Barcelona, sang kampiun LaLiga musim 2025/2026, harus menelan pil pahit setelah tumbang 0-1 dari tuan rumah Deportivo Alaves dalam laga pekan ke-36 yang digelar di Estadio de Mendizorroza, Kamis (14/5/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini, yang terjadi tak lama setelah mereka resmi mengunci gelar juara, sekaligus memupus harapan untuk mengakhiri musim dengan rekor poin sempurna 100 angka.
Kemenangan Alaves, yang diraih berkat gol tunggal yang tak terbantahkan, menjadi pukulan telak bagi ambisi Barcelona untuk mencapai angka keramat tersebut. Sebelumnya, pasukan arahan Hansi Flick ini tercatat telah mengumpulkan 91 poin, dan dengan sisa dua pertandingan lagi, torehan 100 poin tampak begitu dekat. Namun, hasil di kandang Alaves ini membuat koleksi poin mereka terhenti, setidaknya untuk sementara, sebelum dua laga pamungkas musim ini.
Lebih dari sekadar kegagalan mencapai rekor poin, kekalahan ini juga mengakhiri rentetan kemenangan impresif Barcelona di liga domestik. Sejak 16 Februari lalu, ketika mereka takluk dari Girona dengan skor 1-2, Barcelona seolah tak terbendung dan berhasil menyapu bersih 11 pertandingan LaLiga berikutnya. Momentum positif yang dibangun secara susah payah ini pun terhenti secara mengejutkan di hadapan publik Mendizorroza.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, mengakui bahwa ia memang sengaja melakukan rotasi pemain dalam pertandingan ini. Keputusannya untuk memberikan kesempatan bermain kepada sejumlah pemain yang jarang mendapat menit tampil menunjukkan upaya untuk meratakan beban kerja dan memberi pengalaman kepada skuadnya. Flick memaparkan bahwa di babak pertama, timnya memang mampu mendominasi jalannya pertandingan, namun ia tak memungkiri bahwa Alaves memberikan perlawanan yang sangat sengit. Sang pelatih memahami betul perjuangan Alaves yang tengah mati-matian berjuang untuk lepas dari jerat zona degradasi dan memastikan diri bertahan di kasta tertinggi sepak bola Spanyol.
"Kami berupaya memberikan kesempatan bermain kepada pemain yang selama ini kurang mendapat menit bermain. Di paruh pertama pertandingan, kami memang mengendalikan permainan, namun pertandingan ini bukanlah pertandingan yang mudah. Mereka sedang berjuang keras untuk bertahan di liga ini, dan itu adalah hal yang wajar terjadi. Saya cukup senang dengan apa yang saya lihat dari para pemain," ujar Flick dalam keterangannya pasca-laga.
Flick menambahkan bahwa, meskipun hasil akhir tidak sesuai harapan, semangat untuk meraih kemenangan dan mengejar rekor 100 poin tetap menjadi motivasi timnya. Namun, ia menyadari bahwa dengan perubahan komposisi pemain dan semangat juang tinggi dari tim tuan rumah, target tersebut menjadi sulit untuk digapai.
"Kami sebenarnya ingin menang dan meraih 100 poin. Kini hal itu sudah tidak memungkinkan lagi. Namun, saya telah menyampaikan kepada para pemain bahwa saya menyukai apa yang saya lihat dari performa mereka di lapangan," lanjut mantan pelatih tim nasional Jerman tersebut.
Di akhir pernyataannya, Hansi Flick tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya atas kegagalan timnya meraih poin maksimal di sisa-sisa akhir musim ini. Meski begitu, ia menekankan pentingnya untuk menerima hasil yang ada dan tetap memberikan apresiasi atas kerja keras serta penampilan yang telah ditunjukkan oleh seluruh elemen tim di lapangan. "Saya merasa kecewa karena kami tidak berhasil mencapai target 100 poin, namun kita harus menerimanya," pungkas Flick.
Kekalahan ini tentu menjadi sebuah catatan minor bagi Barcelona di tengah perayaan gelar juara mereka. Namun, sebagai tim profesional, mereka diharapkan mampu bangkit dari kekecewaan ini dan fokus untuk menutup musim dengan dua kemenangan lagi. Perjuangan Alaves yang gigih patut diacungi jempol, dan kemenangan ini menjadi modal berharga bagi mereka dalam upaya bertahan di LaLiga. Bagi Barcelona, pelajaran kali ini adalah bahwa setiap pertandingan harus tetap dihadapi dengan keseriusan, bahkan ketika status juara sudah berada di genggaman.
Dalam konteks yang lebih luas, kekalahan Barcelona ini menunjukkan bahwa semangat kompetisi dalam sepak bola tidak pernah padam, bahkan bagi tim yang sudah meraih gelar. Alaves, dengan motivasi bertahan di liga, bermain dengan determinasi tinggi yang akhirnya membuahkan hasil. Hal ini menegaskan bahwa setiap tim memiliki ambisi dan tujuan masing-masing dalam setiap pertandingan, terlepas dari posisi mereka di klasemen.
Flick, sebagai nakhoda tim, menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi kekalahan. Ia tidak menyalahkan pemainnya secara individu, melainkan fokus pada aspek positif dari performa yang ditampilkan. Pemberian kesempatan kepada pemain muda atau cadangan juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang klub untuk membangun kedalaman skuad dan mempersiapkan generasi penerus. Meskipun target 100 poin terpaksa ditunda, pengalaman ini tetap berharga bagi perkembangan tim di masa mendatang.
Pertandingan ini juga menjadi pengingat bahwa LaLiga tetap menjadi kompetisi yang ketat dan penuh kejutan. Meskipun Barcelona telah mengunci gelar juara, tim-tim lain masih memiliki agenda dan target yang harus dikejar, baik itu untuk meraih posisi yang lebih baik, menghindari degradasi, atau sekadar memberikan penampilan terbaik di hadapan publik sendiri. Perjuangan Alaves untuk bertahan di kasta tertinggi patut diapresiasi, dan kemenangan melawan juara liga tentu memberikan suntikan moral yang luar biasa bagi mereka.
Pada akhirnya, kekalahan Barcelona dari Alaves ini menjadi babak penutup yang sedikit bernuansa kelabu di tengah euforia perayaan gelar. Namun, sejarah telah mencatat bahwa setiap perjalanan panjang selalu memiliki lika-liku, dan Barcelona, sebagai salah satu klub terbesar di dunia, tentu memiliki kapasitas untuk bangkit dari kekalahan ini dan kembali meraih kejayaan di musim-musim mendatang. Fokus kini beralih pada dua pertandingan sisa, di mana Barcelona masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki rekor poin mereka, meskipun target 100 poin telah pupus.






