Perhelatan akbar sepak bola Indonesia, yang mempertemukan dua rival abadi, Persija Jakarta dan Persib Bandung, dalam lanjutan Super League musim 2025/2026, dipastikan tidak akan berlangsung di Jakarta. Keputusan tak terduga ini mengalihkan lokasi pertandingan ke Stadion Segiri, Samarinda, sebuah perpindahan geografis yang signifikan, menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer dari jantung ibu kota. Pergeseran venue ini tentu memunculkan pertanyaan mendasar mengenai alasan di baliknya, terutama mengingat status laga yang selalu menyedot perhatian jutaan pasang mata.
Menurut informasi yang dihimpun, penentuan lokasi pertandingan yang berjuluk "El Clasico Indonesia" ini tidak terlepas dari serangkaian pertimbangan matang yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Direktur I.League, Ferry Paulus, dalam keterangannya usai melakukan audiensi dengan jajaran kepolisian dan panitia pelaksana pertandingan Persija, menguraikan faktor-faktor krusial yang melatarbelakangi keputusan ini.
Inti dari alasan pemindahan venue ini berakar pada dua pilar utama: jaminan keamanan yang optimal dan optimalisasi jadwal pertandingan. Kesiapan infrastruktur dan jadwal padat klub-klub di Pulau Jawa menjadi hambatan yang tidak dapat diabaikan. Ferry Paulus menjelaskan bahwa setelah melalui kajian mendalam, beberapa opsi venue di Pulau Jawa ternyata belum memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk menggelar pertandingan berisiko tinggi seperti Persija melawan Persib. "Terdapat kendala terkait perizinan di wilayah Jakarta, dan secara umum, kondisi di Pulau Jawa pada periode tersebut juga belum memungkinkan untuk menjadi tuan rumah," ungkap Ferry Paulus.
Lebih lanjut, Ferry merinci bahwa bukan hanya faktor keamanan semata yang menjadi pertimbangan. Kesibukan jadwal liga di Pulau Jawa juga memainkan peran penting. Banyak klub-klub yang berasal dari Jawa dijadwalkan melakoni pertandingan pada tanggal yang berdekatan, baik sebelum maupun sesudah tanggal pelaksaanaan duel Persija versus Persib. Fenomena ini berpotensi menimbulkan kepadatan jadwal dan persaingan penggunaan stadion, yang pada akhirnya dapat mengganggu kelancaran seluruh rangkaian pertandingan. "Selain aspek kesiapan penyelenggaraan, kami juga mempertimbangkan jadwal pertandingan klub-klub lain yang berasal dari Jawa. Mereka memiliki agenda pertandingan yang berhimpitan atau berdekatan dengan tanggal laga ini," imbuhnya.
Pertandingan krusial antara Persija dan Persib ini dijadwalkan akan bergulir pada tanggal 10 Mei 2026. Keputusan ini diambil setelah berbagai alternatif lokasi telah dievaluasi secara cermat.
Sebelum akhirnya berlabuh di Samarinda, beberapa kota lain sempat dilirik sebagai kandidat potensial. Salah satunya adalah Pulau Bali. Namun, impian menggelar duel panas ini di Stadion Kapten I Wayan Dipta harus kandas. Alasannya, stadion kebanggaan masyarakat Bali tersebut telah terkonfirmasi akan digunakan untuk menggelar pertandingan lain pada tanggal 11 Mei, sehari setelah jadwal duel Persija versus Persib. Regulasi yang berlaku melarang adanya dua pertandingan yang digelar berdekatan di satu stadion yang sama, untuk menghindari potensi bentrokan jadwal dan memastikan setiap pertandingan mendapatkan porsi penyelenggaraan yang maksimal. "Kami sempat mempertimbangkan Bali sebagai alternatif, namun ternyata Stadion Kapten I Wayan Dipta sudah memiliki agenda pertandingan lain pada tanggal 11 Mei. Sesuai dengan regulasi kami, tidak diperkenankan adanya pertandingan yang saling berdekatan di stadion yang sama," papar Ferry Paulus.
Selain Bali, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) di Surabaya juga sempat masuk dalam radar pertimbangan. Namun, opsi ini pun menemui kendala. Jika laga Persija melawan Persib dipaksakan digelar di Surabaya, maka pertandingan tersebut harus dilaksanakan tanpa kehadiran penonton. Kondisi ini tentu mengurangi semarak dan nilai historis dari sebuah pertandingan sebesar El Clasico Indonesia. Menghilangkan elemen suporter dari pertandingan sepak bola, apalagi duel sarat gengsi, merupakan opsi yang sangat dihindari oleh penyelenggara.
Menyadari berbagai keterbatasan dan potensi masalah yang muncul dari opsi-opsi sebelumnya, pihak penyelenggara akhirnya mengerucutkan pilihan kepada Samarinda, Kalimantan Timur, sebagai solusi terbaik. Stadion Segiri yang terletak di Kota Tepian Sungai Mahakam ini dinilai menjadi lokasi yang paling memungkinkan untuk memenuhi berbagai persyaratan. Selain kesiapan infrastruktur stadion itu sendiri, faktor ketiadaan jadwal pertandingan lain yang berbenturan di wilayah Kalimantan Timur pada tanggal yang sama menjadi keunggulan tersendiri. "Di Kalimantan Timur, tidak ada agenda pertandingan lain yang bersamaan pada tanggal tersebut. Hal ini menjadikan Samarinda sebagai opsi yang paling rasional dan memungkinkan bagi kami," pungkas Ferry Paulus.
Perpindahan venue ke Samarinda ini, meskipun berjarak ribuan kilometer dari basis suporter kedua tim, diharapkan dapat menjadi langkah antisipatif untuk memastikan kelancaran dan keamanan pertandingan. Keputusan ini menunjukkan komitmen penyelenggara dalam mengutamakan keselamatan dan menjaga stabilitas kompetisi sepak bola nasional, bahkan jika harus mengorbankan aspek kedekatan geografis. Para pecinta sepak bola di tanah air pun diharapkan dapat memahami dan mendukung keputusan ini demi kebaikan bersama.






