Menghadapi kenyataan pahit terdegradasinya PSBS Biak ke kasta kedua sepak bola Indonesia musim depan, pelatih Marian Mihail menunjukkan keteguhan sikap profesional yang patut diacungi jempol. Alih-alih meratapi nasib, juru taktik asal Rumania ini justru menebar optimisme dan keyakinan kuat bahwa tim berjuluk "Badai Pasifik" itu akan segera menemukan kembali momentum kebangkitannya. Pernyataan ini disampaikan Mihail untuk meluruskan berbagai spekulasi yang beredar liar di jagat maya, sekaligus menegaskan komitmennya untuk berjuang hingga titik darah penghabisan di sisa pertandingan Liga Super Indonesia (BRI Super League).
Dalam sebuah rilis resmi yang diterima pada Jumat (8/5/2026), Mihail mengungkapkan rasa pentingnya untuk menyampaikan pandangannya secara langsung kepada publik, para penggemar setia, serta seluruh insan sepak bola Indonesia. Ia menyoroti banyaknya informasi yang beredar mengenai posisinya, kondisi tim, dan situasi yang tengah melanda PSBS Biak. "Dalam beberapa hari terakhir, banyak hal telah disampaikan secara publik mengenai posisi saya, tim, dan situasi yang sedang terjadi di PSBS Biak. Menjelang pertandingan berikutnya, saya merasa penting untuk menyampaikan hal-hal ini secara langsung dan dengan penuh rasa hormat kepada publik, para suporter, dan sepak bola Indonesia," ujarnya.
Lebih lanjut, Mihail mengklarifikasi status kontraknya yang masih terikat dengan PSBS Biak hingga akhir musim 2027. Ia menegaskan tidak ada sedikit pun niatan untuk melakukan mogok bermain atau mengabaikan kewajibannya. "Pertama-tama, saya ingin memperjelas posisi saya. Saya memiliki kontrak yang sah dengan PSBS Biak hingga akhir musim 2027, dan saya sepenuhnya berniat untuk menghormati serta menjalankan kontrak tersebut secara profesional. Segala berita atau rumor lain yang beredar di media mengenai posisi saya hanyalah asumsi atau spekulasi dan tidak mencerminkan situasi resmi saya," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya menerima tugas melatih PSBS Biak pada saat tim sedang mengalami penurunan performa dan hasil yang kurang memuaskan. Selain itu, struktur kepelatihan saat itu juga membutuhkan kehadiran pelatih berlisensi UEFA Pro agar sesuai dengan regulasi kompetisi yang berlaku. Sejak awal bergabung, Mihail mengaku selalu menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh profesionalisme, keseriusan, dan dedikasi tinggi terhadap klub dan para pemainnya.
Mihail menyadari bahwa skuad yang ia tangani merupakan hasil pembentukan sebelum kedatangannya, termasuk para pemain yang direkrut di bawah kepelatihan sebelumnya. Ia telah berupaya semaksimal mungkin untuk bekerja dengan segala struktur dan sumber daya yang ada. Namun, ia tak menampik adanya sejumlah faktor eksternal yang turut memengaruhi performa tim di lapangan. "Saya mewarisi skuad yang telah dibentuk sebelum kedatangan saya, termasuk pemain-pemain yang direkrut di bawah staf pelatih sebelumnya, dan saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja dengan struktur dan sumber daya yang tersedia. Namun, gangguan internal yang terus berlangsung, intervensi dari pihak luar, serta permasalahan disiplin yang belum terselesaikan telah secara signifikan memengaruhi lingkungan kerja dan pada akhirnya berdampak terhadap hasil kerja kami di lapangan," jelasnya.
Meskipun harus menghadapi kenyataan pahit degradasi, Marian Mihail berpandangan bahwa hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya bagi sebuah klub. Menurutnya, momen degradasi justru harus dijadikan sebagai titik tolak untuk melakukan evaluasi mendalam, memperbaiki berbagai aspek yang krusial, dan merancang strategi pemulihan secara bertahap. "Terkait situasi finansial. Kesulitan finansial dalam sepak bola sayangnya bukan hal yang jarang terjadi, dan saya memahami bahwa klub-klub lain juga menghadapi tantangan sepanjang musim ini," ungkapnya, merujuk pada isu finansial yang kerap melanda klub-klub sepak bola.
Ia juga menekankan bahwa PSSI memiliki mekanisme pengawasan dan jaminan dalam kerangka kompetisi untuk melindungi kewajiban finansial yang tertunda kepada para pemain, pelatih, dan staf. Oleh karena itu, Mihail secara tegas menolak segala bentuk eskalasi masalah internal ke ranah publik, penolakan untuk bermain, aksi mogok, atau tindakan lain yang berpotensi merusak citra klub, Papua, maupun sepak bola Indonesia secara keseluruhan. "Untuk alasan tersebut, saya tidak mendukung eskalasi masalah internal ke ranah publik, penolakan untuk bermain, aksi mogok, ataupun tindakan apa pun yang dapat merusak citra Klub, Papua, maupun sepak bola Indonesia secara keseluruhan," tandasnya.
Dalam situasi sulit sekalipun, Mihail mengingatkan bahwa seluruh elemen tim, mulai dari pemain, pelatih, staf, hingga jajaran manajemen, memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga nama baik dan integritas klub, serta kehormatan sepak bola Indonesia. "Bahkan dalam situasi yang sulit, kita semua, termasuk pemain, pelatih, staf, dan manajemen, memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan integritas klub, serta sepak bola Indonesia," katanya.
Dengan semangat yang membara, Marian Mihail menegaskan bahwa fokus utama seluruh pemain saat ini adalah menghadapi tiga laga sisa yang ada. Tujuannya jelas, yaitu meraih kemenangan demi memberikan sedikit obat penawar luka bagi para pendukung atas kenyataan pahit degradasi. Optimisme dan kerja keras akan menjadi senjata utama PSBS Biak untuk membuktikan bahwa badai yang menerpa tidak akan berlangsung selamanya.






