Ancaman Privasi di iPhone: Aplikasi Tertentu Diduga Lacak Pengguna

Sahrul

Aplikasi kebugaran selama ini dipersepsikan sebagai asisten pribadi yang membantu pengguna menjaga kesehatan. Mulai dari mencatat langkah kaki hingga memantau detak jantung, aplikasi-aplikasi ini seolah hanya aktif ketika pemiliknya berolahraga. Namun, laporan terbaru mengungkap sisi lain yang luput dari perhatian: sebagian aplikasi tetap mengumpulkan data, bahkan ketika pengguna tidak sedang melakukan aktivitas fisik.

Salah satu aplikasi yang disorot adalah Fitbit. Aplikasi pendamping perangkat kebugaran ini disebut mampu melacak pengguna di luar konteks olahraga, menjadikannya masuk dalam daftar aplikasi yang patut diwaspadai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa relasi antara pengguna dan aplikasi kebugaran tak selalu sesederhana “pakai lalu selesai”.

Perusahaan VPN Surfshark mengungkap bahwa tidak semua aplikasi kebugaran bekerja secara minimalis dalam mengelola data pengguna. Alih-alih hanya mengambil informasi yang relevan, sejumlah aplikasi justru mengumpulkan data personal dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang dibutuhkan.

Melansir indeksonline, Sabtu (31/1/2026), Surfshark menganalisis 16 aplikasi kebugaran populer di iPhone dengan menelaah data privasi yang tercantum di Apple App Store. Hasilnya, rata-rata aplikasi tersebut mengumpulkan 12 jenis data dari total 35 kategori data yang, menurut Apple, berpotensi dikoleksi oleh sebuah aplikasi.

Temuan lain yang tak kalah mencengangkan adalah pola berbagi data dengan pihak ketiga. Dari keseluruhan aplikasi yang diteliti, mayoritas ternyata tidak menyimpan data hanya untuk kepentingan internal.

“Dari 16 aplikasi kebugaran, 75% di antaranya berbagi data pengguna dengan pihak ketiga,” kata Surfshark.

Surfshark menjelaskan bahwa praktik ini dikenal sebagai pelacakan, yakni proses pengaitan data pengguna dengan entitas di luar aplikasi itu sendiri.

“Proses ini disebut ‘pelacakan’, di mana data yang dikumpulkan oleh aplikasi tentang pengguna atau perangkat tertentu, seperti ID pengguna, ID perangkat, atau profil, dihubungkan dengan data dari pihak ketiga,” sambungnya.

Dalam laporan tersebut, Fitbit muncul sebagai aplikasi yang paling agresif dalam mengumpulkan data. Surfshark menemukan bahwa aplikasi ini mengoleksi hingga 24 jenis data berbeda. Yang lebih mengkhawatirkan, 19 di antaranya dinilai tidak esensial untuk fungsi utama aplikasi.

Data tambahan tersebut, menurut Surfshark, berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan di luar kebutuhan pengguna, seperti iklan pihak ketiga, pemasaran pengembang, analitik, hingga personalisasi produk. Dengan kata lain, aktivitas kebugaran pengguna bisa berubah menjadi bahan baku ekonomi digital.

Meski Fitbit menjadi aplikasi dengan jumlah data terbanyak, Strava—yang dikenal sebagai aplikasi kebugaran berbasis jejaring sosial—juga menonjol. Strava tercatat menggunakan 21 jenis data di luar fungsi utama aplikasi, sekaligus menjadi total data yang dikumpulkannya.

“Beberapa aplikasi mengumpulkan data dua kali lipat atau hampir dua kali lipat dari jumlah rata-rata. Misalnya, Fitbit mengumpulkan hingga 24 jenis data unik, menjadikannya aplikasi yang paling banyak mengumpulkan data,” jelas Surfshark.

Sebagai pembanding, aplikasi Centr justru berada di ujung spektrum yang berlawanan. Aplikasi ini hanya melaporkan pengumpulan tiga jenis data, yakni ID pengguna, interaksi produk, dan data kesalahan. Meski demikian, salah satu dari data tersebut tetap digunakan untuk pelacakan. Dibandingkan Centr, Fitbit tercatat mengumpulkan sekitar delapan kali lebih banyak data.

Selain Fitbit dan Strava, beberapa aplikasi lain juga teridentifikasi mengoleksi data pribadi dalam jumlah besar. Di antaranya Nike Training Club, Runna, The Body Coach Workout Planner, serta ALO Wellness Club. Surfshark mencatat bahwa aplikasi Nike menggunakan data pribadi yang bersifat sensitif untuk menargetkan pengguna dengan iklan.

Di sisi lain, tidak semua aplikasi bersikap ekspansif. PUSH Workout & Gym Tracker, misalnya, hanya mengumpulkan tujuh jenis data dan tidak memanfaatkannya di luar fungsi utama aplikasi.

Meski pengguna mungkin tidak secara eksplisit menyetujui seluruh skema penggunaan data ini, laporan tersebut menyoroti satu fakta penting: volume data yang dibagikan ke pihak ketiga untuk kepentingan pemasaran dan analisis tergolong besar dan patut menjadi perhatian.

Surfshark menegaskan bahwa analisis ini hanya mencakup penggunaan aplikasi di iPhone dan iPad. Dengan demikian, belum dapat dipastikan apakah Fitbit juga menjadi aplikasi dengan praktik terburuk di platform Android. Kendati begitu, studi ini menjadi pengingat keras bagi pengguna untuk tidak melewatkan syarat dan ketentuan sebelum memasang aplikasi, terutama yang bersifat gratis.

Sebagai langkah perlindungan, pengguna iPhone disarankan mengaktifkan opsi “Minta Aplikasi untuk Tidak Melacak” saat menginstal aplikasi baru. Fitur ini dirancang untuk membatasi aplikasi agar tidak membagikan data pengguna ke pihak ketiga demi kepentingan periklanan.

Di tengah maraknya aplikasi kebugaran, laporan ini mengingatkan bahwa menjaga kesehatan fisik seharusnya tidak harus dibayar dengan pengorbanan privasi digital.

Also Read

Tags