Laporan terbaru yang bersumber dari analisis Angkatan Udara Ukraina mengungkap dinamika baru dalam pola serangan Rusia sepanjang Desember 2025. Jika dilihat dari frekuensi, tekanan udara Moskow memang menunjukkan sedikit pelonggaran. Namun di balik angka yang menurun itu, efek destruktifnya tetap terasa tajam, terutama terhadap sektor energi yang menjadi urat nadi kehidupan sipil di Ukraina.
Serangan udara yang mengombinasikan drone dan rudal masih menjadi senjata utama Rusia. Meski laju serangan tidak setinggi bulan sebelumnya, gempuran tersebut berhasil melumpuhkan sejumlah infrastruktur vital. Akibatnya, ratusan ribu warga terpaksa menghadapi pemadaman listrik, sebuah situasi yang di musim dingin berubah menjadi krisis kemanusiaan tersendiri.
Berdasarkan kompilasi data AFP, Kamis (1/6/2025), Rusia tercatat meluncurkan sedikitnya 5.134 unit drone dalam rangkaian serangan malam hari selama bulan terakhir 2025. Jumlah ini memang lebih rendah sekitar 6 persen dibandingkan November. Tren serupa juga terlihat pada penggunaan rudal, yang bahkan mengalami penurunan lebih dalam, yakni sekitar 18 persen dalam rentang waktu yang sama.
Namun, penurunan kuantitas tidak serta-merta berbanding lurus dengan melemahnya ancaman. Di sisi lain, kemampuan pertahanan udara Ukraina justru mengalami sedikit kemunduran. Jika pada November tingkat keberhasilan penangkalan mencapai 82 persen, maka pada Desember angka tersebut turun menjadi 80 persen. Selisih kecil ini menjadi krusial ketika setiap celah berarti potensi kehancuran tambahan di darat.
Situasi ini berlangsung di tengah tekanan berlapis yang dihadapi Kyiv. Dari udara, serangan tanpa henti terus menghantam target strategis. Di darat, pasukan Ukraina juga menghadapi tantangan berat akibat kekalahan di beberapa titik medan tempur. Kondisi tersebut membuat posisi Ukraina ibarat berdiri di bawah hujan besi, dengan perlindungan yang mulai menipis.
Tanda-tanda eskalasi baru juga mulai tercium. Ketegangan meningkat seiring munculnya laporan serangan yang menyasar rumah pribadi Presiden Rusia Vladimir Putin. Insiden tersebut memunculkan spekulasi bahwa Moskow berpotensi meningkatkan intensitas serangan sebagai bentuk respons atau pembalasan, meski sejauh ini belum ada pernyataan resmi yang merinci arah kebijakan berikutnya.
Catatan lain yang tak kalah penting, Rusia disebut telah melancarkan serangan drone ke wilayah Ukraina hampir setiap malam tanpa jeda sejak Mei 2025. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah serangan bisa naik-turun, tekanan psikologis dan militer tetap dijaga secara konsisten, layaknya tetesan air yang terus mengikis batu.
Di ranah diplomasi, upaya untuk meredam konflik masih menemui jalan buntu. Inisiatif yang digulirkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum berhasil memancing konsesi signifikan dari Kremlin. Hingga kini, jalur perundingan tampak belum mampu menghentikan deru mesin perang, sementara Ukraina masih harus bertahan menghadapi kombinasi serangan fisik dan krisis energi yang berkepanjangan.






