Insiden berdarah terjadi di Bandara Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, saat pesawat Smart Air PK-SNR menjadi sasaran tembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang dipimpin Elkius Kobak. Dua awak pesawat, Egon Irawan dan Baskoro, sempat berupaya melarikan diri sebelum akhirnya tertangkap dan ditembak di landasan pacu.
Peristiwa itu bermula ketika pesawat mendarat pada Rabu (11/2) sekitar pukul 10.30 WIT. Situasi yang awalnya tampak normal berubah menjadi mencekam dalam hitungan menit. Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Brigjen Faizal Ramadhani, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara, serangan terjadi tak lama setelah penumpang turun dari pesawat.
“Sekitar kurang lebih 20 orang pelaku muncul dari arah penginapan bandara dengan membawa senjata api dan melepaskan tembakan dari jarak sekitar 200 meter ke arah pesawat,” kata Brigjen Faizal.
Tembakan dari jarak ratusan meter itu memecah ketenangan bandara yang biasanya sunyi. Suara letusan senjata menggantikan deru mesin pesawat, menciptakan kepanikan yang menyebar cepat seperti gelombang kejut. Penumpang yang baru saja menjejakkan kaki di darat sontak berlarian mencari perlindungan. Dalam situasi genting itu, naluri bertahan hidup mengambil alih.
Faizal menyebut kondisi tersebut membuat suasana berubah drastis. Dari yang semula tertib menjadi kacau, dari yang semula aman menjadi penuh ancaman. Kepanikan bukan sekadar rasa takut, tetapi reaksi spontan tubuh untuk menghindari bahaya yang nyata di depan mata.
Pilot dan kopilot pesawat, yang bertanggung jawab atas keselamatan penerbangan, juga berusaha menyelamatkan diri. Mereka berlari menjauh dari pesawat menuju rumah warga di sekitar bandara. Tindakan itu mencerminkan upaya mencari tempat aman di tengah situasi yang tak terkendali.
“Pilot dan kopilot turut berlari menuju rumah warga di sekitar bandara, namun keduanya dikejar oleh para pelaku (KKB),” bebernya.
Upaya kabur tersebut pada akhirnya tidak membuahkan hasil. Keduanya tertangkap oleh kelompok bersenjata dan dibawa kembali ke area bandara. Jika sebelumnya mereka berlari menjauh dari ancaman, kini mereka justru digiring kembali ke titik awal, ke tempat di mana bahaya bermula.
Tak lama setelah itu, tragedi mencapai puncaknya. Di landasan pacu—tempat yang semestinya menjadi simbol mobilitas dan penghubung antarwilayah—nyawa kedua awak pesawat itu direnggut. Landasan yang biasanya menjadi jalur lepas landas dan pendaratan berubah menjadi saksi bisu aksi kekerasan.
Penembakan tersebut menambah daftar panjang gangguan keamanan di wilayah Papua, khususnya yang melibatkan kelompok kriminal bersenjata. Dalam konteks ini, keamanan dan ketidakamanan berdiri sebagai dua kutub yang saling bertolak belakang. Ketika keamanan berarti perlindungan dan kepastian, maka serangan bersenjata menghadirkan ketakutan dan ketidakpastian.
Operasi Damai Cartenz sendiri selama ini difokuskan untuk menjaga stabilitas dan menindak aksi kekerasan bersenjata di Papua. Namun insiden di Bandara Korowai menunjukkan bahwa ancaman masih nyata dan dapat muncul secara tiba-tiba, bahkan di fasilitas publik seperti bandara.
Peristiwa tersebut tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang jaminan keselamatan penerbangan perintis di daerah rawan konflik. Pesawat perintis selama ini menjadi urat nadi distribusi logistik dan mobilitas warga di wilayah terpencil. Ketika jalur udara terganggu, dampaknya bisa meluas pada aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
Tragedi ini menggambarkan betapa rapuhnya rasa aman ketika kekerasan bersenjata terjadi di ruang publik. Bandara yang seharusnya menjadi gerbang konektivitas justru berubah menjadi arena serangan. Di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas, insiden ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah dalam menciptakan Papua yang aman dan damai masih panjang.
Kini, aparat keamanan terus melakukan langkah lanjutan untuk memburu para pelaku serta memperkuat pengamanan di wilayah tersebut. Sementara itu, duka mendalam menyelimuti keluarga dan rekan kerja kedua awak pesawat yang gugur dalam tugas.






