Gelombang protes anti-pemerintah yang kembali menyelimuti Iran menghadirkan satu sosok lama ke panggung publik. Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang tumbang dalam Revolusi Islam 1979, muncul dari pengasingan politiknya dan menyampaikan pesan perubahan yang berskala besar. Di tengah ketidakpuasan rakyat yang meluas, ia menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran dalam masa transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis.
Pahlavi, yang kini berusia 65 tahun, telah bermukim di Amerika Serikat sejak sebelum ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi, digulingkan hampir setengah abad lalu. Meski lama terpisah dari tanah kelahirannya, ia tetap aktif mengikuti dinamika politik Iran. Melalui serangkaian pesan video yang diunggah di platform X, Pahlavi memuji keberanian warga yang turun ke jalan, sembari menyerukan berakhirnya pemerintahan ulama yang telah mencengkeram kekuasaan selama puluhan tahun.
“Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut,” ujar Pahlavi dalam salah satu pesan terbarunya, seperti dikutip Reuters, Senin (12/1/2026).
Kemunculan Pahlavi ibarat gema dari masa lalu yang kembali bergema di tengah krisis hari ini. Namun, seberapa besar dukungan riil yang ia miliki di dalam negeri masih menjadi tanda tanya. Pemerintah Amerika Serikat pun belum memberikan sokongan resmi terhadap seruan politik yang ia gaungkan, memilih bersikap hati-hati di tengah situasi yang sensitif.
Meski demikian, sejumlah video terverifikasi di media sosial menunjukkan sebagian demonstran meneriakkan slogan “Hidup Shah!”, yang mengindikasikan adanya nostalgia atau simpati terhadap dinasti Pahlavi. Namun suara ini bukanlah arus utama. Mayoritas massa aksi justru menitikberatkan tuntutan pada perubahan sistem secara menyeluruh, dengan pekikan seperti “Turunkan diktator!” yang diarahkan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Gelombang protes terbaru ini tidak lahir dari ruang hampa. Tekanan ekonomi yang semakin mencekik kehidupan masyarakat menjadi pemicu utama. Bertahun-tahun sanksi internasional telah melemahkan sendi perekonomian Iran, diperparah oleh konflik bersenjata singkat selama 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel dan kemudian Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Kombinasi faktor tersebut menciptakan kemarahan publik yang kini tumpah ke jalanan.
Tidak semua warga melihat Reza Pahlavi sebagai jawaban. Seorang warga bernama Azadeh, 27 tahun, menyampaikan pandangan skeptis terhadap kemungkinan kembalinya figur monarki ke panggung kekuasaan.
“Semua yang dipelajari Reza Pahlavi tentang memerintah negara berasal dari ayahnya yang gagal karena suatu alasan. Kita pernah memiliki Pahlavi, sekarang saatnya untuk negara yang demokratis,” kata Azadeh.
Nama Pahlavi sendiri bukanlah wajah baru dalam setiap gelombang ketegangan politik Iran. Ia kerap menyuarakan seruan perubahan pada momen-momen krisis, termasuk demonstrasi besar pada 2009 serta protes nasional 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini. Namun, dalam berbagai episode tersebut, dukungan terbuka terhadap restorasi monarki relatif terbatas.
Situasi oposisi Iran saat ini pun jauh berbeda dibandingkan Revolusi 1979. Kala itu, perlawanan terhadap monarki dipersatukan oleh figur Ayatollah Ruhollah Khomeini. Kini, oposisi terpecah ke dalam berbagai kelompok dan kepentingan, tanpa satu pemimpin tunggal yang mampu menjadi jangkar persatuan.
Dalam salah satu pidatonya yang diunggah pada 23 Juni tahun lalu, Pahlavi kembali menegaskan visi politiknya dan kesediaannya memimpin proses transisi.
“Hanya ada satu jalan untuk mencapai perdamaian: Iran yang sekuler dan demokratis. Saya di sini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan sebangsa saya untuk memimpin mereka di jalan menuju transisi demokrasi,” kata Pahlavi.
Lahir pada 1960 dan dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967, Pahlavi tumbuh dalam lingkungan kemewahan istana. Gaya hidup monarki kala itu menjadi salah satu pemantik kemarahan publik, terutama di tengah inflasi tinggi dan jurang kesenjangan sosial yang lebar. Rezim ayahnya juga dikenang karena represi keras melalui aparat keamanan SAVAK, yang meninggalkan luka mendalam dalam ingatan kolektif masyarakat Iran.
Di pengasingan, Pahlavi memperoleh dukungan signifikan dari diaspora Iran, khususnya yang bermukim di Amerika Serikat. Ia juga sempat mengunjungi Israel pada 2023 dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, serta secara terbuka mendukung serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, meski menegaskan pentingnya dukungan yang lebih besar bagi rakyat Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mendukung rakyat Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran. Namun, ia juga mengaku “tidak yakin apakah akan tepat” untuk bertemu dengan Reza Pahlavi. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap ambigu Washington di tengah gejolak politik yang masih terus berkembang di Teheran.






