Detik-Detik Terakhir Pramugari Ester: Pesan Maaf untuk Sang Ayah Sebelum ATR 42-500 Jatuh

Sahrul

Sebuah percakapan sederhana di malam hari kini menjelma menjadi kenangan yang membekas dalam bagi keluarga pramugari Esther Aprilita S. Malam sebelum ia menjalankan tugas penerbangan, Ester masih menyempatkan diri berkomunikasi dengan sang ayah, Adi Saputra. Tak ada firasat buruk kala itu, hanya satu kalimat yang terdengar berbeda dari biasanya: permintaan maaf.

Ester diketahui menjadi salah satu awak kabin pesawat ATR 42-500 yang kemudian mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dalam komunikasi terakhir tersebut, Ester mengutarakan penyesalan seolah ingin merapikan hubungan batin sebelum kembali mengudara.

“Terakhir komunikasi itu malam Sabtu (16/1). Dia minta maaf kalau ada salah. Biasanya nggak begitu,” kata Adi kepada wartawan di Posko Greeters and Meeters Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Senin (19/1/2026).

Bagi Adi, ungkapan itu terasa janggal. Sebagai seorang ayah, ia mengenal betul kebiasaan putri sulungnya. Permintaan maaf yang tiba-tiba itu kini terasa seperti pesan yang tertinggal di antara jarak dan waktu, tepat sebelum takdir mengambil alih arah perjalanan.

Ayah Datang dari Bogor, Ikuti Proses Identifikasi

Setelah pesawat dinyatakan hilang kontak, Adi Saputra bersama satu anaknya segera bertolak dari Bogor, Jawa Barat, menuju Makassar. Mereka tiba sejak Sabtu malam, sehari setelah pesawat tersebut dilaporkan tidak dapat dihubungi. Kedatangan itu bukan sekadar menunggu kabar, tetapi juga mengikuti prosedur yang diperlukan dalam proses identifikasi korban.

Adi mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalani pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara Makassar. Proses tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi jika nantinya identifikasi korban diperlukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).

Meski demikian, harapan tetap ia genggam erat. Sebagai orang tua, Adi masih menyimpan keyakinan agar putrinya dapat ditemukan dalam kondisi selamat dan kembali ke rumah mereka di Bogor, Jawa Barat.

Rekam Jejak Tugas dan Dedikasi Ester

Dalam ingatan Adi, Ester bukan hanya seorang pramugari, melainkan sosok anak yang penuh perhatian dan memiliki kepribadian lembut. Dunia penerbangan telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun, dijalani dengan dedikasi dan tanggung jawab.

“Dia standby di Halim. Kalau rute kita nggak tahu, biasanya dari Halim ke Jogja,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan rutinitas kerja Ester yang kerap bersiaga di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Meski sering berpindah rute, Ester tetap menjaga komunikasi dengan keluarga, menjadikan rumah sebagai titik pulang emosional di tengah jadwal terbang yang padat.

“Dia orangnya baik. (Jadi pramugari) 6 jalan ke 7 tahun,” jelas Adi.

Hampir tujuh tahun bekerja sebagai pramugari, Ester telah terbiasa menghadapi ritme kerja yang menuntut kedisiplinan tinggi. Namun di balik seragam dan senyum profesional, ia tetaplah seorang anak yang terikat kuat dengan keluarganya.

Operasi SAR Hadapi Tantangan Alam

Sementara keluarga menunggu dengan doa, proses pencarian pesawat dan para penumpangnya terus berlangsung. Operasi pencarian dan evakuasi memasuki hari ketiga sejak pesawat dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1). Alam seakan menjadi lawan yang tak mudah ditaklukkan.

Kabut tebal menyelimuti kawasan Gunung Bulusaraung, berpadu dengan medan terjal yang menyulitkan pergerakan tim SAR gabungan. Kondisi ini memperlambat proses pencarian, meski upaya terus dilakukan tanpa henti.

Hingga kini, tim SAR telah menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada Minggu (18/1), sementara korban kedua ditemukan sehari setelahnya.

“Telah ditemukan (lagi) satu korban,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Senin (19/1).

Syafii menjelaskan bahwa korban kedua ditemukan pada siang hari, sekitar pukul 14.00 Wita. Berdasarkan laporan awal dari lapangan, korban tersebut berjenis kelamin perempuan, meski identitasnya belum dapat dipastikan.

“Nanti mungkin (identitas korban) persisnya dari DVI, tapi dari informasi awal bahwa korban pertama yang kita temukan berjenis kelamin laki-laki dan kedua informasi yang kita dapatkan berjenis kelamin perempuan,” bebernya.

Menanti Kepastian di Tengah Ketidakpastian

Kini, keluarga Ester dan keluarga korban lainnya masih berada di ruang antara harapan dan kenyataan. Di tengah kabut yang menyelimuti gunung dan ketidakpastian hasil pencarian, satu pesan sederhana dari Ester—permintaan maaf kepada ayahnya—menjadi pengingat betapa rapuhnya jarak antara rutinitas dan tragedi.

Pencarian terus berlanjut, sementara doa-doa dipanjatkan, berharap alam membuka jalan bagi kepastian.

Also Read

Tags