Rahasia Perawatan Baterai Mobil Listrik: Jangan Sampai ‘Habis’

Ridwan Hanif

Perkembangan pesat kendaraan listrik di Indonesia kian tak terbendung. Semakin banyaknya model yang ditawarkan dan meluasnya infrastruktur pengisian daya turut mendorong minat masyarakat. Namun, seiring dengan adopsi teknologi ini, muncul pula tantangan baru terkait pemeliharaan komponen vitalnya, yakni baterai. Sebuah kebiasaan umum yang sering dilakukan oleh pemilik mobil listrik, yaitu membiarkan daya baterai terkuras hingga level yang sangat rendah secara berulang, ternyata memiliki implikasi serius terhadap performa dan usia pakai baterai dalam jangka panjang.

Para ahli perawatan kendaraan listrik menekankan pentingnya pemahaman mendalam mengenai cara merawat baterai mobil listrik. Kesalahan paling umum yang perlu dihindari adalah kebiasaan menguras daya baterai hingga mendekati nol persen. Kebiasaan ini, meskipun terlihat sepele, memberikan beban berlebih pada sel-sel baterai dan mempercepat proses degradasi kemampuannya dalam menyimpan energi.

Mahaendra Gofar, seorang pakar dan pendiri EVSafe, menjelaskan bahwa kondisi daya baterai yang ekstrem, baik terlalu penuh maupun terlalu kosong, merupakan pemicu utama penurunan kualitas baterai. Membiarkan baterai mencapai titik terendah secara terus-menerus memberikan tekanan signifikan pada struktur internal sel-sel baterai. "Tingkat pengosongan baterai secara ekstrem, atau yang biasa disebut depth of discharge, adalah salah satu faktor krusial yang mempercepat penurunan performa baterai. Pengisian daya hingga penuh 100% atau membiarkan baterai hingga benar-benar habis hingga 0% sama-sama kurang ideal bagi kesehatan baterai dalam jangka panjang," ujar Gofar.

Setiap komponen baterai pada kendaraan listrik dirancang untuk beroperasi dalam rentang efisiensi optimal guna memaksimalkan masa pakainya. Oleh karena itu, sangat tidak disarankan bagi para pemilik untuk menunggu hingga indikator daya menunjukkan angka kritis sebelum mencari sumber pengisian daya. Tindakan ini tidak hanya berdampak pada penurunan kinerja baterai, tetapi juga dapat meningkatkan risiko stres termal pada komponen tersebut. Situasi ini menjadi semakin berbahaya apabila kendaraan dengan daya yang sangat minim langsung dihubungkan ke stasiun pengisian daya cepat (fast charging). Panas berlebih yang dihasilkan dapat merusak sel-sel baterai secara permanen.

Lebih jauh lagi, membiarkan baterai dalam kondisi kritis tidak hanya berdampak pada aspek teknis kendaraan, tetapi juga memengaruhi pengalaman berkendara. Kondisi ini seringkali memicu perasaan cemas atau yang dikenal sebagai range anxiety, yaitu kekhawatiran berlebih bahwa kendaraan akan kehabisan daya dan mogok sebelum mencapai tujuan. Kecemasan ini dapat mengurangi kenyamanan dan kenikmatan saat melakukan perjalanan.

Untuk menjaga stabilitas dan performa sel baterai agar tetap optimal, para pakar otomotif dan produsen kendaraan listrik secara konsisten merekomendasikan agar level daya baterai dijaga dalam rentang ideal, yaitu antara 20% hingga 80%. Pengaturan pola pengisian daya seperti ini dianggap paling efektif untuk penggunaan kendaraan sehari-hari, memastikan baterai tidak mengalami tekanan berlebih dan tetap berada dalam kondisi prima. Dengan menjaga baterai dalam rentang ini, pemilik dapat memperpanjang umur pakai baterai secara signifikan.

Mahaendra Gofar menambahkan bahwa selain pola pengisian daya, faktor-faktor lain yang turut memengaruhi degradasi baterai meliputi paparan terhadap suhu lingkungan yang ekstrem, baik panas maupun dingin, serta frekuensi penggunaan teknologi pengisian daya cepat. Usia kendaraan itu sendiri, yang meliputi siklus pengisian daya dan penggunaan harian, juga berkontribusi terhadap penurunan kapasitas baterai seiring waktu.

Penting untuk dipahami bahwa penyusutan performa baterai merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari sepenuhnya seiring bertambahnya usia kendaraan. Namun, dengan menerapkan kebiasaan perawatan yang disiplin dan pola penggunaan yang bijaksana, proses penurunan kapasitas energi baterai dapat diperlambat secara efektif. Pemilik kendaraan listrik diharapkan untuk lebih proaktif dalam memantau kondisi baterai dan mengadopsi praktik terbaik yang direkomendasikan oleh para ahli.

Memahami siklus hidup baterai dan bagaimana cara merawatnya dengan benar adalah kunci untuk memaksimalkan investasi pada kendaraan listrik. Kebiasaan kecil seperti menjaga level baterai di rentang ideal dapat memberikan dampak besar pada performa jangka panjang dan mengurangi frekuensi penggantian baterai yang mahal. Dengan demikian, pemilik dapat menikmati pengalaman berkendara yang lebih andal dan berkelanjutan, sambil turut berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih. Perawatan baterai yang tepat bukan hanya soal menjaga performa, tetapi juga tentang memaksimalkan nilai investasi kendaraan listrik Anda.

Also Read

Tags