PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan setelah bertahun-tahun berada di bawah tekanan keuangan. Suntikan dana jumbo senilai Rp4,9 triliun dari PT Danantara Aset Management (Persero) disebut menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong perusahaan baja pelat merah itu melangkah menuju kondisi finansial yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memaparkan bahwa Krakatau Steel kini telah memasuki fase pemulihan setelah menjalani serangkaian langkah transformasi yang menyentuh berbagai lini bisnis perusahaan.
“Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat secara finansial,” kata Dony dalam rapat kerja dan rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Menurut Dony, proses penyehatan Krakatau Steel tidak dilakukan secara parsial, melainkan menyeluruh. Perbaikan menyentuh aspek keuangan, operasional, hingga tata kelola perusahaan. Seluruh langkah tersebut dirancang sebagai bagian dari strategi restrukturisasi jangka panjang untuk mengembalikan daya tahan dan kinerja perseroan.
Skema Pinjaman Pemegang Saham
Sebagai pemegang saham, Danantara melalui anak usahanya, PT Danantara Aset Management, memberikan dukungan pendanaan dengan skema pinjaman pemegang saham atau shareholder loan senilai Rp4,9 triliun. Skema ini dipilih untuk memperkuat likuiditas Krakatau Steel sekaligus menopang proses penyehatan perusahaan tanpa mengganggu struktur kepemilikan.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dana pinjaman tersebut dialokasikan ke dua pos utama. Sebesar Rp4,18 triliun digunakan sebagai modal kerja, sementara Rp752,8 miliar dialokasikan untuk program pengunduran diri sukarela atau golden handshake (GHS) serta penyehatan dana pensiun.
Modal kerja tersebut menjadi bahan bakar utama bagi operasional pabrik, khususnya untuk pembelian bahan baku di fasilitas Hot Strip Mill (HSM), Cold Rolled Coil (CRM), serta menopang pasokan bahan baku pabrik pipa. Sementara pendanaan untuk program GHS dan dana pensiun dilakukan melalui mekanisme lump sum window, yang bertujuan merapikan beban kewajiban jangka panjang perusahaan.
Menjaga Napas Operasional
Manajemen Krakatau Steel menegaskan bahwa dukungan pendanaan ini bersifat krusial, terutama di tengah upaya pemulihan bisnis baja pasca penyelesaian perbaikan fasilitas produksi. Suntikan likuiditas tersebut juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan program restrukturisasi utang yang telah efektif sejak Oktober 2025.
“Transaksi ini sangat dibutuhkan oleh Perseroan untuk mendukung pemulihan bisnis baja pasca penyelesaian perbaikan HSM serta menjaga keberlanjutan program Restrukturisasi Utang yang telah efektif pada Oktober 2025. Dukungan pendanaan ini menjadi sangat krusial agar kegiatan operasional dapat berjalan secara optimal sesuai rencana,” tulis Manajemen Krakatau Steel dikutip dari Keterbukaan Informasi BEI, pada Rabu (24/12/2025) lalu.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dana segar bukan sekadar tambalan sementara, melainkan fondasi agar mesin produksi dapat kembali berputar dengan ritme yang lebih efisien dan terukur.
Struktur Pinjaman Jangka Menengah–Panjang
Krakatau Steel dan Danantara Aset Management telah menandatangani perjanjian pinjaman pada 19 Desember 2025. Dalam perjanjian tersebut, pinjaman dibagi ke dalam dua skema dengan tenor berbeda.
Pinjaman modal kerja sebesar Rp4,18 triliun memiliki jangka waktu minimal lima tahun. Sementara pinjaman senilai Rp752,8 miliar untuk program GHS dan dana pensiun memiliki tenor minimal enam tahun. Struktur tenor ini memberikan ruang napas bagi perusahaan untuk menata arus kas tanpa tekanan pembayaran jangka pendek.
Manajemen Krakatau Steel menilai skema tersebut akan memperkuat likuiditas perusahaan secara signifikan, sehingga operasional dapat dijalankan lebih optimal dan efisien.
“Dengan adanya dukungan pendanaan melalui Pinjaman Pemegang Saham, Perseroan akan memiliki likuiditas yang lebih kuat, sehingga mampu menjalankan kegiatan operasional secara lebih optimal. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan biaya produksi serta peningkatan daya saing produk Perseroan,” tulis manajemen.
Menuju Stabilitas Jangka Panjang
Dengan kombinasi perbaikan operasional, restrukturisasi keuangan, dan dukungan pendanaan dari pemegang saham, Krakatau Steel kini berada di persimpangan penting. Suntikan Rp4,9 triliun tersebut diharapkan menjadi jangkar yang menahan perusahaan agar tidak kembali terseret arus tekanan finansial, sekaligus menjadi landasan untuk menatap pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Meski tantangan industri baja masih besar, langkah-langkah penyehatan yang kini dijalankan memberi sinyal bahwa Krakatau Steel perlahan keluar dari fase kritis dan mulai menata ulang posisinya di peta industri nasional.






