Isu raksasa tengah bergulir di dunia bisnis, saat kabar mengenai rencana investasi Danantara yang disebut mencapai nilai fantastis Rp 130 triliun ke Amerika Serikat (AS) mencuat ke permukaan. Sorotan ini muncul seiring penguatan hubungan dagang Indonesia-AS, di mana Negeri Paman Sam telah memangkas tarif impor untuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Namun di tengah hembusan isu ekspansi ke luar negeri, CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, memilih untuk meluruskan arah narasi. Ia menekankan bahwa perusahaan tetap menjadikan tanah air sebagai ladang utama penanaman modal mereka.
“Kita evaluasi semua potensi investasi. Kita kan fokusnya di Indonesia dulu,” ujar Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (22/7/2025).
Portofolio Global Hanya Pendukung, Fokus Tetap Nasional
Menurut Rosan, meskipun peluang luar negeri tetap dibuka, porsinya hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan strategi bisnis Danantara. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 80% investasi perusahaan diarahkan ke dalam negeri, sementara sisanya—sekitar 20%—ditanamkan ke proyek luar negeri yang dianggap strategis dan menguntungkan.
Tak menutup kemungkinan, proyek-proyek internasional tetap akan dijajaki dengan syarat ketat. Rosan menegaskan bahwa keputusan untuk masuk ke pasar luar negeri harus memenuhi tiga kriteria utama: menghadirkan alih teknologi, menciptakan peluang kerja, serta memberikan imbal hasil yang kompetitif dibanding biaya modal (cost of capital).
“Kita lihat semua (potensi), tak hanya di AS tapi juga di negara lain. Yang penting ada transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan return sesuai di atas cost of capital,” jelasnya.
Danantara Dikaitkan dengan Proyek Kilang Modular
Sebelumnya, laporan Reuters mengungkapkan bahwa Danantara disebut akan menandatangani kontrak besar senilai US$ 8 miliar—setara dengan Rp 130 triliun—dengan perusahaan teknik asal Amerika, KBR Inc. Kontrak tersebut dikaitkan dengan pengembangan 17 unit kilang modular yang akan dibangun di wilayah Indonesia.
Proyek ini diyakini menjadi bagian dari hasil pertemuan dagang antara Indonesia dan AS yang baru saja rampung pekan lalu. Salah satu poin penting dari kesepakatan tersebut adalah penurunan tarif bea masuk AS terhadap barang ekspor Indonesia, yang dinilai sebagai angin segar bagi iklim investasi kedua negara.
Gambaran Investasi: Menanam Benih di Ladang Sendiri, Menjajaki Kebun Orang Lain
Rosan melalui pernyataannya mengilustrasikan posisi Danantara ibarat petani yang tetap menanam benih di ladangnya sendiri, sambil tetap mengamati lahan subur lain yang bisa digarap, asal memberikan hasil yang setara atau lebih tinggi.
Meski proyek di AS menjadi sorotan global, pernyataan Rosan menegaskan bahwa Danantara tidak tergoda semata oleh nilai investasi besar, melainkan tetap mengutamakan kontribusi nyata untuk pembangunan nasional. Alih teknologi dan pembukaan lapangan kerja di dalam negeri menjadi fondasi utama yang tak bisa ditawar.