Perang Rusia-Ukraina Belum Reda, Zelensky Lontarkan Ucapan Mengejutkan

Sahrul

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kembali mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan publik internasional usai pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pekan lalu. Menurutnya, Moskow telah melakukan berbagai cara agar dialog damai antara dirinya dengan Putin tidak pernah terwujud.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut bahwa Putin sejatinya siap duduk satu meja dengan Zelensky jika agenda KTT telah matang. Namun, ia justru menuding pemimpin Ukraina itu kerap menolak berbagai tawaran.

Pekan Diplomasi Intens

Rentetan pertemuan tingkat tinggi mewarnai panggung internasional pekan lalu. Trump lebih dulu melakukan pembicaraan empat mata dengan Putin di Alaska, sebelum kemudian Zelensky bertolak ke Washington untuk menghadiri forum bersama para pemimpin Eropa. Dari rangkaian diplomasi ini, Trump menyimpulkan bahwa perang Rusia-Ukraina merupakan konflik paling sulit untuk dihentikan.

Trump sendiri sebelumnya telah membuka wacana pertemuan puncak Putin–Zelensky usai melakukan panggilan telepon dengan Presiden Rusia awal pekan ini. Washington bahkan berkoordinasi dengan NATO serta negara-negara Eropa guna merancang jaminan keamanan yang diyakini dapat menjadi fondasi bagi perdamaian Ukraina.

Ukraina Butuh Jaminan Keamanan

Zelensky menegaskan bahwa negaranya tidak hanya membutuhkan kesepakatan politik semata, melainkan juga jaminan keamanan konkret dari Barat agar kesepakatan damai tidak sekadar menjadi tulisan di atas kertas.

“Ukraina, berbeda dengan Rusia, tidak takut dengan pertemuan antar-pemimpin,” ujar Zelensky dikutip dari BBC, Minggu (24/8/2025).

“Ini adalah awal dari sebuah usaha besar, dan ini tidak mudah, karena jaminannya mencakup apa yang dapat diberikan mitra kami kepada Ukraina, seperti apa seharusnya tentara Ukraina, dan di mana kami dapat menemukan peluang bagi tentara untuk mempertahankan kekuatannya,” tuturnya.

Kepada BBC, Zelensky juga menanggapi keraguan sebagian masyarakat Ukraina terhadap upaya diplomasi ini.
“Mungkin saya pamer, tetapi Washington merasa berhasil. Mengapa? Karena ya, Ukraina membutuhkan jaminan keamanan. Tetapi tanpa AS, Eropa tidak akan memberikan semua yang bisa diberikannya kepada kita,” ucap dia.

“Saya tidak tahu bagaimana ini akan berakhir, tetapi ini jauh lebih baik daripada satu atau dua minggu yang lalu. Kami melihat persatuan di Washington. Ini masih bersifat politis, tetapi ini hanyalah langkah pertama bagi semua orang untuk mengupayakan jaminan keamanan,” sebutnya.

Respons NATO

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyebut langkah Trump sebagai upaya memecah kebuntuan konflik. Ia menegaskan bahwa aliansi pertahanan itu berkomitmen untuk memastikan Putin tidak lagi memiliki kesempatan melancarkan agresi ke Ukraina.
“Terlalu dini untuk mengatakan secara pasti apa yang akan menjadi hasilnya,” ucap Rutte.

Perang Masih Membara

Ironisnya, di tengah upaya diplomasi internasional, Rusia justru melancarkan salah satu serangan terbesar dalam beberapa minggu terakhir. Pada Kamis (21/8), Moskow mengerahkan 574 drone dan 40 rudal hanya dalam satu malam, meninggalkan jejak kehancuran yang luas.

Tak tinggal diam, Ukraina membalas dengan mengirimkan drone yang berhasil menghantam stasiun pompa minyak di Bryansk, Rusia. Serangan ini menghentikan sementara aliran minyak melalui pipa Druzhba yang menjadi jalur vital pasokan energi ke Hungaria dan Slovakia.

Jalan Panjang Perdamaian

Meski diplomasi terus bergerak, perang Rusia–Ukraina masih berlangsung layaknya api yang sulit dipadamkan. Di satu sisi, ada upaya negosiasi dan janji keamanan dari Barat, namun di sisi lain peluru, rudal, dan drone masih bertebaran di langit kedua negara.

Kata-kata Zelensky mencerminkan harapan sekaligus kegelisahan: di tengah kabut perang yang tak kunjung reda, ia menuntut jaminan nyata agar perdamaian tidak lagi menjadi sekadar mimpi.

Also Read

Tags