Iran, Rusia, dan China Laksanakan Latihan Gabungan di Selat Hormuz

Sahrul

Tiga negara besar Eurasia—Iran, Rusia, dan China—menggelar latihan militer bersama di perairan Selat Hormuz, sebuah jalur laut yang kerap disebut sebagai “urat nadi” perdagangan energi dunia. Kapal-kapal perang dari ketiga negara itu dikerahkan dalam manuver terkoordinasi yang diklaim bertujuan menjaga keamanan lalu lintas maritim di kawasan yang dinilai semakin rapuh oleh dinamika geopolitik.

Latihan tersebut, seperti dilaporkan Anadolu Agency, diungkapkan oleh penasihat kepresidenan Rusia, Nikolay Patrushev, dalam wawancara dengan majalah mingguan Argumenty i Fakty pada Selasa (17/2) waktu setempat. Dalam keterangannya, Patrushev menekankan bahwa manuver ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan bagian dari arsitektur kerja sama yang lebih luas.

Patrushev mengatakan bahwa Rusia sedang berupaya membangun “tatanan dunia multipolar di lautan” sebagai tanggapan terhadap apa yang disebutnya sebagai hegemoni Barat. Ungkapan “tatanan dunia multipolar” merujuk pada gagasan distribusi kekuatan global yang tidak terpusat pada satu blok dominan. Jika sebelumnya lautan dipandang sebagai panggung dengan satu sutradara utama, maka konsep multipolar ibarat orkestra dengan banyak konduktor yang berbagi peran.

Tiga negara yang terlibat dalam latihan di Selat Hormuz tersebut juga merupakan bagian dari BRICS, forum kerja sama negara-negara berkembang yang berupaya memperluas pengaruhnya di berbagai sektor, termasuk maritim.

“Kita akan memanfaatkan potensi BRICS, yang sekarang harus mendapatkan dimensi maritim strategis yang sepenuhnya,” kata Patrushev.

Ia menambahkan bahwa BRICS sebelumnya telah menggelar latihan angkatan laut bertajuk “Will for Peace 2026” pada Januari lalu di kawasan Atlantik Selatan. Latihan tersebut melibatkan Rusia, China, Iran, Uni Emirat Arab, dan Afrika Selatan—sebuah kombinasi yang memperlihatkan perluasan jejaring keamanan lintas kawasan.

Menurut Patrushev, latihan terbaru yang dinamai Maritime Security Belt 2026 difokuskan pada koordinasi antarangkatan laut untuk mengamankan jalur perdagangan yang kian rentan. Kerentanan di sini bukan sekadar ancaman militer terbuka, tetapi juga ketidakpastian politik, potensi sabotase, hingga gangguan distribusi energi global.

“Latihan Maritime Security Belt 2026 di Selat Hormuz, di mana Rusia, China, dan Iran mengirimkan kapal-kapal mereka, terbukti relevan,” sebut Patrushev.

Selat Hormuz sendiri terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, dan menjadi salah satu chokepoint paling vital di dunia. Setiap hari, jutaan barel minyak mentah melintasi perairan sempit tersebut. Dalam metafora ekonomi global, Selat Hormuz adalah keran utama pasokan energi; jika tersumbat, dampaknya dapat terasa hingga ribuan kilometer jauhnya.

Latihan Maritime Security Belt dijadwalkan digelar oleh Iran pada pertengahan Februari. Manuver semacam ini bukan hal baru. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2019 atas inisiatif Angkatan Laut Iran, latihan gabungan tersebut telah diselenggarakan sebanyak tujuh kali. Frekuensi yang berulang menunjukkan konsistensi, sekaligus pesan bahwa kerja sama ini bukan insidental, melainkan dirancang berkelanjutan.

Bagi sebagian pengamat, latihan ini mencerminkan kontras antara dua visi tatanan global: unipolar versus multipolar. Di satu sisi, Barat selama ini dianggap mendominasi keamanan maritim internasional; di sisi lain, negara-negara seperti Iran, Rusia, dan China berupaya menampilkan alternatif kerja sama yang mereka klaim lebih seimbang.

Terlepas dari narasi yang dibangun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik sensitif. Setiap pergerakan kapal perang di kawasan itu tak pernah sepenuhnya bebas dari tafsir politik. Latihan yang disebut sebagai upaya perlindungan jalur dagang bisa pula dibaca sebagai sinyal strategis kepada kekuatan lain.

Dengan demikian, Maritime Security Belt 2026 bukan hanya latihan teknis antarkapal dan awaknya, melainkan juga simbol pergeseran dinamika global. Di atas gelombang Selat Hormuz, kepentingan ekonomi, keamanan, dan geopolitik bertemu—kadang selaras, kadang berseberangan—membentuk lanskap maritim yang semakin kompleks.

Also Read

Tags