Misi Penyerbuan ke Iran Berakhir Tragis, Helikopter AS Meledak

Sahrul

Pemerintah Amerika Serikat kembali mengirimkan sinyal kekuatan militernya ke Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln. Langkah ini muncul di tengah membesarnya gelombang demonstrasi di Iran serta meningkatnya suhu ketegangan regional. Sejumlah analis menilai pengerahan tersebut berkaitan dengan kemungkinan langkah militer Washington terhadap Teheran.

Namun, bila eskalasi benar-benar terjadi, sejarah mencatat bahwa Amerika Serikat pernah menapaki jalur serupa—dan hasilnya jauh dari kata sukses. Empat puluh tahun lalu, sebuah operasi militer rahasia AS di Iran justru berakhir sebagai luka terbuka dalam catatan militernya di kawasan tersebut.

Peristiwa itu bermula pada 4 November 1979, saat sekelompok mahasiswa revolusioner Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran. Aksi tersebut berujung pada penyanderaan 53 diplomat dan warga negara AS. Upaya diplomasi yang dilakukan Washington tak membuahkan hasil, membuat tekanan politik dan psikologis kian menumpuk di Gedung Putih.

Dalam kondisi terdesak, Presiden AS kala itu, Jimmy Carter, pada 16 April 1980 menyetujui sebuah operasi penyelamatan sandera dengan nama sandi Operasi Eagle Claw. Mengutip situs Britannica, operasi ini melibatkan empat matra militer Amerika Serikat, sekitar 130 personel elite, delapan helikopter RH-53D Sea Stallion, enam pesawat C-130 Hercules, satu kapal induk, serta pesawat evakuasi strategis.

Rencana operasi dirancang dengan tingkat presisi tinggi. Enam pesawat C-130 membawa pasukan Delta Force beserta logistik dari Oman menuju titik pendaratan rahasia di gurun Iran yang diberi sandi Desert One. Di sana, mereka dijadwalkan bertemu delapan helikopter yang lepas landas dari kapal induk USS Nimitz di Laut Arab untuk mengisi bahan bakar sebelum bergerak mendekati Teheran.

Pada malam berikutnya, pasukan Delta Force akan menyusup ke ibu kota Iran, menyerbu Kedutaan Besar AS, dan membebaskan para sandera. Secara paralel, pasukan Ranger Angkatan Darat akan menguasai sebuah bandara di sekitar Teheran sebagai jalur evakuasi. Seluruh sandera dan personel kemudian direncanakan diterbangkan keluar Iran menggunakan pesawat C-141 Starlifter.

Namun, skenario yang tersusun rapi itu runtuh pada pelaksanaan 24 April 1980. Laporan berjudul “Crisis in Iran: Operation Eagle Claw” mencatat bahwa helikopter-helikopter yang terlibat dihantam badai pasir hebat. Sejumlah gangguan teknis muncul secara beruntun, membuat dua helikopter rusak dan enam lainnya mengalami keterlambatan signifikan.

Setibanya di Desert One, satu helikopter tambahan dinyatakan tidak layak terbang. Armada yang tersisa pun berada di bawah jumlah minimum yang dipersyaratkan. Dengan kondisi tersebut, keputusan pahit diambil: misi dibatalkan.

Namun, tragedi belum berakhir. Saat persiapan meninggalkan lokasi, sebuah helikopter bertabrakan dengan pesawat C-130 yang tengah mengisi bahan bakar. Benturan itu memicu ledakan besar di tengah gurun, menewaskan delapan personel militer AS dan menghancurkan pesawat yang terlibat. Pasukan yang tersisa dievakuasi secara darurat, meninggalkan helikopter, peralatan, serta dokumen rahasia di lokasi kejadian.

Mengutip The Atlantic, kegagalan Operasi Eagle Claw langsung mengguncang Washington. Presiden Jimmy Carter tampil di hadapan publik dan mengambil tanggung jawab penuh atas kegagalan misi tersebut. Sebaliknya, di Iran, peristiwa itu disambut sebagai kemenangan simbolik. Warga merayakan gagalnya operasi militer AS, sementara bangkai pesawat dan helikopter yang ditinggalkan dijadikan simbol perlawanan terhadap kekuatan Amerika.

Insiden ini bukan sekadar kegagalan taktis. Di mata dunia, Amerika Serikat dipandang terpukul, sementara di dalam negeri, posisi politik Carter ikut melemah. Operasi Eagle Claw kerap disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi pada kekalahannya dalam pemilihan presiden AS tahun 1980.

Pasca-insiden, militer AS melakukan evaluasi menyeluruh. Kesimpulan utama mengarah pada lemahnya koordinasi antarmatra. Dari kegagalan tersebut, Amerika kemudian membangun sistem komando terpadu dan memperkuat konsolidasi dalam operasi rahasia—pembelajaran pahit yang kelak menjadi fondasi bagi operasi-operasi militer yang lebih terkoordinasi pada tahun-tahun berikutnya.

Kini, ketika bayang-bayang eskalasi kembali menghampiri Timur Tengah, sejarah Operasi Eagle Claw seolah menjadi pengingat bahwa kekuatan militer sebesar apa pun tetap bisa tersandung oleh pasir, cuaca, dan kesalahan manusia.

Also Read

Tags