Dua Wajah Mata Uang Iran: Rial Resmi dan Toman Populer di Tengah Badai Ekonomi

Fahmi Idris

Ketegangan geopolitik yang memuncak dan kebijakan ekonomi global yang dinamis belakangan ini telah menempatkan mata uang Iran di bawah sorotan tajam. Salah satu dampak signifikan terlihat pada pelemahan nilai tukar mata uang nasional Iran, rial. Kondisi ini diperparah oleh langkah tegas Amerika Serikat yang memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang masih mempertahankan hubungan dagang dengan Iran, memicu ketidakpastian ekonomi yang mendalam bagi perekonomian Iran, termasuk inflasi yang berkepanjangan.

Namun, di tengah hiruk-pikuk pemberitaan mengenai pergerakan rial di pasar internasional, muncul fenomena menarik ketika seseorang berkunjung langsung ke Iran. Baik di pasar tradisional yang ramai maupun di pusat perbelanjaan modern, istilah "rial" jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari terkait transaksi. Alih-alih, masyarakat lokal lebih akrab menggunakan sebutan "toman" saat menyebut harga barang maupun jasa.

Fenomena ini bukanlah tanpa alasan. Tingkat inflasi yang tinggi di Iran menjadi pemicu utama. Untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi dan menghindari penyebutan angka yang terlalu panjang dan membingungkan, Iran secara informal mengadopsi sistem hitung alternatif yang dikenal sebagai toman. Sistem ini, meski tidak menggantikan status hukum rial, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi sehari-hari warga Iran.

Lantas, apa sebenarnya mata uang resmi yang diakui secara hukum di Iran, dan bagaimana perbedaan mendasar antara rial dan toman yang seringkali menimbulkan kebingungan bagi wisatawan maupun para pengamat ekonomi internasional? Mari kita selami lebih dalam untuk memahami kedua wajah mata uang Iran ini.

Secara hukum dan administratif, Iran secara resmi menetapkan "rial" sebagai mata uangnya. Ini adalah unit moneter yang tercantum dalam dokumen resmi, sistem perbankan, dan digunakan dalam transaksi bernilai besar serta pencantuman harga di pusat perbelanjaan modern. Kode internasional untuk rial adalah IRR. Semua urusan negara, mulai dari anggaran, utang, hingga pencatatan keuangan resmi, menggunakan satuan rial.

Kendati demikian, dalam praktik sehari-hari, rial nyaris tak pernah diucapkan oleh masyarakat Iran saat melakukan jual beli. Mereka lebih memilih menggunakan "toman" sebagai satuan hitung yang lebih praktis. Perbedaan mendasar antara rial dan toman terletak pada nilai tukarnya yang ditetapkan secara informal. Satu toman setara dengan sepuluh ribu rial. Dengan kata lain, toman adalah rial yang telah "dipangkas" empat angka nol. Penyederhanaan ini sangat membantu dalam komunikasi harga, menghindari deretan angka yang panjang dan berpotensi membingungkan.

Secara historis dan yuridis, rial tetap menjadi mata uang yang sah. Uang kertas yang beredar dicetak dalam nominal rial dan digunakan dalam semua dokumen keuangan resmi. Namun, akibat tekanan inflasi yang terus menerus menggerus nilai tukar rial, masyarakat Iran secara kolektif mengadopsi sistem penyebutan harga yang lebih sederhana melalui toman. Rumus dasarnya sangat mudah dipahami: satu toman sama dengan sepuluh ribu rial.

Sebagai contoh konkrit, jika seorang pedagang di Iran menyebutkan harga sebuah barang sebesar 60.000 toman, maka nilai sebenarnya yang harus dibayarkan adalah 600.000 rial. Perbedaan cara penyebutan inilah yang seringkali menjadi sumber kebingungan bagi turis asing yang baru pertama kali berkunjung ke Iran dan belum terbiasa dengan sistem informal ini. Mereka mungkin kesulitan memahami berapa nilai sebenarnya dari harga yang disebutkan dalam toman jika dikonversikan ke rial.

Untuk mengatasi kebingungan yang sudah berlangsung lama ini dan menyederhanakan sistem keuangan nasional secara keseluruhan, Pemerintah Iran, melalui Bank Sentral Iran (Central Bank of Iran/CBI), telah mengambil langkah strategis. Sejak tahun 2020, Iran mulai menggulirkan kebijakan redenominasi mata uang. Proses ini direncanakan akan dijalankan secara lebih luas dan bertahap, dengan target utama pada periode 2025 hingga 2026.

Melalui kebijakan redenominasi ini, Iran secara resmi akan mengganti satuan mata uang utamanya dari rial menjadi "toman" versi baru. Perubahan ini melibatkan pemangkasan empat angka nol dari nilai rial lama. Dengan skema baru ini, 10.000 rial lama akan disetarakan dengan 1 toman baru. Mata uang baru ini juga akan dibagi lagi ke dalam pecahan yang lebih kecil yang disebut "qiran", di mana satu toman baru akan terdiri atas 100 qiran.

Selama masa transisi, uang kertas lama yang masih beredar dalam satuan rial akan tetap berlaku dan dapat digunakan bersamaan dengan uang baru. Uang kertas yang akan diterbitkan kemudian akan menampilkan nominal yang lebih kecil, disertai dengan bayangan angka nol sebagai penanda perubahan sistem dan penyesuaian bertahap bagi masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memastikan kelancaran transisi dan meminimalkan gejolak dalam sistem pembayaran.

Penting untuk dicatat bahwa pelemahan mata uang Iran tidak hanya disebabkan oleh sanksi internasional semata. Berbagai faktor struktural dan ekonomi internal juga berkontribusi signifikan terhadap kondisi ini. Inflasi yang tinggi, ketidakstabilan politik, dan ketergantungan pada ekspor minyak mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global, semuanya memainkan peran dalam menekan nilai tukar rial. Kebijakan redenominasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki persepsi dan stabilitas ekonomi Iran di masa depan, meskipun tantangan fundamental tetap ada.

Also Read

Tags