Pasar kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) di Indonesia tengah mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa di kuartal pertama tahun 2026. Meskipun masih berada di bawah bayang-bayang popularitas mobil listrik murni (BEV), tren peningkatan minat terhadap teknologi hybrid yang dapat diisi daya ini semakin terlihat jelas melalui angka distribusi unit ke jaringan dealer. Data terbaru yang dirilis menunjukkan bahwa periode Januari hingga April 2026 mencatatkan total penjualan PHEV sebanyak 2.089 unit. Angka ini merupakan lompatan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, di mana hanya 91 unit yang berhasil terdistribusi.
Secara spesifik, bulan April 2026 menjadi saksi bisu pertumbuhan yang mengagumkan. Sebanyak 569 unit PHEV berhasil didistribusikan, menandai peningkatan sebesar 60,2 persen dibandingkan bulan Maret yang hanya mencatat 355 unit. Pertumbuhan eksponensial ini mengindikasikan bahwa konsumen Indonesia semakin terbuka dan tertarik pada solusi mobilitas yang menawarkan efisiensi bahan bakar sekaligus pengurangan emisi, tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya seperti mobil listrik murni.
Menariknya, persaingan di segmen PHEV ini tampaknya didominasi oleh para pemain baru asal Tiongkok. Merek-merek otomotif Tiongkok, khususnya Chery dan Wuling, telah berhasil memposisikan diri sebagai penggerak utama dalam peningkatan volume penjualan di kategori kendaraan ramah lingkungan ini. Chery Tiggo 8 CSH tampil sebagai primadona pasar, berhasil mengukuhkan posisinya di puncak daftar terlaris dengan total distribusi mencapai 229 unit. Model ini secara meyakinkan melampaui para pesaingnya dalam segmen yang sama, menunjukkan keberhasilan strategi Chery dalam memahami dan memenuhi kebutuhan pasar otomotif Indonesia.
Tak ketinggalan, Wuling turut meramaikan persaingan dengan model Eksion-nya. Wuling Eksion berhasil menempatkan diri di posisi kedua dengan angka penjualan yang mengesankan, yaitu 183 unit. Keberhasilan kedua merek ini tidak hanya mencerminkan kualitas produk yang ditawarkan, tetapi juga strategi pemasaran yang agresif dan penyesuaian produk yang tepat sasaran untuk pasar Indonesia. Pergeseran dominasi ini menunjukkan dinamika pasar yang cepat dan kemampuan pabrikan Tiongkok dalam berinovasi dan beradaptasi dengan cepat.
Sementara itu, pabrikan otomotif asal Jepang dan Eropa tampaknya mengambil pendekatan yang berbeda dalam memasarkan produk PHEV mereka. Model-model PHEV dari kedua benua ini cenderung diposisikan pada segmen pasar yang lebih eksklusif dan premium. Kendaraan-kendaraan ini umumnya ditawarkan dengan banderol harga yang jauh lebih tinggi, menargetkan konsumen dengan daya beli superior. Hal ini berimplikasi pada volume penjualan yang relatif lebih terbatas dibandingkan dengan model-model PHEV yang berasal dari Tiongkok.
Contoh nyata dari strategi ini adalah Lexus RX 450h+ dan Mazda CX-80. Kedua model ini dipasarkan dengan harga yang menembus angka Rp 1 miliar, menjadikannya pilihan yang hanya terjangkau oleh kalangan konsumen tertentu. Segmentasi harga yang premium ini secara alami membatasi jangkauan pasar dan, akibatnya, volume penjualan mereka tidak mampu menyaingi popularitas model-model yang lebih terjangkau dari Tiongkok.
Perlu dicatat pula bahwa meskipun pertumbuhan PHEV patut diapresiasi, segmen mobil listrik murni (BEV) masih memegang kendali pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan. Data penjualan BEV pada periode Januari-April 2026 tercatat mencapai 47.781 unit, yang juga menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 89,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran dan adopsi terhadap kendaraan listrik secara umum terus meningkat, namun PHEV menawarkan alternatif yang menarik bagi mereka yang masih berhati-hati dalam bertransisi penuh ke mobil listrik.
Berikut adalah rincian distribusi mobil PHEV terlaris pada bulan April 2026:
| Model Kendaraan | Jumlah Penjualan (Unit) |
|---|---|
| Chery Tiggo 8 CSH | 229 |
| Wuling Eksion | 183 |
| Chery Tiggo 9 CSH | 52 |
| Geely Starray EM-i | 35 |
| Jaecoo J8 SHS | 31 |
| Mazda CX-80 | 14 |
| Wuling Darion | 10 |
| Lexus RX450h + | 9 |
| Jaecoo J7 SHS | 6 |
Tabel di atas memberikan gambaran yang jelas mengenai kekuatan pasar yang saat ini dipegang oleh merek-merek Tiongkok, terutama Chery dan Wuling. Dominasi ini diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan semakin banyaknya model PHEV baru yang kemungkinan akan diluncurkan oleh pabrikan-pabrikan tersebut di masa mendatang. Hal ini juga mengindikasikan bahwa strategi harga yang kompetitif dan fitur yang relevan dengan kebutuhan lokal menjadi kunci sukses dalam merebut hati konsumen Indonesia di segmen kendaraan ramah lingkungan yang sedang berkembang pesat ini. Pergeseran preferensi konsumen dan masuknya pemain baru yang agresif telah mengubah lanskap pasar PHEV secara drastis, membuka babak baru dalam elektrifikasi mobilitas di Indonesia.






