Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di seluruh Indonesia menjelang periode libur panjang pertengahan Mei 2026. Kenaikan ini menyentuh berbagai merek, mulai dari PT Pertamina (Persero) hingga operator swasta seperti Shell, BP, dan Vivo Energy, dengan sorotan utama pada kenaikan tajam harga solar non-subsidi yang menembus angka fantastis.
Kondisi ini, menurut analisis pasar, dipicu oleh gejolak harga minyak mentah dunia yang sempat melesat hingga US$100 per barel. Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi biang kerok utama yang mengguncang stabilitas pasokan energi global, berujung pada imbas langsung ke harga BBM di tingkat konsumen.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, dampak paling signifikan dirasakan oleh pengguna kendaraan bermesin diesel. Jenis BBM diesel non-subsidi mengalami lonjakan harga yang jauh lebih agresif dibandingkan varian bensin di seluruh lini operator SPBU. Fenomena ini tentu saja mengharuskan para pemilik kendaraan diesel untuk melakukan kalkulasi ulang biaya operasional, terutama bagi mereka yang merencanakan perjalanan jarak jauh atau mudik.
Menariknya, SPBU Shell kembali menyediakan stok produk dieselnya di wilayah Pulau Jawa setelah sempat mengalami kendala pasokan. Namun, ketersediaan ini datang dengan banderol harga yang cukup tinggi, yakni Rp30.890 per liter. Dengan angka tersebut, Shell memposisikan diri sebagai salah satu penyedia bahan bakar diesel dengan tarif premium di pasar saat ini.
Beralih ke operator BP, perusahaan ini juga melakukan penyesuaian harga pada seluruh lini produknya. Meski harga dieselnya mengalami kenaikan, BP masih berupaya menjaga daya saing di segmen bensin dengan RON 92 ke atas, di mana tarifnya masih bersaing ketat dengan yang ditawarkan oleh Pertamina.
Rincian harga terbaru di SPBU BP menunjukkan BP Ultimate dibanderol Rp12.930 per liter dan BP 92 seharga Rp12.390 per liter. Sementara itu, untuk varian dieselnya, BP Ultimate Diesel dipasarkan dengan harga Rp29.890 per liter.
Sementara itu, Vivo Energy tampaknya masih mengadopsi kebijakan harga yang telah ditetapkan pada awal Mei 2026. Produk Revvo 92 dari Vivo dijual dengan harga Rp12.390 per liter. Namun, untuk varian dieselnya, yakni Diesel Primus, Vivo Energy membanderolnya di angka Rp30.890 per liter, sebuah harga yang setara dengan yang ditawarkan oleh Shell, menegaskan tren kenaikan harga solar non-subsidi.
Pertamina, sebagai badan usaha milik negara, menerapkan skema harga yang lebih bervariasi di seluruh Indonesia. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor geografis, kebijakan distribusi, serta perbedaan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) di masing-masing provinsi.
Sebagai gambaran, per tanggal 15 Mei 2026, harga Pertamax di wilayah DKI Jakarta dan Jawa dipatok sebesar Rp12.300 per liter. Sementara itu, Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter, Dexlite Rp26.000 per liter, dan Biosolar Rp6.800 per liter. Di Sumatera Utara, harga Pertamax sedikit lebih tinggi, yakni Rp12.600 per liter, dengan Dexlite Rp26.600 per liter, sementara Pertalite dan Biosolar tetap sama.
Untuk wilayah Riau dan Kepulauan Riau, yang memiliki PBBKB 10 persen, harga Pertamax adalah Rp12.900 per liter, dan Dexlite mencapai Rp27.150 per liter. Menariknya, wilayah Free Trade Zone (FTZ) seperti Batam menunjukkan harga yang lebih terjangkau berkat kebijakan insentif pajak. Di Batam, Pertamax dijual seharga Rp11.750 per liter, Dexlite Rp24.700 per liter, sementara Pertalite dan Biosolar tetap pada harga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
Provinsi-provinsi lain seperti Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki harga Pertamax yang sama dengan DKI Jakarta, yaitu Rp12.300 per liter, dan Dexlite Rp26.000 per liter. Wilayah Kalimantan, Papua, dan Maluku juga memiliki banderol harga yang relatif sama untuk Pertamax (Rp12.600 per liter) dan Dexlite (Rp26.600 per liter).
Perlu dicatat, data di atas hanya mencakup beberapa wilayah utama dan jenis BBM tertentu. Pertamina Dex, misalnya, di wilayah dengan PBBKB 10 persen seperti Riau dan Kepulauan Riau, tercatat mencapai Rp29.100 per liter. Ketersediaan dan harga spesifik di setiap SPBU mungkin memiliki sedikit variasi.
Oleh karena itu, sangat disarankan bagi para pengguna kendaraan, terutama yang merencanakan perjalanan panjang atau mudik, untuk selalu melakukan pengecekan harga BBM secara berkala sebelum melakukan pengisian. Informasi terkini dapat diperoleh melalui aplikasi resmi perusahaan penyedia BBM atau dengan memantau papan informasi harga di setiap SPBU.
Lonjakan harga diesel ini menjadi pengingat penting akan volatilitas pasar energi global dan dampaknya yang merembet ke berbagai sektor, termasuk mobilitas masyarakat. Penyesuaian anggaran dan perencanaan perjalanan yang matang menjadi kunci untuk menghadapi dinamika harga BBM yang terus berubah.






