IHSG Terkoreksi Tajam 5%, Purbaya Nilai Ini Momen Akumulasi

Sahrul

Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan dengan penurunan tajam, seolah kehilangan pijakan di tengah arus jual yang deras. Pada penutupan sesi, IHSG tercatat melemah 4,88% atau turun 406,88 poin ke level 7.922,73. Bahkan sebelumnya, pada sesi pertama, tekanan sempat lebih dalam dengan koreksi mencapai 5,07%.

Penurunan tersebut mencerminkan sentimen pasar yang masih dibayangi ketidakpastian. Namun bagi sebagian pengamat dan pemangku kebijakan, gejolak ini dipandang sebagai bagian dari dinamika alami pasar modal—sebuah fase turun sebelum kembali menanjak. Fluktuasi harga saham, layaknya gelombang laut, kerap bergerak naik dan turun mengikuti arus sentimen global maupun domestik.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta publik untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia menilai koreksi IHSG tidak perlu disikapi dengan kepanikan, mengingat pasar memiliki kecenderungan untuk pulih seiring waktu. Purbaya juga menyoroti faktor transisi kepemimpinan di sejumlah lembaga keuangan sebagai salah satu variabel yang tengah dicermati pelaku pasar.

Menurutnya, pergantian pucuk pimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpotensi menjadi katalis positif ke depan. Namun untuk sementara, pasar dinilai masih bersikap menunggu kejelasan arah kebijakan dari kepemimpinan baru tersebut.

“Biar aja sih, abis naik turun-naik turun tuh, kan ada pergantian baru lagi kan. Pergantian ketua OJK-nya, mungkin market masih menunggu,” kata Purbaya, setelah Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Senin (2/2/2026).

Lebih jauh, Purbaya memandang koreksi IHSG justru dapat dibaca sebagai peluang, bukan ancaman. Ia menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia hingga kini masih berada pada jalur yang solid. Stabilitas makroekonomi, menurutnya, tidak mengalami perubahan mendasar dan bahkan berpotensi semakin menguat dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam perspektif seorang investor, kondisi pasar yang melemah justru membuka ruang untuk akumulasi saham di harga rendah. Purbaya pun secara terbuka mengungkapkan strategi yang akan ia ambil jika berada di posisi pelaku pasar.

“Mungkin masih menunggu ketidakpastian itu. Tapi harusnya kalau saya sih, saya akan serok di bawah, kenapa? Fondasi ekonominya masih bagus, gak ada berubah, dan akan membaik terus ke depan.”

Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme pemerintah terhadap daya tahan ekonomi nasional. Di tengah tekanan jangka pendek, keyakinan terhadap kekuatan fundamental menjadi jangkar yang menahan pasar agar tidak terombang-ambing terlalu jauh. Bagi investor berjangka panjang, kondisi seperti ini sering kali dianggap sebagai momentum untuk menyusun ulang strategi dan menimbang peluang di balik volatilitas.

Dengan demikian, meski IHSG tengah berada dalam fase koreksi, arah jangka panjang pasar saham Indonesia dinilai masih menyimpan potensi pemulihan. Seperti roda yang terus berputar, pasar diyakini akan kembali menemukan ritmenya ketika ketidakpastian mereda dan sentimen positif kembali menguat.

Also Read

Tags