Indonesia Bersiap Lepas 1 Juta Ton Beras ke Pasar Global

Sahrul

Indonesia tengah bersiap membuka babak baru dalam perdagangan pangan dengan rencana ekspor beras dalam jumlah besar. Tahun ini, pemerintah melalui Perum Bulog menyiapkan pengiriman hingga 1 juta ton beras ke pasar internasional. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa produksi beras nasional tidak hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing untuk menembus pasar luar negeri.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan bahwa beras yang disiapkan untuk ekspor bukanlah beras sembarangan. Komoditas yang akan dilepas ke pasar global tersebut telah melalui proses seleksi ketat dan dipastikan memenuhi standar mutu tinggi. Dengan kualitas premium sebagai andalan, Bulog ingin menjaga reputasi beras Indonesia di mata negara tujuan.

Dalam rangka membuka jalur ekspor, Bulog telah menjalin komunikasi awal dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara. Upaya tersebut dilakukan melalui pertemuan dengan para atase perdagangan negara-negara ASEAN. Namun, Rizal mengakui bahwa pembahasan masih berada pada tahap awal sehingga belum menghasilkan keputusan konkret.

“Nah untuk hasilnya, kami belum ada respon dari masing-masing kedutaan, khususnya para atase perdagangan, sejauh mana. Mungkin kan mereka juga baru rapat sekali nih. Kan mereka harus menawarkan lagi ke negara-negara yang terkait,” ujar Rizal kepada wartawan di kantornya, Jakarta Selatan, Minggu (11/1/2026).

Menurut Rizal, proses diplomasi perdagangan memang memerlukan waktu. Setiap negara perlu melakukan kajian internal sebelum memutuskan untuk menerima pasokan beras dari Indonesia. Oleh karena itu, kepastian mengenai negara tujuan ekspor diperkirakan baru akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan.

“Nanti mungkin dalam beberapa minggu atau berapa bulan ke depan mungkin sudah ada jawaban dari beberapa negara-negara tersebut,” tambah Rizal.

Sambil menunggu respons dari mitra dagang potensial, Bulog telah lebih dulu menyiapkan stok beras yang akan dialokasikan khusus untuk ekspor. Rizal menegaskan bahwa volume yang disiapkan sesuai dengan arahan pemerintah, khususnya dari Menteri Pertanian yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas). Beras yang disimpan tersebut diklaim memiliki kualitas premium dan siap dilepas kapan saja ketika kesepakatan ekspor tercapai.

“Bulog sudah menyiapkan 1 juta sesuai dengan arahan Bapak Mentan selaku Kepala Bapanas, kami stokkan 1 juta untuk ekspor nanti itu dengan kualitas premium,” terang ia.

Rencana ekspor dalam jumlah besar ini sempat memunculkan pertanyaan publik terkait ketersediaan beras di dalam negeri. Menjawab kekhawatiran tersebut, Rizal memastikan bahwa ketahanan pangan nasional tetap berada dalam kondisi aman. Ia menegaskan bahwa pelepasan beras ke pasar luar negeri tidak akan mengganggu kebutuhan domestik, termasuk menjelang periode konsumsi tinggi seperti hari besar keagamaan.

Saat ini, cadangan beras pemerintah (CBP) tercatat mencapai 3,25 juta ton. Angka tersebut dinilai lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat. Bahkan setelah dikurangi kuota ekspor sebesar 1 juta ton, stok nasional masih berada pada level yang aman.

“Jadi stok untuk Imlek, terus kemudian masuk Ramadan, Lebaran. Kami yakinkan aman. Dengan stok kalau kepotong nanti 1 juta ton untuk ekspor itu, masih sisa 2,25 juta ton. Aman,” imbuh Rizal.

Rencana ekspor beras ini sekaligus mencerminkan perubahan posisi Indonesia dalam peta pangan regional. Dari negara yang selama bertahun-tahun fokus menjaga swasembada, Indonesia kini mulai melangkah sebagai pemain aktif dalam perdagangan beras internasional. Jika terealisasi, ekspor ini bukan hanya soal angka dan volume, tetapi juga menjadi simbol kepercayaan diri bahwa lumbung pangan nasional cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan rakyat sekaligus menjangkau pasar global.

Also Read

Tags