Menolak Label "Steve Jobs dari China", Lei Jun Ungkap Keresahan atas Bias Pemberitaan

Fahmi Idris

Pendiri raksasa teknologi Xiaomi, Lei Jun, kerapkali dijuluki sebagai "Steve Jobs dari China" oleh publik dan media. Perbandingan ini muncul bukan tanpa alasan, mengingat adanya kesamaan dalam berbagai aspek, mulai dari gaya berpakaian yang khas, pendekatan kepemimpinan yang visioner, hingga filosofi pengembangan produk yang berorientasi pada pengguna. Namun, di balik pujian tersebut, Lei Jun justru merasa kurang nyaman dan bahkan risih dengan penyematan julukan tersebut. Ia merasa bahwa perbandingan yang terus-menerus dilakukan ini tidak sepenuhnya akurat dan justru menimbulkan bias dalam pemberitaan.

Lei Jun sendiri mengakui bahwa Steve Jobs, inovator legendaris di balik Apple, merupakan salah satu tokoh yang sangat menginspirasinya. Pengaruh Jobs dalam membentuk visi dan misi Xiaomi memang tidak dapat dipungkiri. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya bukanlah jelmaan Jobs dan Xiaomi bukanlah sekadar tiruan dari Apple. Dalam sebuah tulisan panjang yang diunggah di blog resmi Xiaomi China pada Oktober 2013, Lei Jun secara blak-blakan mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara media dan publik dalam menggambarkan dirinya serta perusahaannya. Ia merasa bahwa label "Steve Jobs dari China" yang melekat padanya telah mengaburkan esensi dan keunikan Xiaomi.

Lebih lanjut, Lei Jun mengungkapkan bahwa ia tidak pernah merasa pantas untuk disandingkan langsung dengan figur sehebat Steve Jobs. Ia menyadari bahwa Jobs adalah seorang jenius yang telah mengubah lanskap teknologi global dan memberikan kontribusi luar biasa. Namun, menurutnya, menyamakan pencapaiannya dengan Jobs adalah sebuah ketidaktepatan. Ia menekankan bahwa karakter dan DNA yang dimiliki oleh Xiaomi sangatlah berbeda dengan Apple. Keheranan kerap muncul dalam benaknya setiap kali ia dihadapkan pada pertanyaan mengenai perbandingan tersebut dalam berbagai sesi wawancara. Ia merasa tidak memiliki jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang terus berulang itu.

Pada periode awal berdirinya Xiaomi, sekitar tahun 2013, tiga tahun setelah perusahaan itu didirikan pada 2010, Lei Jun sering kali ditanya mengenai strategi Xiaomi untuk dapat bersaing dan bahkan mengungguli pemain global besar seperti Apple dan Samsung. Ia mengaku kesulitan memberikan jawaban yang lugas, mengingat posisi Xiaomi yang saat itu masih tergolong sebagai pemain baru di industri yang sangat kompetitif. Lei Jun berargumen bahwa Xiaomi yang baru beroperasi selama tiga tahun tidak seharusnya dibandingkan dengan raksasa teknologi yang telah memiliki sejarah panjang dan sumber daya yang jauh lebih besar. Perbandingan tersebut, baginya, adalah sebuah simplifikasi yang mengabaikan dinamika industri dan perjalanan sebuah perusahaan.

Selain masalah penyematan julukan yang dianggap kurang tepat, Lei Jun juga secara tegas mengkritik pemberitaan media lokal di China yang menurutnya sering kali memuat bias. Ia menyoroti penggunaan istilah "baofahu", sebuah sebutan di China yang merujuk pada masyarakat kelas bawah yang tiba-tiba menjadi kaya. Penggunaan istilah ini, menurut Lei Jun, sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat mengenai posisi dan citra Xiaomi. Istilah tersebut memberikan konotasi negatif yang tidak sesuai dengan perjuangan dan inovasi yang telah dilakukan oleh Xiaomi.

Sebagai contoh konkret, Lei Jun merujuk pada pemberitaan awal media internasional The Wall Street Journal yang sempat menyematkan label "shanzhai" atau produsen barang tiruan kepada Xiaomi. Label negatif ini, yang sering diasosiasikan dengan produk-produk tiruan berkualitas rendah dari China, tentu saja sangat merugikan citra perusahaan. Namun, setelah pihak The Wall Street Journal melakukan wawancara mendalam dan melihat langsung perkembangan bisnis Xiaomi, serta angka pertumbuhan yang signifikan, label tersebut akhirnya tidak lagi digunakan. Lei Jun menyatakan bahwa media tersebut tidak lagi menuduh Xiaomi memproduksi ponsel murahan setelah melihat data dan performa bisnis yang impresif.

Namun, ironisnya, ketika laporan dari The Wall Street Journal tersebut diterjemahkan dan dimuat ulang oleh media-media di China, judul dan narasi yang digunakan justru kembali menggunakan istilah-istilah yang bias dan telah ditentang oleh Lei Jun. Ia merasa bahwa terjemahan tersebut tidak hanya sekadar menerjemahkan kata, tetapi juga membawa serta bias budaya dan persepsi yang sudah ada. Lei Jun menegaskan bahwa ia tidak berniat terlibat dalam perdebatan semantik yang rumit, namun ia meyakini bahwa semua orang dapat melihat adanya bias yang jelas dalam terjemahan Mandarin dari artikel The Wall Street Journal tersebut. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya mengubah narasi yang sudah terlanjur terbentuk, terutama ketika bias tersebut diperkuat oleh media lokal.

Tidak hanya berhenti pada masalah pemberitaan dan julukan, Lei Jun juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap kritik yang dilontarkan oleh sebagian pelanggan terkait strategi pemasaran Xiaomi. Salah satu kritik yang cukup menonjol adalah mengenai kebijakan penutupan masa pemesanan awal (pre-order) yang diperpanjang hingga tiga bulan. Kebijakan ini, bagi sebagian pelanggan, dianggap kurang efisien dan menimbulkan antrean panjang. Hal ini menunjukkan bahwa Xiaomi, di samping inovasi produk, juga harus menghadapi tantangan dalam hal manajemen ekspektasi pelanggan dan efektivitas operasional.

Meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, kritik, dan persepsi yang bias, Lei Jun pada masa itu memilih untuk tidak terlalu terpengaruh. Ia memutuskan untuk mengalihkan fokus energinya pada hal yang paling ia kuasai dan yakini: menciptakan produk Xiaomi yang tidak hanya memiliki kualitas tinggi, tetapi juga ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Filosofi ini menjadi pilar utama Xiaomi dan menjadi kunci keberhasilannya dalam menarik jutaan konsumen di seluruh dunia. Lei Jun percaya bahwa kualitas dan nilai yang ditawarkan kepada konsumen adalah kunci utama kesuksesan jangka panjang, terlepas dari label-label yang disematkan oleh pihak luar atau kritik sesaat. Ia memilih untuk membuktikan diri melalui produk dan inovasi, bukan melalui perdebatan atau klarifikasi yang tak berkesudahan.

Also Read

Tags