Nilai Tukar Anjlok, Negara Kaya Minyak di Arab Diterpa Kerusuhan dan Demo Berdarah

Sahrul

Guncangan ekonomi yang dipicu ambruknya nilai mata uang kembali menyeret Iran ke pusaran instabilitas. Negara yang dikenal kaya akan cadangan minyak itu kini menghadapi tekanan sosial yang kian memanas, seiring melonjaknya biaya hidup dan melemahnya daya beli masyarakat. Protes yang awalnya bernuansa ekonomi berubah menjadi bentrokan berdarah, meninggalkan korban jiwa dan luka-luka.

Gelombang demonstrasi mulai muncul di Teheran pada Minggu (28/12/2025). Aksi tersebut dipantik oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, inflasi yang menembus level tinggi, serta stagnasi ekonomi yang membuat kehidupan warga semakin tercekik. Seperti api yang tertiup angin, protes dengan cepat menjalar ke berbagai kota lain, termasuk wilayah barat dan tengah Iran.

Kantor berita Fars melaporkan bentrokan keras terjadi di sejumlah daerah. Dua orang dilaporkan tewas di kota Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, sementara tiga korban jiwa lainnya jatuh di Azna, Provinsi Lorestan, akibat konfrontasi dengan aparat keamanan. Situasi ini mencerminkan rapuhnya keseimbangan sosial di tengah tekanan ekonomi yang terus memburuk.

Dalam laporannya, Fars juga menyebut sebagian pengunjuk rasa melampiaskan kemarahan dengan melempar batu ke gedung-gedung pemerintah, bank, masjid, hingga kantor gubernur. Aparat keamanan merespons dengan gas air mata dan melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang yang dituding sebagai penggerak utama aksi.

“Beberapa pengunjuk rasa mulai menyerang gedung-gedung administrasi kota,” tulis Fars, dikutip Jumat (2/1/2026). Media tersebut menambahkan bahwa sejumlah bangunan mengalami kerusakan serius akibat kerusuhan.

Sementara itu, televisi pemerintah Iran mengonfirmasi jatuhnya korban dari pihak aparat. Seorang anggota pasukan keamanan dilaporkan tewas di kota Kouhdasht. Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Said Pourali, menyebut korban merupakan anggota Basij berusia 21 tahun.

“Seorang anggota Basij tewas tadi malam oleh para perusuh saat membela ketertiban umum,” ujar Pourali, seraya menambahkan bahwa 13 personel polisi dan Basij lainnya terluka akibat lemparan batu selama demonstrasi, seperti dikutip AFP.

Basij sendiri merupakan pasukan paramiliter sukarelawan yang berada di bawah komando Garda Revolusi Iran. Dalam setiap gelombang protes, media pemerintah kerap menggunakan istilah “perusuh” untuk menyebut para demonstran—label yang kembali muncul dalam laporan kerusuhan kali ini.

Ketegangan juga dilaporkan terjadi di kota Hamedan. Kantor berita Tasnim menyebut adanya pembakaran sepeda motor serta upaya yang gagal untuk membakar sebuah masjid. Di ibu kota, aparat keamanan melakukan operasi terkoordinasi yang berujung pada penangkapan sedikitnya 30 orang di salah satu distrik Teheran.

Meski intensitas unjuk rasa dinilai lebih terbatas dibandingkan kerusuhan besar pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini, rangkaian protes terbaru ini tetap membuat pemerintah waspada. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa tuntutan ekonomi yang disuarakan masyarakat memiliki dasar yang sah.

“Dari perspektif Islam, jika kita tidak menyelesaikan masalah mata pencaharian rakyat, kita akan berakhir di Neraka,” kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, sembari mendesak kabinetnya mengambil langkah nyata memperbaiki kondisi ekonomi.

Namun di saat yang sama, pemerintah menegaskan tidak akan mentoleransi aksi yang dianggap mengarah pada kekacauan. Jaksa Agung Iran menegaskan bahwa protes ekonomi yang berlangsung damai diperbolehkan, tetapi tindakan yang mengancam stabilitas nasional akan dihadapi dengan “respons yang tegas dan proporsional”.

Akar persoalan yang memicu kemarahan publik tak terlepas dari kondisi ekonomi Iran yang kian terpuruk. Nilai tukar rial dilaporkan telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya terhadap dolar AS dalam kurun satu tahun terakhir. Inflasi tahunan pada Desember tercatat mencapai 52% menurut Pusat Statistik Iran, membuat biaya hidup melambung dan menekan masyarakat seperti beban berat yang terus bertambah.

Di tengah badai ekonomi tersebut, Iran kini dihadapkan pada tantangan ganda: meredam gejolak sosial sekaligus mencari jalan keluar dari krisis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan warganya.

Also Read

Tags