Performa luar biasa yang ditunjukkan oleh Veda Ega Pratama, pembalap muda asal Indonesia, dalam seri Moto3 di Sirkuit Catalan pada Minggu, 17 Mei 2026, patut mendapat apresiasi tinggi. Memulai balapan dari posisi yang kurang menguntungkan, yaitu urutan ke-20, Veda berhasil melakukan manuver penyelamatan yang gemilang dan menembus barisan delapan besar di garis finis.
Sejak lampu start padam, Veda menunjukkan ambisi yang membara. Pembalap didikan Astra Honda Racing School ini langsung melesat tajam, berhasil melewati delapan pesaingnya dalam satu putaran pembuka untuk mengamankan posisi ke-12. Keberhasilan awal ini menjadi indikasi kuat bahwa Veda memiliki potensi untuk memberikan kejutan di lintasan.
Memasuki putaran kedua, persaingan sengit membuat posisinya sempat sedikit tergeser ke urutan ke-13. Namun, impresi yang ditorehkan Veda di awal balapan tetap luar biasa, mengingat ia mampu mendahului tujuh pembalap di depannya dalam waktu singkat. Di barisan terdepan, persaingan memanas antara Almansa yang memimpin, diikuti oleh Munoz dan Uriarte yang membayangi di posisi kedua dan ketiga.
Perjuangan Veda tidak luput dari tantangan. Saat melewati tikungan kesepuluh, ia sedikit melebar, yang membuatnya harus kembali berjuang dari posisi ke-13. Namun, insiden ini tidak memadamkan semangat juangnya. Pada putaran ketiga, Veda berhasil merangkak naik ke posisi ke-11, meskipun kelompok terdepan telah menciptakan jarak sekitar 1,7 detik.
Satu putaran kemudian, Veda kembali menunjukkan kemajuannya dengan menempati posisi kesepuluh. Ia terus membayangi Perrone dengan selisih waktu yang semakin menipis, hanya 0,7 detik. Sementara itu, di barisan depan, pertarungan sengit untuk posisi teratas terus berlangsung antara Almansa, Munoz, dan Fernandez.
Memasuki putaran keenam, Veda semakin menunjukkan konsistensinya dengan memangkas jarak dengan rombongan pembalap di depannya, sehingga berhasil naik ke urutan kesembilan. Ketekunan Veda di posisi ini cukup lama, bahkan ia sempat menempel ketat Danish dengan selisih hanya 0,5 detik pada putaran ketujuh.
Memasuki paruh kedua balapan, tepatnya pada putaran kesepuluh, tiga posisi teratas masih ditempati oleh Uriarte, Fernandez, dan Munoz. Pada momen ini, Veda mulai sedikit tertinggal dari rombongan terdepan, namun ia berhasil mempertahankan posisinya di urutan kesembilan.
Tantangan kembali menghampiri Veda pada putaran kesebelas. Kehilangan momentum membuatnya turun dua peringkat ke posisi kesebelas. Situasi ini terus berlanjut hingga putaran ke-13, dengan jarak antara Veda dan O’Gorman di depannya cukup signifikan.
Ketika balapan menyisakan empat putaran, tensi di kelompok terdepan semakin meningkat dengan bergabungnya Carpe dan Quiles dalam perebutan podium. Di sisi lain, Veda masih tertahan di posisi kesebelas, berjarak 0,8 detik dari O’Gorman.
Namun, drama sesungguhnya terjadi pada tiga putaran terakhir. Veda terus memberikan tekanan tanpa henti, berhasil mempersempit jarak menjadi hanya 0,2 detik dari O’Gorman. Momentum positif ini semakin terdukung ketika Veda berhasil menyalip Fernandez, ditambah dengan insiden jatuhnya Rios. Hasilnya, posisi pembalap muda kebanggaan Indonesia ini melonjak dua peringkat ke urutan kesembilan.
Memasuki putaran terakhir, aksi saling salip di grup depan tak terhindarkan. Veda memanfaatkan setiap celah yang ada dengan maksimal, melakukan dorongan di tikungan-tikungan akhir untuk kembali naik satu peringkat. Perjuangan kerasnya berbuah manis, mengantarkannya finis di posisi kedelapan.
Balapan itu sendiri akhirnya dimenangi oleh Quiles, diikuti oleh Carpe yang mengamankan podium kedua, dan Munoz di posisi ketiga. Bagi Veda Ega Pratama, finis di urutan kedelapan adalah bukti nyata kegigihan, determinasi, dan bakat luar biasa yang dimiliki oleh pembalap muda Indonesia ini. Perjuangannya dari posisi buncit ke-20 hingga menembus delapan besar di Sirkuit Catalan akan menjadi inspirasi bagi banyak pembalap muda lainnya.






