Performa Nyata MPV Hybrid BYD M6 DM: Efisiensi Teruji di Jalanan Bervariasi

Ridwan Hanif

PT BYD Indonesia baru-baru ini menggelar sebuah uji coba mengemudi yang mendalam untuk produk plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) terbarunya, BYD M6 DM. Tujuan utama dari pengujian ini adalah untuk memverifikasi klaim efisiensi bahan bakar mobil yang merupakan MPV (Multi-Purpose Vehicle) tujuh penumpang ini. Selama kurang lebih 150 kilometer, BYD M6 DM diajak melintasi berbagai kontur jalan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, termasuk area Bogor yang memiliki medan naik turun. Rute ini dirancang sedemikian rupa untuk mencerminkan kondisi berkendara sehari-hari yang sering dihadapi oleh para pengguna mobil di perkotaan dan pinggiran kota.

Sebelum memulai perjalanan uji coba ini, seluruh kapasitas baterai kendaraan dipastikan terisi penuh, begitu pula dengan tangki bahan bakarnya. Untuk memastikan integritas hasil pengujian, pihak BYD Indonesia mengambil langkah ekstra dengan menyegel lubang pengisian bahan bakar. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa tidak ada penambahan bahan bakar sama sekali selama sesi pengujian berlangsung, sehingga data konsumsi yang tercatat murni berasal dari penggunaan normal.

Para pengemudi yang bertugas dalam uji coba ini tidak menerapkan strategi berkendara hemat bahan bakar yang ekstrem. Sebaliknya, mereka mengemudikan BYD M6 DM dalam kondisi yang mendekati penggunaan harian pada umumnya. Pendingin ruangan (AC) tetap dioperasikan secara optimal untuk menjaga kenyamanan kabin, sistem hiburan juga aktif, dan kecepatan kendaraan disesuaikan secara dinamis mengikuti arus lalu lintas, berkisar antara 60 hingga 100 kilometer per jam. Selain itu, kendaraan ini membawa tiga orang penumpang, dengan total beban penumpang diperkirakan mencapai sekitar 240 kilogram. Faktor beban ini sangat penting karena mampu memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai konsumsi energi kendaraan dalam situasi penggunaan sehari-hari yang sebenarnya.

Hasil yang terukur melalui Multi Information Display (MID) menunjukkan angka rata-rata konsumsi energi sebesar 3,9 liter per 100 kilometer setelah menempuh jarak hampir 150 kilometer. Angka ini, jika dikonversikan, setara dengan sekitar 25,6 kilometer per liter (kpl). Capaian ini merupakan torehan yang sangat impresif, terutama untuk sebuah MPV berukuran besar yang dirancang untuk menampung banyak penumpang.

Perlu dicatat bahwa hasil pengujian ini secara alami berada di bawah angka klaim resmi yang dikeluarkan oleh BYD, yang menyebutkan bahwa BYD M6 DM mampu mencapai efisiensi hingga 65 kilometer per liter dalam kondisi ideal. Namun, perlu dipahami bahwa pengujian ini melibatkan berbagai tantangan seperti kemacetan lalu lintas perkotaan yang padat, kontur jalan yang berfluktuasi dengan tanjakan dan turunan, serta gaya mengemudi yang berubah-ubah mengikuti dinamika lalu lintas di jalan raya. Kondisi-kondisi tersebut secara signifikan mempengaruhi konsumsi energi kendaraan.

Dominasi Tenaga Listrik dalam Penggerak

Menariknya, selama sebagian besar perjalanan, mesin bensin tidak menjadi penggerak utama roda. Kapasitas baterai yang terisi penuh di awal perjalanan tercatat baru berkurang hingga mencapai 20 persen setelah kendaraan menempuh jarak sekitar 110 kilometer. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar tenaga penggerak selama fase awal perjalanan berasal dari motor listrik. Mesin bensin baru mulai mengambil peran aktifnya setelah baterai mencapai level tersebut, berfungsi sebagai generator untuk mengisi ulang daya baterai kendaraan.

Berdasarkan data dari MID, terungkap bahwa pada 50 kilometer terakhir perjalanan, konsumsi energi terbagi antara listrik dan bahan bakar. Tercatat konsumsi listrik sebesar 2,8 kWh per 100 kilometer, yang setara dengan sekitar 35,7 kilometer per kWh. Sementara itu, konsumsi bahan bakar pada fase ini adalah 3,1 liter per 100 kilometer, yang berarti sekitar 32,2 kilometer per liter.

Untuk memverifikasi konsumsi bahan bakar secara lebih akurat, metode pengujian full-to-full diterapkan. Setelah seluruh rangkaian uji coba selesai, segel pada tangki bahan bakar dibuka dan pengisian ulang dilakukan hingga tangki kembali penuh. Hasilnya sangat mengejutkan: pengisian ulang tangki bahan bakar hanya membutuhkan sekitar 0,36 liter Pertamax, dengan biaya yang sangat minim, yaitu sekitar Rp 4.400 (dengan asumsi harga Pertamax Rp 12.300 per liter). Laporan menyebutkan bahwa bensin sudah meluber saat pengisian ulang dilakukan, menandakan tangki telah terisi penuh.

Secara teknis, BYD M6 DM mengadopsi teknologi Dual Mode (DM), yang memprioritaskan konsep berkendara electric-first driving. Ini berarti motor listrik berperan sebagai penggerak utama roda, sementara mesin bensin dioptimalkan untuk beroperasi pada titik efisiensi tertingginya, berfungsi untuk menghasilkan energi tambahan saat dibutuhkan oleh sistem.

Dari sisi spesifikasi teknis, BYD M6 DM dibekali dengan mesin bensin berkapasitas 1.500 cc yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 72 kW dan torsi puncak 125 Nm. Dapur pacu ini kemudian dikombinasikan dengan motor listrik EHS 5.0 yang memiliki kemampuan berputar hingga 15.000 rpm. Kombinasi inilah yang memungkinkan BYD M6 DM untuk menawarkan pengalaman berkendara yang efisien dan bertenaga, baik dalam mode listrik murni maupun saat bensin dan listrik bekerja bersama. Pengujian ini memberikan bukti nyata bahwa klaim efisiensi BYD M6 DM bukanlah sekadar angka di atas kertas, melainkan dapat tercapai dalam kondisi penggunaan yang mendekati nyata, bahkan dengan berbagai tantangan medan jalan yang dihadapi.

Also Read

Tags