Ancaman Trump terhadap Iran: Mengapa Serangan Militer Bukan Jalan Mudah

Sahrul

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras di panggung geopolitik. Ia menyatakan tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer terhadap Iran, terutama dengan dalih mendukung gelombang protes yang muncul di negara tersebut. Namun, di balik nada tinggi dari Gedung Putih, kondisi faktual di lapangan justru menunjukkan jurang lebar antara retorika politik dan kemampuan nyata yang dimiliki Washington saat ini.

Euforia Trump menyusul keberhasilan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro tampaknya ikut membentuk keyakinannya. Akan tetapi, banyak analis menilai Iran bukanlah Venezuela. Negeri Persia itu ibarat benteng berlapis yang jauh lebih sulit ditembus. Rekam jejak intervensi militer Amerika Serikat di Timur Tengah yang kerap berujung kegagalan menjadi bayang-bayang panjang yang membatasi ruang gerak ambisi Trump.

Sejumlah faktor krusial membuat opsi militer terhadap Iran dinilai bukan perkara sederhana, bahkan cenderung berisiko tinggi.

Kehilangan Taring di Kawasan

Salah satu hambatan utama adalah absennya kekuatan tempur utama AS di kawasan Timur Tengah. Sejak Oktober lalu, Washington tercatat tidak menempatkan satu pun kapal induk di wilayah tersebut. Kondisi ini muncul setelah dua tahun pengerahan armada secara terus-menerus pasca-serangan Hamas ke Israel.

Kapal induk USS Gerald R. Ford telah ditarik ke kawasan Karibia pada musim panas, sementara USS Nimitz kembali ke pantai barat Amerika Serikat pada musim gugur. Tanpa kehadiran kapal induk sebagai pangkalan udara bergerak, setiap opsi serangan udara harus mengandalkan pangkalan darat di negara-negara sekutu. Langkah ini bukan tanpa konsekuensi, karena negara tuan rumah seperti Qatar, Bahrain, atau Arab Saudi harus menanggung risiko politik dan keamanan yang besar.

Ancaman Rudal yang Masih Mengintai

Meski kekuatan militer Iran disebut mengalami degradasi setelah perang 12 hari melawan Israel pada musim panas lalu, Teheran belum kehilangan daya gigitnya. Iran diperkirakan masih menyimpan sekitar 2.000 rudal balistik berat yang tersembunyi di pangkalan bawah tanah kawasan pegunungan.

Jika diluncurkan secara masif, rudal-rudal tersebut berpotensi menembus sistem pertahanan udara Amerika Serikat maupun Israel. Ancaman balasan inilah yang membuat setiap skenario serangan harus dihitung dengan sangat cermat, karena satu kesalahan dapat memicu eskalasi regional yang lebih luas.

Kebuntuan Menentukan Sasaran

Masalah berikutnya adalah soal target. Jika Amerika Serikat memilih jalan serangan udara, pertanyaan mendasar segera muncul: apa yang harus dibom? Menyasar wilayah perkotaan jelas berisiko menelan korban sipil. Sebaliknya, kehati-hatian berlebihan justru bisa membuat operasi kehilangan dampak strategis.

Lebih dari itu, sejarah panjang hubungan Iran-AS menunjukkan bahwa serangan asing justru berpotensi menyatukan rakyat Iran. Sejak kudeta yang didukung CIA pada 1953, narasi “agresor luar” kerap menjadi bahan bakar nasionalisme Iran, sesuatu yang justru bisa memperkuat posisi pemerintah di dalam negeri.

Teheran Bukan Caracas

Opsi operasi khusus ala “penangkapan Maduro” juga dinilai nyaris mustahil diterapkan di Iran. Menangkap atau melumpuhkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei jauh lebih rumit dibandingkan operasi di Venezuela. Secara geografis, Teheran terletak ratusan mil dari perbatasan, membuat operasi darat menjadi sangat sulit.

“Pemerintah Iran menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki ‘garis merah’. Mereka akan mengamankan jalanan dengan cara apa pun, dan jumlah kantong mayat yang luar biasa menunjukkan tekad mereka,” ujar Roxane Farmanfarmaian, pakar dari Royal United Services Institute.

Pernyataan tersebut menggambarkan kerasnya respons aparat Iran terhadap ancaman internal maupun eksternal, sekaligus menjadi peringatan bagi siapa pun yang menganggap perubahan rezim dapat dicapai dengan cepat.

Perang Tanpa Peluru

Dengan tingginya risiko perang terbuka, opsi non-militer mulai dipertimbangkan. Salah satu pendekatan yang mencuat adalah serangan siber. Trump sebelumnya mengklaim pernah memadamkan listrik di Caracas untuk memuluskan operasi terhadap Maduro. Namun, pendekatan serupa di Iran justru dinilai kontraproduktif, karena pemadaman listrik lebih banyak menyengsarakan warga sipil ketimbang melumpuhkan struktur kekuasaan.

Alternatif lain yang dibahas adalah membanjiri Iran dengan akses internet satelit Starlink milik Elon Musk guna menembus blokade informasi pemerintah. Meski terdengar menjanjikan, para pakar keamanan siber meragukan efektivitasnya. Penyebaran informasi saja dinilai belum tentu cukup untuk menghentikan kekerasan di jalanan atau menggoyang fondasi kekuasaan.

Keseluruhan gambaran ini menunjukkan bahwa ultimatum Trump terhadap Iran lebih menyerupai dentuman retorika ketimbang rencana yang siap dijalankan. Serangan militer, alih-alih menjadi solusi instan, justru berpotensi membuka babak krisis yang jauh lebih kompleks dan sulit dikendalikan.

Also Read

Tags