al Nassr di final Piala Raja. Ironisnya, kekalahan di final ACL 2 ini membuat Ronaldo kini memiliki rekor kekalahan final yang lebih banyak dibandingkan rival abadinya, Lionel Messi. Sang megabintang asal Argentina tercatat telah 13 kali gagal meraih gelar juara di partai puncak.
Riwayat kegagalan Ronaldo di laga final sebenarnya sudah dimulai sejak ia membela Sporting CP. Pada Piala Portugal tahun 2003, ia dan timnya harus mengakui superioritas FC Porto. Satu tahun kemudian, impian membawa pulang trofi Euro 2004 untuk Portugal harus terkubur setelah Timnas Portugal kalah dari Yunani di kandang sendiri.
Selama periode gemilangnya bersama Manchester United, Ronaldo juga beberapa kali harus merasakan pahitnya kekalahan di final. Tiga kekalahan tersebut terjadi di final Piala FA pada musim 2005 dan 2007, saat timnya berhadapan dengan Arsenal dan Chelsea. Puncak kekecewaan di era Setan Merah terjadi pada final Liga Champions 2008-2009, di mana Barcelona berhasil mengungguli skuadnya.
Bahkan di masa-masa kejayaannya bersama Real Madrid dan Juventus, Ronaldo tidak luput dari kekalahan di partai puncak. Antara tahun 2009 hingga 2018, ia mengalami empat kekalahan di final Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Barcelona dan Atletico Madrid menjadi dua tim yang masing-masing berhasil menumbangkannya dua kali dalam duel final tersebut. Bersama Juventus, CR7 juga harus menelan dua kekalahan di final, yaitu pada Piala Super Italia 2019 melawan Lazio dan Coppa Italia 2020 menghadapi Napoli.
Perbandingan rekor final antara Ronaldo dan Messi memang menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Lionel Messi, dengan koleksi 48 trofi, secara statistik masih lebih unggul dalam jumlah kemenangan di partai puncak. Sementara Ronaldo mengoleksi 35 gelar juara. Dari seluruh perjalanan kariernya, Messi hanya tercatat 13 kali kalah di pertandingan final. Delapan dari kekalahan tersebut dialami saat ia memperkuat Barcelona di berbagai kompetisi domestik seperti Copa del Rey, Piala Super Spanyol, dan Piala Super Eropa.
Di panggung internasional, Messi juga pernah merasakan kekecewaan mendalam saat Argentina kalah di final Piala Dunia 2014. Tiga kekalahan lainnya bersama tim nasional Argentina terjadi pada final Copa America edisi 2007, 2015, dan 2016. Kekalahan teraktual yang dialami Messi terjadi saat membela Inter Miami di final Piala Terbuka AS 2023, di mana timnya harus mengakui keunggulan Houston Dynamo. Perbandingan ini menegaskan bahwa meskipun kedua pemain telah mencapai puncak kejayaan dalam karier sepak bola mereka, rekor kegagalan di laga final menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok, dengan Messi memiliki catatan yang relatif lebih baik.
Kekalahan Al Nassr di final ACL 2 ini tidak hanya menjadi pukulan bagi Cristiano Ronaldo secara pribadi, tetapi juga bagi seluruh tim dan para pendukungnya yang berharap besar dapat menyaksikan sang mega bintang mengangkat trofi di tanah Asia. Hasil ini menandakan bahwa perjalanannya untuk meraih kesuksesan di kompetisi Asia masih harus dilanjutkan, dengan harapan di masa mendatang ia dapat membalikkan catatan minor ini menjadi sebuah kemenangan gemilang. Kegagalan ini tentu akan menjadi bahan evaluasi mendalam bagi Al Nassr dan Ronaldo sendiri, untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan-tantangan berikutnya. Dunia sepak bola akan terus menyaksikan bagaimana Ronaldo merespons kekalahan ini dan apakah ia mampu bangkit untuk kembali meraih kejayaan di panggung yang berbeda.






