Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa perekonomian Indonesia telah memasuki babak pertumbuhan sejak 2023 dan berpeluang terus melaju hingga satu dekade ke depan, tepatnya sampai 2033. Fase ini ia gambarkan sebagai periode ekspansi—masa ketika aktivitas produksi, konsumsi, dan investasi bergerak naik, berlawanan dengan kontraksi atau perlambatan tajam yang biasa disebut resesi.
Menurut Purbaya, proyeksi tersebut berpijak pada pola siklus ekonomi atau business cycle, yakni irama naik-turun yang secara historis berulang. Dalam siklus itu, ekonomi tak selamanya menanjak; ada fase menurun sebelum kembali menguat. Indonesia sendiri, jelasnya, terakhir kali merasakan resesi pada 2020, saat tekanan global dan domestik membuat pertumbuhan terperosok.
“(Siklus ekonomi itu) 7 tahun sampai 10 tahun ekspansi, setahun resesi. 7 tahun sampai 10 tahun ekspansi, setahun resesi. Resesi kita terakhir tahun 2020. 2023 kita memasuki fase ekspansi lagi, dan kalau kita pintar, kita bisa ekspansi itu sampai tahun 2033 sebelum ekonominya melambat lagi,” kata Purbaya saat orasi ilmiah dalam wisuda UI, Sabtu (14/2).
Ia mengibaratkan siklus ekonomi seperti gelombang laut: ada pasang yang mendorong kapal melaju, ada surut yang menahan pergerakan. Saat ini, menurutnya, Indonesia tengah berada di fase pasang. Karena itu, ia menilai para mahasiswa yang lulus sekarang berada pada momentum yang tepat untuk menapaki dunia kerja dan berkontribusi pada pertumbuhan nasional.
“Saya akan pastikan ini akan berlangsung sampai 2030 nanti dan tentunya kontribusi Anda akan amat signifikan untuk mendukung ekspansi ekonomi Indonesia ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Purbaya menyoroti laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir bertahan di kisaran 5 persen. Angka tersebut kerap dipandang cukup stabil, bahkan dianggap sebagai batas optimal oleh sebagian kalangan. Namun, ia memiliki pandangan berbeda.
“Indonesia sudah lama tumbuh di kisaran 5 persen. Itu kayanya bagus, sebagian orang bilang itu sudah maksimal. Padahal menurut saya kita paling enggak harus tumbuh 6,7 persen menuju 7 persen untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja,” katanya.
Bagi Purbaya, pertumbuhan 5 persen ibarat langkah konstan namun belum cukup panjang untuk mengejar target menjadi negara maju. Dengan tambahan jutaan angkatan kerja baru setiap tahun, ekonomi membutuhkan dorongan lebih tinggi agar mampu menyerap tenaga kerja secara memadai dan mencegah lonjakan pengangguran.
Ia pun membandingkan pengalaman sejumlah negara yang kini telah masuk kategori maju, seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan China.
“Kalau saya lihat Korea, Taiwan, Jepang, Amerika, Jerman, China. Untuk menjadi negara maju, anda harus tumbuh double digit dalam lebih dari 10 tahun,” katanya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa untuk melompat dari kategori berkembang ke maju, dibutuhkan pertumbuhan dua digit yang konsisten dalam periode panjang—sebuah akselerasi, bukan sekadar kestabilan. Dengan kata lain, Indonesia tak cukup hanya berjalan; ia harus berlari dalam tempo yang terjaga.
Optimisme Purbaya tentang fase ekspansi hingga 2033 menjadi sinyal harapan, namun sekaligus tantangan. Pertumbuhan bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan daya tahan dan daya saing bangsa. Apakah momentum ini akan dimanfaatkan maksimal atau justru terhambat oleh faktor struktural, menjadi pekerjaan rumah bersama dalam satu dekade mendatang.






