Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, menjanjikan sebuah perhelatan akbar sepak bola dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, di balik kemegahan dan antusiasme yang memuncak, turnamen ini menghadapi kritik tajam terkait potensi eksklusivitas yang kian menganga. Lonjakan harga tiket yang mencapai angka fantastis, dikombinasikan dengan isu keamanan dan kebijakan imigrasi di Amerika Serikat, berpotensi membatasi aksesibilitas bagi para penggemar setia dari berbagai belahan dunia. Di sisi lain, ajang ini juga diprediksi menjadi panggung terakhir bagi dua ikon sepak bola legendaris, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, yang karir internasionalnya akan segera mencapai titik krusial.
Salah satu aspek yang paling disorot adalah harga tiket yang meroket tajam, bahkan hingga menembus miliaran rupiah di pasar sekunder. FIFA kini berada di bawah tekanan besar, dituding lebih mengutamakan potensi komersial di pasar hiburan Amerika Serikat yang masif ketimbang memastikan keterjangkauan bagi para suporter. Laporan menyebutkan bahwa untuk sekadar menyaksikan pertandingan pembuka antara tuan rumah Amerika Serikat dan Paraguay, calon penonton harus merogoh kocek minimal 1.000 dolar AS, atau sekitar Rp16 juta. Angka ini terasa semakin mencengangkan ketika melihat harga tiket untuk partai final yang kabarnya dibanderol hingga 32.970 dolar AS, sebuah nominal yang membuat menonton pertandingan sepak bola terasa seperti menikmati kemewahan langka.
Kesenjangan harga yang mencolok ini menuai reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk tokoh politik ternama. Mereka berpandangan bahwa biaya yang dibebankan sudah melampaui batas kewajaran. Banyak calon penonton yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk hadir langsung ke stadion, tidak hanya karena harga tiket yang tinggi, tetapi juga karena biaya tambahan untuk transportasi dan akomodasi yang semakin mencekik. Bahkan, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut mengomentari mahalnya biaya menonton tim nasional negaranya sendiri. Ia menyatakan bahwa dirinya pun tidak akan bersedia membayar harga tiket yang mencapai empat digit dolar AS.
Situasi diperparah dengan maraknya sistem penjualan kembali tiket (resale) yang difasilitasi oleh FIFA. Sistem ini terkesan membiarkan harga tiket melonjak liar tanpa kontrol yang memadai. Parahnya, ada laporan mengenai seorang pemegang tiket yang berani menjual kursi di tribun belakang dengan harga fantastis, mencapai 11 juta dolar AS, melalui platform resmi yang seharusnya menjadi wadah transaksi yang adil.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, FIFA berulang kali membela kebijakannya dengan dalih bahwa seluruh pendapatan yang dihasilkan akan dialokasikan kembali untuk pengembangan sepak bola global. Pihak FIFA berargumen bahwa penetapan harga yang tinggi merupakan konsekuensi logis dari penyelenggaraan turnamen di pasar hiburan paling maju di dunia saat ini. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menjelaskan bahwa pihaknya perlu mengikuti standar ekonomi yang berlaku di wilayah Amerika Utara untuk mencegah spekulasi ilegal. Menurutnya, jika harga tiket dipatok terlalu rendah, para calo justru akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar melalui pasar gelap.
Infantino menambahkan bahwa sistem perdagangan tiket di Amerika Serikat yang memperbolehkan penjualan kembali secara legal juga menjadi faktor penentu. Ia mengemukakan bahwa apabila tiket dijual dengan harga yang terlalu rendah, tiket tersebut akan diperjualbelikan kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Faktanya, meskipun beberapa pihak menganggap harga tiket yang ditetapkan FIFA sudah tinggi, tiket-tiket tersebut tetap laris manis di pasar penjualan kembali dengan harga yang bahkan berlipat ganda dari harga awal. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa FIFA berusaha menyeimbangkan antara potensi pendapatan dan upaya mencegah praktik ilegal, meski dampaknya terasa memberatkan bagi sebagian besar penggemar.
Di luar polemik finansial, turnamen ini juga dihadapkan pada berbagai tantangan diplomatik dan keamanan. Salah satunya adalah status partisipasi Iran yang sempat menjadi perdebutan panas akibat situasi perang dan keamanan para pemainnya. Sempat muncul wacana pemindahan lokasi pertandingan Iran ke Meksiko, bahkan ada usulan kontroversial untuk menggantikan Iran dengan tim nasional Italia yang tidak lolos kualifikasi. Namun, pemerintah Iran akhirnya mengonfirmasi kehadiran mereka di Amerika Serikat untuk berkompetisi.
Tantangan lain datang dari kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang ketat, yang melarang kunjungan dari 39 negara, sebagian besar dari wilayah Afrika dan negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Hal ini berpotensi mengurangi jumlah suporter internasional yang dapat hadir langsung ke stadion. Selain itu, isu keamanan di Meksiko juga menjadi perhatian. Kematian seorang gembong kartel besar di wilayah Guadalajara memicu gelombang kekerasan yang signifikan, membuat banyak suporter internasional berpikir dua kali untuk melakukan perjalanan ke negara tuan rumah tersebut. Kondisi sosiopolitik yang dinamis ini menambah lapisan kerumitan dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Meskipun dihantam berbagai kontroversi, dari segi teknis dan persaingan di lapangan hijau, Piala Dunia 2026 tetap menjanjikan sejarah baru dengan kehadiran empat negara debutan yang siap memberikan kejutan. Uzbekistan, yang dilatih oleh Fabio Cannavaro, dan Yordania, yang menjadi finalis Piala Asia, akan memulai petualangan perdana mereka di panggung dunia.
Namun, sorotan utama yang tak terhindarkan tentu tertuju pada Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Kedua megabintang sepak bola ini diprediksi kuat akan menjalani turnamen internasional terakhir mereka dalam karier gemilang. Persaingan abadi antara kedua ikon ini tetap menjadi magnet terkuat yang mampu menutupi berbagai kekurangan penyelenggaraan di luar lapangan hijau. Kehadiran mereka memberikan daya tarik tersendiri yang tak ternilai bagi para penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Di sisi lain, badai cedera mulai merenggut sejumlah talenta menjanjikan. Salah satunya adalah pemain muda potensial Spanyol, Lamine Yamal, yang diragukan tampil akibat cedera hamstring yang serius. Penyerang Amerika Serikat, Patrick Agyemang, juga harus mengubur mimpinya tampil di rumah sendiri setelah menderita cedera tendon Achilles yang parah. Melalui media sosial, Agyemang mengungkapkan kesedihannya harus melewatkan kesempatan emas membela negaranya.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama yang mengadopsi format baru dengan jumlah peserta yang bertambah menjadi 48 tim, naik dari 32 tim sebelumnya. Penambahan kuota ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi negara-negara berkembang untuk merasakan atmosfer kompetisi sepak bola kasta tertinggi. Turnamen ini merupakan hasil kolaborasi tiga negara: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, dengan total 16 kota tuan rumah yang tersebar di ketiga negara tersebut. Pertandingan pembuka dijadwalkan akan berlangsung pada 11 Juni 2026, mempertemukan Meksiko melawan Afrika Selatan sebagai laga pembuka yang menandai dimulainya perhelatan akbar ini.






