Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap tindakan yang mengarah pada serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan dipandang sebagai pemicu perang terbuka. Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyinggung kemungkinan munculnya pemimpin baru di Iran.
Bagi Teheran, posisi Khamenei bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan poros utama negara. Ancaman terhadap dirinya diibaratkan seperti menarik sumbu bahan peledak yang dapat memicu ledakan konflik berskala luas, tidak hanya berdampak pada pemerintahan, tetapi juga menyentuh martabat bangsa Iran secara keseluruhan.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama saja dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran,” kata Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X, dilansir AFP, Senin (19/1/2026).
Pernyataan Pezeshkian mempertegas sikap garis keras Iran dalam menghadapi tekanan eksternal. Bagi pemerintah Iran, wacana penggantian pemimpin tertinggi bukan sekadar opini politik, melainkan bentuk ancaman langsung terhadap kedaulatan negara.
Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei juga menyampaikan tudingan serius terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menyebut aktor-aktor yang berafiliasi dengan kedua negara tersebut bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa dalam gelombang protes anti-pemerintah yang mengguncang Iran selama berminggu-minggu. Demonstrasi yang awalnya berlangsung sebagai ekspresi ketidakpuasan publik berubah menjadi kerusuhan yang meluas.
“Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang selama protes yang mengguncang Iran selama lebih dari dua minggu,” kata Khamenei seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu (18/1).
Khamenei menilai kekerasan tersebut bukan semata gejolak domestik, melainkan bagian dari skenario yang melibatkan kekuatan asing. Ia menuding Washington dan Tel Aviv berperan aktif dalam memperkeruh situasi, sehingga protes yang terjadi menjelma menjadi konflik berdarah.
Lebih lanjut, Khamenei juga melontarkan kritik tajam terhadap Presiden AS Donald Trump, yang ia sebut sebagai sosok kriminal. Menurutnya, peristiwa terbaru di Iran menunjukkan perbedaan mencolok dibandingkan gejolak sebelumnya.
“Pemberontakan anti-Iran terbaru berbeda karena presiden AS secara pribadi terlibat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin menegaskan kerasnya sikap Teheran dalam membaca dinamika regional dan internasional. Dengan meningkatnya retorika saling serang antara Iran dan Amerika Serikat, kawasan Timur Tengah kembali berada di persimpangan rawan, di mana satu pernyataan dapat menjadi bara yang menyulut api konflik lebih besar.






