Jalan Terjal Si Nyonya Tua Menuju Panggung Eropa: Kekalahan di Kandang Buka Peluang Kompetisi Impian Tertutup

Tommy Welly

Perjuangan Juventus untuk mengamankan satu tempat di Liga Champions musim depan kini di ambang bahaya. Kekalahan mengejutkan di kandang sendiri saat menjamu Fiorentina pada lanjutan Serie A 2025-2026 telah mengoyak harapan tim berjuluk Si Nyonya Tua tersebut, memaksa mereka harus berjuang lebih keras dan bergantung pada hasil laga tim lain di pekan terakhir. Posisi di klasemen sementara pun terancam semakin merosot, jauh dari zona yang diinginkan.

Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Allianz, Turin, pada Minggu (17/5/2026) sore waktu setempat, Juventus takluk dengan skor dua gol tanpa balas dari Fiorentina. Gol-gol tim tamu dicetak oleh Rolando Mandragora di menit ke-8 dan Cher Ndour pada menit ke-33. Hasil minor di pekan ke-37 ini menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan Luciano Spalletti, yang sebelumnya berambisi besar untuk mengamankan tiket ke kompetisi antarklub paling prestisius di Eropa.

Kekalahan ini membuat Juventus tertahan di peringkat keenam klasemen Serie A dengan mengoleksi 68 poin. Angka yang sama sebenarnya juga dimiliki oleh Como, namun Juventus harus rela berada di bawah Como karena kalah dalam rekor pertemuan head-to-head. Situasi ini semakin memperumit peta persaingan di papan atas klasemen.

Papan atas Serie A musim ini memang menyajikan drama yang tak kalah sengit. AC Milan dan AS Roma, yang berada di posisi ketiga dan keempat, telah mengumpulkan 70 poin. Jarak ini semakin terasa lebar bagi Juventus, yang kini harus merangkai skenario kemenangan di laga terakhir sembari berharap ada hasil minor dari para pesaingnya.

Satu-satunya jalan bagi Juventus untuk melaju ke Liga Champions adalah dengan meraih kemenangan mutlak melawan Torino pada pekan pamungkas. Namun, itu saja belum cukup. Mereka juga harus berdoa agar AC Milan, AS Roma, dan Como gagal mendulang poin penuh di pertandingan terakhir mereka. Jika ada tim yang memiliki poin akhir sama dengan Juventus, tim asal Turin ini memiliki keunggulan rekor pertemuan langsung atas AS Roma dan selisih gol yang lebih baik dibandingkan AC Milan. Namun, keunggulan ini tentu tidak bisa dijadikan jaminan mutlak.

Menyikapi kekalahan yang begitu krusial ini, pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menunjukkan raut kekecewaan yang mendalam. Dalam sesi wawancara pasca-pertandingan dengan Sky Sport, Spalletti bereaksi tajam ketika seorang reporter melontarkan kalimat yang menyiratkan bahwa pertandingan tersebut adalah yang terpenting dalam karier para pemainnya. Ia menganggap cara pandang tersebut justru membuka diskusi dengan awal yang buruk.

"Jika Anda memulai dengan cara ini, Anda langsung memulai dengan buruk," ujar Spalletti kepada Sky Sport, seperti dikutip dari Football Italia.

Mantan pelatih timnas Italia itu dengan tegas menolak anggapan bahwa peluang timnya untuk berkompetisi di Eropa telah tertutup sepenuhnya. Ia mengakui bahwa hasil yang diraih memang mengecewakan dan pertandingan tersebut sangatlah penting, namun ia tak ingin larut dalam narasi pesimisme.

"Fakta bahwa semuanya sudah berakhir, bahwa kita semua sudah mati… itu salah. Jelas, ini hasil yang buruk. Ini pertandingan penting," tegasnya.

Spalletti juga ditanyai mengenai persepsinya terhadap skuad Juventus saat ini, terutama jika dibandingkan dengan pernyataan-pernyataannya beberapa pekan sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa penilaiannya terhadap tim bersifat jangka panjang dan bukan hanya berdasarkan satu pertandingan. Ia merasa bahwa para pemain telah menunjukkan performa yang baik dan ada perkembangan yang signifikan dalam tim.

"Mengenai penilaian saya, itu bukan hanya berdasarkan hari ini. Saya pikir mereka telah melakukan hal-hal hebat; ada pertumbuhan yang signifikan, dan mereka meletakkan fondasi untuk hal-hal penting," ungkap Spalletti. Ia menambahkan bahwa tim harus tetap fokus pada permainan sepak bola, menjaga kualitas, dan menunjukkan kepribadian yang tinggi di setiap laga.

Kekalahan dari Fiorentina ini bukan hanya sekadar tiga poin yang hilang, melainkan juga sebuah ujian mental bagi Juventus. Para pemain dituntut untuk bangkit dari keterpurukan ini dan menunjukkan bahwa mereka memiliki mental juara yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi. Perjalanan mereka menuju Liga Champions kini terasa seperti mendaki gunung terjal, di mana setiap langkah harus diperhitungkan dengan matang dan setiap peluang harus dimanfaatkan dengan maksimal. Apakah Juventus mampu membalikkan keadaan di pekan terakhir, ataukah mimpi bermain di Liga Champions musim depan harus dikubur dalam-dalam? Jawabannya akan terungkap dalam 90 menit terakhir Serie A musim ini.

Also Read

Tags