Gencatan Senjata Dilanggar, Korban Jiwa Bertambah di Gaza

Sahrul

Ketegangan di Jalur Gaza kembali memanas setelah Israel dilaporkan melakukan serangan yang disebut melanggar kesepakatan gencatan senjata. Dalam kurun 24 jam terakhir, sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas akibat rentetan serangan tersebut, menambah daftar panjang korban di wilayah yang masih diliputi ketidakpastian.

Mengutip laporan Al Jazeera, Minggu (15/2/2026), setidaknya sembilan warga Palestina meninggal dunia sejak waktu subuh. Serangan pertama terjadi di Jabalia, kawasan di bagian utara Jalur Gaza. Di lokasi itu, pasukan Israel menargetkan sebuah tenda yang digunakan para pengungsi sebagai tempat berlindung—ruang darurat yang bagi banyak keluarga menjadi satu-satunya atap peneduh di tengah konflik berkepanjangan.

Tak lama berselang, serangan udara kembali dilancarkan ke arah sekelompok orang di Khan Younis. Sedikitnya lima orang dinyatakan tewas dalam insiden tersebut. Dentuman yang memecah pagi itu seolah memutus rutinitas harian warga yang tengah beraktivitas, menggantikan suasana biasa dengan kepanikan dan duka.

Laporan menyebutkan bahwa warga Palestina yang menjadi korban sedang menjalani kehidupan normal ketika serangan terjadi. Aktivitas keseharian—yang semestinya identik dengan rasa aman—berubah menjadi momen terakhir bagi sebagian dari mereka. Di sisi lain, Israel mengklaim terdapat lima pejuang Hamas di antara warga Palestina yang menjadi sasaran.

Satu korban lainnya dilaporkan meninggal dalam serangan sebelumnya, sehingga total korban tewas dalam 24 jam terakhir mencapai 10 orang. Angka itu menjadi cerminan betapa rapuhnya kesepakatan penghentian tembak-menembak yang seharusnya menjadi jeda dari kekerasan.

Jika dihitung secara keseluruhan, lebih dari 1.600 pelanggaran tercatat sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. Dalam periode tersebut, hampir 600 warga Palestina dilaporkan tewas. Gencatan senjata yang pada awalnya diharapkan menjadi jembatan menuju ketenangan, kini dipandang sebagian pihak seperti benang tipis yang mudah terputus oleh letupan konflik.

Situasi di Gaza pun kembali berada di persimpangan antara harapan akan perdamaian dan bayang-bayang eskalasi yang tak kunjung reda.

Also Read

Tags