Manuver Finansial VinFast: Penjualan Aset dan Beban Utang, Sinyal Tata Kelola yang Perlu Dicermati

Ridwan Hanif

Perjalanan agresif VinFast Auto, produsen kendaraan listrik asal Vietnam, dalam satu dekade terakhir diwarnai dengan gelontoran investasi miliaran dolar. Kini, langkah strategis perusahaan untuk melepaskan dua fasilitas produksi utamanya dan mentransfer beban utang senilai US$ 7 miliar justru memicu sorotan tajam terhadap praktik tata kelola di bawah naungan Vingroup, konglomerat raksasa milik taipan Pham Nhat Vuong. Langkah ini, yang diumumkan belum lama ini, menimbulkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama mengingat rekam jejak Vuong dalam membangun imperium bisnisnya.

Pham Nhat Vuong, sosok yang memulai karirnya dari nol dengan berjualan mi instan di Ukraina pada era 1990-an, telah berhasil mentransformasi Vingroup menjadi entitas bisnis terbesar di Vietnam. Portofolio Vingroup mencakup berbagai sektor, mulai dari industri perhotelan, pariwisata melalui taman hiburan, hingga merambah ke sektor otomotif dengan VinFast yang kini sahamnya diperdagangkan di bursa Nasdaq. Dikenal dengan strategi bisnis yang melibatkan transaksi intragroup yang kompleks, VinFast sendiri kerap bergantung pada perusahaan-perusahaan terafiliasi dalam Vingroup untuk berbagai aspek operasional, termasuk pembiayaan dan penjualan produk.

Dalam sebuah transaksi yang melibatkan banyak pihak, VinFast mengumumkan akan mengalihkan kepemilikan unit manufaktur yang berlokasi di Vietnam. Aset pabrik tersebut akan dilepas seharga 13,3 triliun dong, setara dengan sekitar US$ 506 juta. Lebih signifikan lagi, para investor yang terlibat dalam kesepakatan ini juga bersedia mengambil alih sebagian besar utang VinFast, yang diperkirakan mencapai angka fantastis US$ 6,9 miliar. Melalui dokumen resmi yang diajukan kepada otoritas pengatur, perusahaan menyatakan bahwa langkah divestasi ini bertujuan untuk mengadopsi model bisnis yang lebih ramping (asset-light), memungkinkan VinFast untuk memfokuskan sumber dayanya pada kegiatan riset dan pengembangan produk inovatif, ketimbang terlibat langsung dalam proses produksi berskala besar.

Dampak langsung dari strategi ini adalah VinFast akan terbebas dari sebagian besar beban utangnya. Pihak Vingroup mengklaim bahwa biaya produksi merupakan salah satu pos pengeluaran terbesar yang berkontribusi pada kerugian VinFast yang mencapai US$ 3,9 miliar pada tahun lalu. Sejak didirikan pada tahun 2017, VinFast belum pernah mencatatkan keuntungan. Dengan beralihnya aset produksi ke pihak lain, neraca keuangan VinFast diharapkan menjadi jauh lebih sehat.

Namun, di balik narasi perbaikan kondisi finansial, transaksi ini justru memunculkan sejumlah pertanyaan krusial di kalangan analis pasar dan investor individu. Kompleksitas struktur kesepakatan, ditambah dengan keterlibatan investor yang memiliki hubungan erat dengan Vingroup dan Pham Nhat Vuong, menjadi poin utama kekhawatiran. Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah pengusaha properti ternama, Nguyen Hoai Nam. Bulan ini, Nam mengambil alih sebuah perusahaan yang akan menjadi pembeli lebih dari 95% unit manufaktur VinFast yang dilepas. Profil Nam sebelumnya juga pernah terkait erat dengan Vincom Retail, sebuah unit bisnis pusat perbelanjaan yang dulunya merupakan bagian dari Vingroup. Lebih lanjut, ia baru-baru ini menguasai Future Investment and Trading Development (FIRD), sebuah entitas yang memegang hak paten untuk generasi pertama kendaraan listrik VinFast, di mana Nam sendiri menguasai mayoritas sahamnya, yakni 92%.

Struktur transaksi ini juga melibatkan perusahaan bernama Ngoc Quy Investment and Trading Development. Meskipun namanya yang berarti ‘batu mulia’ menyiratkan nilai strategis, perusahaan ini pada akhirnya tidak memiliki saham dalam kesepakatan divestasi tersebut. Hal ini menimbulkan tanda tanya mengenai peran sebenarnya Ngoc Quy dalam seluruh rangkaian transaksi ini. Fakta bahwa Pham Nhat Vuong berperan sebagai pihak pembeli sekaligus penjual dalam transaksi ini semakin menambah lapisan kerumitan dan potensi konflik kepentingan.

Meskipun demikian, VinFast tetap akan mempertahankan aset-aset strategisnya. Pabrik perakitan kendaraan listrik di Indonesia dan India akan tetap berada di bawah kepemilikan VinFast, begitu pula dengan hak paten untuk generasi terbaru kendaraan listriknya. Pasca pengumuman kesepakatan pada 12 Mei, saham VinFast dilaporkan mengalami penurunan nilai sekitar 12%, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung berhati-hati.

Di sisi lain, tidak semua pandangan terhadap transaksi ini bersifat negatif. Dragon Capital, salah satu investor asing yang memiliki portofolio di Vingroup, menilai langkah ini sebagai perkembangan struktural yang positif. Menurut mereka, upaya pengurangan utang dan biaya operasional dapat memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan VinFast di masa depan.

Para analis industri otomotif, seperti Felipe Munoz, berpendapat bahwa dengan mengalihdayakan (outsourcing) sebagian besar proses manufaktur, VinFast dapat lebih mengoptimalkan sumber dayanya untuk berfokus pada pengembangan perangkat lunak (software) dan inovasi teknologi yang menjadi kunci di era kendaraan listrik. Selain itu, fasilitas pabrik yang baru tersebut berpotensi digunakan untuk memproduksi kendaraan dan baterai bagi pihak ketiga, membuka aliran pendapatan baru.

Sebagai catatan, pada tahun 2021, Vingroup pernah menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Foxconn, produsen elektronik ternama asal Taiwan, terkait jalur produksi VinFast. Namun, negosiasi tersebut tidak berujung pada kesepakatan. Vingroup sendiri telah menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk menjual pabrik VinFast di Vietnam kepada Foxconn maupun produsen otomotif lainnya. Keputusan untuk melepaskan aset produksi di Vietnam, meskipun menimbulkan pertanyaan, dilihat oleh sebagian pihak sebagai langkah taktis untuk menyehatkan keuangan perusahaan dan memposisikan VinFast agar lebih siap menghadapi persaingan global yang semakin ketat di industri kendaraan listrik.

Also Read

Tags