Harga emas global maupun domestik tengah berada dalam fase yang kerap disebut sebagai periode bersejarah. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai “aset pelabuhan aman” kini menjelma bak magnet kuat bagi investor, seiring lonjakan harga emas dunia yang menembus rekor tertinggi di level USD 5.000 per troy ons. Dampaknya terasa langsung di dalam negeri, di mana harga emas batangan melesat melampaui Rp 3.000.000 per gram.
Kenaikan tajam ini bukan sekadar angka di papan perdagangan. Ia menjadi cermin dari kegelisahan global sekaligus pemicu meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, baik sebagai instrumen lindung nilai dari gejolak ekonomi maupun sebagai sarana investasi jangka panjang yang dianggap relatif tahan banting.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuabi menilai tren penguatan harga emas belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Menurutnya, dalam beberapa tahun ke depan, emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan reli harga. Bahkan, ia memproyeksikan harga emas domestik berpotensi menembus level Rp 4,2 juta per gram pada 2026.
“Perkiraan (harga emas Antam) Rp 4,2 juta per gram. Masyarakat sudah melek teknologi dan bergegas beli logam mulia baik fisik maupun emas digital di bullion bank yaitu BSI dan pegadaian,” ujar Ibrahim kepada kumparan, Kamis (29/1).
Ibrahim menjelaskan, lonjakan permintaan emas tidak terlepas dari meningkatnya literasi keuangan masyarakat serta kemudahan akses pembelian melalui platform digital. Jika dulu emas identik dengan kepingan fisik yang disimpan di lemari besi, kini logam mulia juga hadir dalam bentuk digital yang bisa dibeli dan dipantau hanya lewat gawai. Perubahan ini membuat arus permintaan bergerak lebih cepat, layaknya arus listrik yang menemukan jalur konduktor baru.
Dari sudut pandang global, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) World Gold Council, Joseph Cavatoni, memandang kenaikan harga emas saat ini bukan sekadar hasil spekulasi sesaat. Menurutnya, lonjakan tersebut mencerminkan perubahan besar dalam perilaku investor global yang tengah merespons ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang kian kompleks.
Cavatoni menilai harga emas yang menembus USD 5.000 per troy ons mencerminkan reposisi investor yang sebelumnya memiliki porsi emas relatif rendah, namun kini kembali menjadikan emas sebagai pilar utama dalam menjaga ketahanan portofolio. Dalam 30 hari terakhir saja, harga emas melonjak lebih dari USD 500, menunjukkan betapa cepat sentimen pasar berbalik arah.
“Risiko terbesar bagi emas adalah membaiknya sentimen risiko global secara signifikan, terutama jika pertumbuhan ekonomi menguat tanpa disertai ketegangan geopolitik. Kepastian jalur pertumbuhan, berkurangnya ketidakpastian, serta pulihnya kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan dapat mengurangi urgensi kepemilikan aset defensif,” kata Cavatoni dalam keterangan tertulis.
Meski demikian, Cavatoni menuturkan selama ketidakpastian global, dinamika kebijakan yang disruptif, serta kebutuhan diversifikasi masih bertahan, emas diperkirakan tetap bertengger di level tinggi hingga 2026 dan terus menguji rekor baru.
“Kebutuhan diversifikasi, emas diprediksi akan tetap berada di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji level baru pada 2026,” ungkap Cavatoni.
Di dalam negeri, lonjakan harga emas memunculkan fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan masyarakat. Banyak individu terdorong membeli emas karena takut tertinggal momentum, seolah kereta emas akan segera berlalu tanpa menunggu penumpang yang ragu. Namun, kondisi ini dinilai perlu disikapi secara hati-hati.
Perencana Keuangan Mike Rini mengingatkan, membeli emas saat harga berada di puncak bukanlah langkah ideal jika tujuan utamanya mengejar keuntungan jangka pendek dari selisih harga beli dan jual. Ia menekankan bahwa emas tetap memiliki sifat fluktuatif dan berpotensi mengalami koreksi setelah mencetak rekor tertinggi. Kendati demikian, emas masih relevan sebagai instrumen diversifikasi dan pelindung nilai dalam jangka menengah hingga panjang.
“Jadi, membeli emas saat ini masih bisa menguntungkan jika, ini hanya jika ya, jika tujuannya sebagai bagian dari strategi alokasi aset yang seimbang,” kata Mike.
Menurut Mike, pembelian emas masih dapat dianggap masuk akal apabila diarahkan untuk tujuan jangka panjang, seperti dana pendidikan anak atau perlindungan nilai terhadap inflasi. Dalam horizon waktu yang panjang, naik-turun harga jangka pendek tidak menjadi ancaman utama. Sebaliknya, membeli emas dalam jumlah besar untuk tujuan spekulasi jangka pendek dinilai berisiko tinggi, terutama ketika harga sudah berada di level puncak.
Mike juga menyoroti risiko utama bagi investor pemula yang masuk ke pasar emas di tengah harga tinggi, yakni timing risk. Upaya menebak waktu terbaik untuk masuk dan keluar pasar sering kali berujung pada keputusan emosional yang merugikan, terutama ketika didorong oleh FOMO tanpa perhitungan matang.
“Jadi, jangan overconfidence bahwa ketika melihat statistik harganya naik terus, kita tunggu-tunggu sampai tinggi, masih ragu-ragu, begitu sudah ketinggian, mulai panik beli, takut ketinggalan, baru yakinnya sekarang. Itu timing market, mencoba untuk masuk ke market pada harga yang paling tepat,” ungkap Mike.
Sementara itu, Perencana Keuangan Andy Nugroho berpandangan bahwa membeli emas di fase harga tinggi masih menyimpan potensi keuntungan, terutama jika mempertimbangkan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang kian tidak menentu.
“Membeli emas di fase ini masih berpotensi untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual kembalinya, mengingat kondisi geopolitik dan ekonomi global yang justru semakin tidak menentu sehingga dapat mendorong harga emas untuk terus naik,” jelas Andy.
Andy mengakui risiko membeli emas di puncak harga tetap ada, khususnya jika harga terkoreksi saat emas hendak dijual kembali. Namun, karakter emas sebagai aset lindung nilai membuat potensi kerugian tersebut dinilai tidak terlalu fatal dalam jangka panjang.
Terkait waktu pembelian, Andy menekankan prinsip dasar investasi bahwa momentum terbaik untuk memulai adalah secepat mungkin.
“Salah satu prinsip berinvestasi adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi adalah kemarin. Apabila kemarin kita belum berinvestasi maka waktu yang tepat memulainya adalah hari ini,” tutur Andy.
Dalam situasi FOMO seperti saat ini, Andy menyarankan masyarakat menyesuaikan strategi pembelian dengan kemampuan finansial masing-masing. Pembelian dalam jumlah besar sekaligus memang berpotensi memberi keuntungan lebih besar saat harga naik, namun juga membawa risiko yang sepadan. Sebaliknya, pembelian bertahap—melalui cicilan emas di bank syariah, marketplace, atau aplikasi—dinilai lebih terjangkau dan mampu meredam dampak volatilitas harga.
Lonjakan harga emas pada akhirnya menjadi pedang bermata dua: menawarkan peluang di satu sisi, namun menyimpan risiko di sisi lain. Di tengah kilau emas yang kian menyilaukan, kehati-hatian dan perencanaan keuangan tetap menjadi kunci agar keputusan investasi tidak berubah menjadi penyesalan di kemudian hari.






