Bencana tanah longsor melanda kawasan Kampung Pasir Kuning, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dan meninggalkan jejak kehancuran yang luas. Material tanah yang runtuh dari lereng bukit mengalir seperti arus lumpur raksasa, menelan puluhan rumah warga beserta penghuninya. Di tengah kepanikan tersebut, tercatat pula anggota TNI Angkatan Laut dari Korps Marinir yang ikut terdampak dalam peristiwa memilukan ini.
Peristiwa longsor terjadi pada Sabtu (24/1) sekitar pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap. Hujan deras yang turun tanpa jeda selama dua hari sebelumnya, disertai terpaan angin kencang, diduga menjadi pemicu utama labilnya struktur tanah di kawasan tersebut.
Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, mengungkapkan bahwa longsor berpusat di satu titik permukiman padat penduduk.
“Kejadiannya sekitar jam 03.00 pagi, pusatnya di RT 05/11. Memang sudah dua hari ini hujan terus,” kata Nur Awaludin Lubis saat ditemui detikJabar, Sabtu (24/1).
Puluhan Rumah Tertimbun Material Longsor
Berdasarkan pendataan awal di lapangan, bencana ini menyebabkan puluhan bangunan warga terkubur di bawah timbunan tanah. Namun, angka pasti masih terus diverifikasi seiring berlangsungnya proses evakuasi dan penyisiran lokasi.
“Untuk rumah yang tertimbun informasi awal ada 30, cuma kita masih terus pastikan. Kemudian kita masih belum bisa memastikan berapa korbannya ya,” ujar Nur Awaludin.
Petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan masih berjibaku di tengah medan yang sulit, berupaya membuka akses menuju area terdampak.
23 Marinir Dilaporkan Ikut Tertimbun
Dampak longsor Cisarua tak hanya dirasakan warga sipil. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali membenarkan bahwa puluhan prajurit Marinir turut menjadi korban dalam bencana tersebut.
“Saya menyampaikan terkait dengan kejadian bencana alam yang terjadi di Jawa Barat, di Desa Soreang. Memang terdapat 23 anggota marinir yang tertimbun longsor,” kata Ali usai rapat kerja Komisi I DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Empat Jenazah Marinir Ditemukan
Upaya pencarian yang dilakukan secara bertahap membuahkan hasil, meski dibayangi kabar duka. Hingga saat ini, empat anggota Marinir telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, prajurit lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari.
“Saat ini sudah ditemukan baru empat personel dalam kondisi meninggal dunia dan lain belum ditemukan, masih diadakan upaya pencarian terus,” ujarnya.
Sedang Jalani Latihan Pratugas
KSAL Muhammad Ali menjelaskan bahwa keberadaan para prajurit Marinir di Cisarua bukan tanpa alasan. Mereka tengah mengikuti latihan khusus sebelum menjalankan penugasan strategis menjaga wilayah perbatasan negara.
“Karena mereka sedang melaksanakan latihan pratugas untuk dikirim ke melaksanakan pengamanan perbatasan RI-PNG (Papua Nugini), memang dilaksanakan latihan di sana,” kata Ali seusai rapat bersama Komisi I DPR.
Evakuasi Terkendala Cuaca dan Akses
Proses evakuasi masih terus berlangsung, meski dihadapkan pada berbagai hambatan. Kondisi cuaca yang belum bersahabat serta akses jalan sempit membuat alat berat belum bisa menjangkau lokasi longsor.
“Alat berat memang belum bisa masuk, karena kondisi cuaca dan jalan yang kecil. Tapi ini akan kita laksanakan pencarian dengan teknologi dengan drone dan thermal dan anjing pelacak,” ujar Ali.
Hingga kini, kawasan Cisarua masih berada dalam status waspada, mengingat potensi longsor susulan tetap mengintai. Aparat mengimbau masyarakat sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama.






