Musim kompetisi 2026-2027 diperkirakan akan menyajikan tantangan jadwal yang luar biasa padat bagi dua tim papan atas Liga Indonesia, Persib Bandung dan Borneo FC. Kedua klub yang saat ini tengah bersaing ketat di puncak klasemen diprediksi bakal berlaga di empat ajang berbeda secara bersamaan, sebuah skenario yang akan menguji kedalaman skuad dan stamina para pemain hingga batas maksimal.
Hingga memasuki pekan ke-32, Persib Bandung dan Borneo FC menunjukkan performa impresif dengan mengoleksi poin yang sama, yaitu 75 poin. Persaingan sengit ini diprediksi akan berlangsung hingga akhir musim, dengan kemungkinan penentuan gelar juara baru terjadi di pekan terakhir kompetisi. Namun, kesuksesan dalam perburuan gelar ini justru membawa konsekuensi berupa jadwal pertandingan yang kian menumpuk.
Merujuk pada regulasi yang berlaku, tim yang berhasil menjuarai Liga Super musim 2025-2026 akan mendapatkan jatah untuk mengikuti babak playoff Liga Champions Asia 2 (ACL 2) musim 2026-2027. Sementara itu, tim yang menempati posisi runner-up akan langsung lolos ke fase grup AFC Challenge League (ACGL) musim 2026-2027. Ini berarti, setidaknya satu wakil Indonesia akan berlaga di kompetisi level Asia, yang otomatis menambah jumlah pertandingan internasional bagi klub tersebut.
Tidak hanya berhenti di kancah Asia, kedua tim juga dijadwalkan untuk berpartisipasi dalam ASEAN Club Championship (ACC). Hingga saat ini, Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF) belum mengumumkan perubahan signifikan terkait syarat keikutsertaan dalam turnamen regional ini. Berdasarkan tren dan regulasi sebelumnya, AFF cenderung mewajibkan setiap negara mengirimkan perwakilannya dari klub juara dan runner-up liga domestik masing-masing.
Asep Saputra, selaku Direktur Kompetisi I.League, menjelaskan bahwa skema kompetisi untuk musim mendatang belum mengalami perubahan drastis. Ia mengonfirmasi bahwa klub juara dan runner-up Liga Super akan memiliki potensi untuk mengikuti playoff ACL 2 dan fase grup ACGL. Terkait ACC, Asep Saputra mengacu pada peraturan awal yang menyebutkan bahwa slot peserta berasal dari peringkat teratas liga domestik, yaitu juara, runner-up, dan bahkan mungkin peringkat ketiga dan seterusnya.
"Status kompetisi kita untuk musim depan belum ada perubahan signifikan. Masih ada jalur playoff ACL 2 dan juga AFC Challenge League. Untuk turnamen ASEAN (ACC), jika kita merujuk pada regulasi entry, memang disebutkan bahwa klub yang berhak berpartisipasi adalah tim juara dan peringkat terbaik berikutnya. Jadi, tim peringkat satu, dua, tiga, dan seterusnya," ungkap Asep Saputra.
Asep Saputra mengakui bahwa regulasi ini berpotensi membuat tim juara dan runner-up Liga Super musim ini menjadi klub yang paling sibuk di antara peserta liga lainnya. Situasi ini berbeda dengan kebijakan yang diterapkan pada musim 2024-2025. Kala itu, terdapat upaya dari operator liga untuk mendorong tim peringkat ketiga dan keempat, yaitu Malut United dan Persebaya Surabaya, untuk mengikuti ACC. Tujuannya adalah agar klub juara dan runner-up bisa lebih memfokuskan energi pada kompetisi level Asia. Namun, upaya tersebut tidak mendapatkan persetujuan dari AFF, yang berujung pada batalnya partisipasi klub Indonesia di edisi perdana ACC.
Kini, tantangan bagi klub-klub Indonesia akan semakin kompleks. Selain kompetisi internasional, ajang domestik pun diproyeksikan akan semakin padat dengan rencana digulirkannya kembali Piala Indonesia. Penjadwalan kompetisi domestik, termasuk Liga Super, kemungkinan besar baru akan dimulai pada bulan September. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan pelaksanaan Piala AFF 2026 atau ASEAN Championship 2026 yang dijadwalkan berlangsung lebih awal.
"Dalam pertemuan terakhir dengan perwakilan klub-klub, telah disampaikan bahwa musim depan diprediksi akan sangat menantang. Tim juara, sekali lagi, jika memang tidak ada pilihan lain, harus siap bermain di banyak kompetisi, termasuk ASEAN Club Championship," ujar Asep Saputra.
Lebih lanjut, Asep Saputra menambahkan bahwa musim depan akan menjadi periode yang sangat panjang dan melelahkan bagi para pemilik klub dan jajaran pelatih. Selain beban kompetisi AFC, akan ada jeda panjang yang signifikan akibat keterlibatan tim nasional senior Indonesia dalam ajang Piala Asia. Jeda ini tentu akan memengaruhi ritme persiapan dan pertandingan klub.
"Belum lagi ditambah dengan adanya aspirasi untuk menggelar turnamen liga domestik seperti Piala Indonesia dan agenda lainnya. Jadi, tugas kami adalah bagaimana memastikan penyusunan jadwal ini dapat berjalan lebih baik dan meminimalkan potensi bentrokan agenda yang merugikan," pungkas Asep Saputra.
Perubahan regulasi dan potensi keikutsertaan dalam berbagai kompetisi ini mengharuskan klub-klub seperti Persib Bandung dan Borneo FC untuk melakukan persiapan matang, baik dari segi kedalaman skuad, manajemen kebugaran pemain, hingga strategi rotasi. Pengelolaan jadwal yang cermat akan menjadi kunci agar tim tidak kehabisan tenaga di tengah musim kompetisi yang padat.






