Menjelang laga penentu yang berpotensi mengunci gelar juara Super League, manajemen Persib Bandung mengeluarkan seruan tegas kepada para pendukungnya. Para "Bobotoh" diminta untuk menahan diri dari segala bentuk euforia yang melanggar aturan, khususnya larangan masuk ke area lapangan dan menyalakan suar atau flare. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap potensi sanksi berat yang mengintai, terutama setelah Persib baru saja menerima denda yang signifikan akibat kelalaian suporter di kompetisi sebelumnya.
Pertandingan krusial yang akan menentukan nasib Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada Sabtu, 23 Mei 2026, menghadapi Persijap Jepara, memang menjadi momen yang dinanti-nantikan. Hanya membutuhkan satu poin tambahan, tim berjuluk "Pangeran Biru" ini berada di ambang sejarah. Namun, antusiasme luar biasa dari para pendukungnya yang diprediksi akan memadati stadion justru menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi manajemen klub. Potensi pelanggaran regulasi yang seringkali berujung pada konsekuensi berat menjadi perhatian utama.
Kecemasan manajemen ini bukan tanpa alasan. Belum lama ini, Persib Bandung dijatuhi sanksi finansial sebesar Rp 5 miliar oleh AFC. Denda tersebut merupakan imbas dari aksi tidak tertib yang dilakukan oleh suporter saat tim kesayangan mereka berlaga di kompetisi Asian Champions League (ACL) 2. Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga dan mendorong manajemen untuk bertindak proaktif dalam mencegah terulangnya insiden serupa.
Demi menjaga nama baik klub dan menghindari sanksi lanjutan yang lebih merugikan, perwakilan manajemen PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) menyampaikan imbauan secara langsung kepada seluruh elemen suporter. Adhitia Putra Herawan, Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, menegaskan pentingnya menjaga ketertiban dan keselamatan selama perayaan yang diharapkan. Ia menekankan bahwa pertandingan dan potensi perayaan gelar juara adalah momen kebersamaan yang harus dijalani dengan penuh rasa hormat terhadap aturan dan regulasi yang berlaku.
"Ya kalau dari kami mengimbau untuk nanti tanggal 23, satu, ini adalah hajat dan perayaan kita semua. Utamakan keselamatan dan selama proses perayaan tolong ikuti aturan dan regulasi yang ada," ujar Adhitia Putra Herawan, menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kelancaran acara.
Perhatian khusus juga diberikan oleh manajemen terhadap tradisi menyalakan suar atau flare di tribun penonton. Pihak manajemen menyadari bahwa kebiasaan ini telah menjadi bagian dari budaya suporter beberapa komunitas. Namun, mereka juga memahami dampak negatif yang ditimbulkannya, baik bagi kenyamanan penonton lain maupun bagi jalannya siaran langsung pertandingan. Asap tebal yang dihasilkan oleh flare dapat mengganggu visibilitas, merusak estetika siaran televisi, dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi penonton yang hadir.
"Kami sangat melarang adanya nanti flare, petasan, dan segala macam, terutama ketika pertandingan berlangsung hingga perayaan angkat piala. Karena prosesi itu berhenti ketika pialanya diangkat," tegas Adhitia, menggarisbawahi larangan yang bersifat absolut terkait penggunaan benda-benda tersebut. Ia menambahkan, "Jadi jangan sampai nanti teman-teman, saya paham, ada beberapa komunitas yang memang secara kultur itu sangat mendorong ada penggunaan flare dan segala macam."
Manajemen Persib Bandung sangat berharap permohonan ini dapat diterima dan dipatuhi oleh seluruh lapisan suporter setia mereka. Adhitia Putra Herawan kembali menyampaikan harapannya agar para suporter dapat menahan diri dari kebiasaan menyalakan flare hingga momen pengangkatan trofi selesai, apabila Persib berhasil meraih gelar juara. "Tapi kami sangat memohon tolong jangan dilakukan sampai perayaan angkat pialanya selesai jika kita juara ya. Karena itu sangat mengganggu, gelap, terus asapnya juga segala macam, takutnya secara broadcasting enggak bagus, enggak banyak orang yang bisa menikmati," tutup Adhitia, menguraikan alasan di balik permintaan tersebut.
Keputusan ini mencerminkan upaya Persib Bandung untuk tidak hanya meraih prestasi di lapangan, tetapi juga menjaga integritas dan citra positif di mata federasi sepak bola nasional maupun internasional. Dengan dukungan penuh dari suporter yang tertib dan taat aturan, Persib Bandung diharapkan dapat merayakan gelar juara dengan cara yang membanggakan dan patut dicontoh. Kesadaran kolektif dari para Bobotoh akan menjadi kunci utama dalam memastikan perayaan kemenangan berjalan lancar, aman, dan bebas dari sanksi yang memberatkan.
Lebih jauh lagi, larangan ini juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan menonton yang lebih nyaman bagi seluruh penonton. Keramaian dan kegembiraan adalah hal yang wajar dalam sebuah pertandingan sepak bola, namun hal tersebut tidak boleh sampai mengorbankan kenyamanan dan keselamatan orang lain. Dengan mematuhi imbauan manajemen, para suporter Persib Bandung turut berkontribusi dalam membangun ekosistem sepak bola yang lebih sehat dan profesional di Indonesia.
Penting untuk diingat bahwa regulasi mengenai keselamatan dan ketertiban di stadion adalah hal yang sangat serius. Sanksi yang dijatuhkan oleh badan sepak bola, baik tingkat nasional maupun internasional, seringkali didasarkan pada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh suporter. Oleh karena itu, setiap tindakan yang berpotensi melanggar aturan harus dihindari demi kepentingan bersama. Persib Bandung, sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia, memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi contoh dalam hal kepatuhan terhadap regulasi.
Dengan menjaga ketertiban dan menghindari tindakan provokatif atau melanggar aturan, para Bobotoh tidak hanya membantu Persib terhindar dari sanksi, tetapi juga turut serta dalam membangun citra positif sepak bola Indonesia di kancah internasional. Momen perayaan juara seharusnya menjadi momen kebahagiaan murni, bukan justru diwarnai oleh insiden yang dapat merusak keindahan momen tersebut.
Harapan besar tertuju pada para Bobotoh untuk memahami dan mengindahkan imbauan manajemen ini. Semangat mendukung tim kesayangan harus tetap menyala, namun harus diiringi dengan kedewasaan dan kepatuhan terhadap aturan. Dengan begitu, Persib Bandung tidak hanya akan menjadi juara di lapangan, tetapi juga juara dalam hal pengelolaan suporter yang tertib dan bertanggung jawab.






