Upaya pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi kembali menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap adanya ketidakseimbangan dalam kerja dua mesin utama ekonomi: fiskal dan moneter. Purbaya menilai bahwa roda moneter masih belum bergerak seoptimal yang diharapkan, sehingga pemulihan ekonomi nasional berjalan tersendat.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (28/11/2025), Purbaya menyampaikan bahwa strategi utama pemerintah adalah membalikkan tren negatif peredaran uang di masyarakat menjadi positif. Ia menilai injeksi likuiditas yang dilakukan pemerintah melalui jalur fiskal sudah maksimal, namun dorongan dari mesin moneter masih lemah dan belum memberikan tenaga tambahan bagi perputaran uang di lapangan.
Purbaya menggambarkan kondisi tersebut layaknya kendaraan dengan satu mesin yang bekerja keras, sementara mesin lainnya belum diaktifkan. Ia menjelaskan bahwa fiskal telah “menggeber gas” dengan berbagai kebijakan, salah satunya memindahkan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari bank sentral ke perbankan, agar dana tersebut mengalir langsung ke masyarakat dan dunia usaha.
“Ini kan sebetulnya, ini udah negatif pertumbuhan uang kita jadi kita susah dan saya sekarang mencoba memperbaiki ini. Itu pun masih belum optimal karena masih ada sisi mesin ekonomi kita yang belum membantu dari si moneter. Ini injeksi positif masih dari sisi fiskal aja,” kata Purbaya.
Namun, ia mengaku geram karena bank sentral justru menarik likuiditas dalam jumlah besar melalui berbagai instrumen. Menurutnya, dana perbankan yang seharusnya dapat mengalir ke sektor riil malah mengendap di neraca Bank Indonesia.
“Tapi kan uang di bank sentral masih banyak. Mereka menyerap uang dari perbankan Rp1.000 triliun sekarang di SRBI dan open market operation-nya,” tegasnya.
Kondisi ini, menurut Purbaya, membuat peredaran uang primer atau M0 tidak tumbuh setinggi yang semestinya. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, pertumbuhan M0 adjusted pada Oktober 2025 berada di level 14,4% year-on-year, melambat dari bulan sebelumnya yang mencapai 18,6%. Padahal, dalam situasi ekonomi saat ini, Purbaya menilai pertumbuhan hingga 20% masih aman dan tidak berpotensi memicu inflasi berlebih.
“Ini kan saya pikir dalam keadaan sekarang tumbuh 20 persen untuk M0 masih bisa ditolerir tanpa menimbulkan inflasi yang berlebihan atau tanpa ekonomi kita kepanasan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta dukungan Komisi XI DPR RI untuk mendorong Bank Indonesia agar lebih agresif dalam perannya sebagai mesin moneter. Purbaya ingin agar bank sentral ikut membantu mendorong perputaran uang sehingga pemulihan ekonomi berjalan lebih sinkron.
“Kan yang situ (BI) di bawah Komisi XI juga. Coba dia diketuk-ketuk sedikit biar kita bisa jalan bersama,” pungkasnya.
Pernyataan Purbaya ini menegaskan kembali bahwa koordinasi fiskal dan moneter sangat krusial, terlebih di tengah upaya pemerintah menstabilkan ekonomi. Jika kedua mesin berjalan beriringan, diharapkan roda ekonomi nasional dapat bergerak lebih cepat dan stabil menuju pemulihan yang lebih kuat.






