Harga Minyak Dunia Melorot Saat Ketegangan AS-Iran Reda

Sahrul

Harga minyak mentah global masih bergerak di zona lemah pada perdagangan Rabu (18/2), seiring mencairnya komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kemajuan dialog kedua negara itu meredakan suhu ketegangan bilateral yang sebelumnya memanas, sekaligus menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah—wilayah yang kerap menjadi jantung produksi energi dunia.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent terkoreksi 0,04 persen ke posisi US$67,39 per barel pada pukul 01.39 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 5 sen atau 0,08 persen menjadi US$62,28 per barel. Kedua kontrak berjangka tersebut kini diperdagangkan di sekitar level terendah dalam dua pekan terakhir—sebuah sinyal bahwa sentimen pasar sedang condong ke arah pelemahan, bukan penguatan.

Penurunan ini ibarat tekanan angin yang perlahan keluar dari balon ekspektasi. Sebelumnya, bayang-bayang konflik antara Washington dan Teheran sempat menjadi bahan bakar kenaikan harga. Namun ketika retorika keras berubah menjadi meja perundingan, risiko geopolitik yang biasanya menjadi “premi ketegangan” dalam harga minyak ikut menyusut.

“Iran dan AS mencapai kesepahaman pada Selasa (17/2), terkait ‘prinsip-prinsip panduan’ utama dalam pembicaraan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir yang telah berlangsung lama, tetapi itu tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Pernyataan tersebut memberi pesan ganda. Di satu sisi, ada titik temu awal yang membuka pintu diplomasi. Di sisi lain, jalan menuju kesepakatan final masih panjang dan berliku. Kesepahaman bukanlah kesepakatan; ia baru fondasi, bukan bangunan utuh.

Pasar pun merespons dengan sikap hati-hati. Para analis menilai kemajuan ini memang dapat meredakan ketegangan geopolitik dan berpotensi membuka keran ekspor minyak Iran lebih lebar. Namun optimisme tersebut belum sepenuhnya diyakini akan terwujud dalam waktu dekat.

“Meskipun terobosan yang berarti akan meredakan ketegangan geopolitik dan berpotensi meningkatkan pasokan minyak Iran, kami tetap skeptis bahwa hasil ini akan tercapai dalam jangka pendek,” kata analis pasar IG Tony Sycamore dalam catatannya.

Artinya, pelaku pasar belum sepenuhnya menanggalkan sikap waspada. Mereka menimbang antara peluang tambahan pasokan dan risiko kegagalan negosiasi. Dalam dunia komoditas, harapan dan keraguan berjalan beriringan—seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Di sisi lain, Konsultan politik Eurasia Group dalam analisanya memperkirakan ada kemungkinan 65 persen serangan AS terhadap Iran terjadi pada akhir April. Proyeksi tersebut menjadi pengingat bahwa ketidakpastian belum benar-benar sirna. Bayangan konflik masih menggantung, meski untuk sementara tertutup awan diplomasi.

Faktor tambahan yang menekan harga datang dari kawasan Eurasia. Media Rusia melaporkan peningkatan produksi di ladang minyak Tengiz, Kazakhstan—salah satu ladang minyak terbesar di dunia—setelah sempat mengalami penangguhan pada Januari. Dengan rencana kembali mencapai kapasitas penuh pada 23 Februari, pasokan global berpotensi bertambah.

Jika pasokan ibarat aliran sungai, maka bertambahnya debit dari Tengiz membuat arus energi dunia semakin deras. Ketika suplai meningkat sementara permintaan tidak melonjak signifikan, harga cenderung kehilangan daya dorongnya.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada laporan mingguan dari American Petroleum Institute, Energy Information Administration, serta badan statistik Departemen Energi AS. Data persediaan minyak mentah dari lembaga-lembaga tersebut akan menjadi kompas arah pergerakan harga berikutnya.

Dengan kombinasi diplomasi yang sedang diuji, proyeksi risiko militer yang belum sepenuhnya padam, serta dinamika pasokan global yang bertambah, harga minyak kini berada dalam fase tarik-menarik. Bukan lagi didorong oleh ketakutan ekstrem, namun juga belum disokong optimisme kuat. Di tengah keseimbangan rapuh itu, pasar energi menanti kepastian berikutnya—apakah harga akan bangkit, atau justru terus berjalan di jalur lesu.

Also Read

Tags