Serangan militer Israel yang terus menggempur Kota Gaza meninggalkan jejak kehancuran yang kian parah. Lebih dari 1.000 bangunan di distrik Zaytoun dan Sabra rata dengan tanah sejak operasi darat terbaru dimulai awal bulan ini. Laporan ini diungkapkan Al Jazeera dengan mengutip keterangan Pertahanan Sipil Palestina.
Warga Sipil Sulit Dievakuasi
Dalam pernyataan resmi pada Minggu (24/8/2025), Pertahanan Sipil menyebut, rentetan serangan disertai penutupan jalur masuk membuat tim penyelamat hampir tak berdaya. Mereka kesulitan mengevakuasi ratusan warga sipil yang masih terjebak, bahkan merespons laporan orang hilang pun nyaris mustahil dilakukan. Fasilitas kesehatan di kawasan itu juga dilaporkan lumpuh karena pasien yang terus berdatangan.
“Ada kekhawatiran serius tentang serangan berkelanjutan pasukan Israel ke Kota Gaza, di saat kru lapangan tidak memiliki kapasitas untuk menghadapi intensitas serangan Israel yang terus berlanjut,” ungkap organisasi tersebut.
Tank-tank lapis baja Israel dilaporkan merangsek ke kawasan Sabra, sementara dentuman bom terdengar silih berganti di berbagai titik Kota Gaza.
Puluhan Tewas, Anak-Anak Jadi Korban Kelaparan
Sumber medis yang dikutip Al Jazeera menyebutkan sedikitnya 51 orang meninggal dunia pada hari Minggu, terdiri dari 27 korban di Kota Gaza dan 24 lainnya yang wafat ketika sedang berusaha mencari bantuan.
Tak hanya akibat serangan, bencana kelaparan juga menambah panjang daftar korban. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat delapan orang meninggal pada hari yang sama karena kekurangan gizi. Sejak awal perang, 289 orang dilaporkan meregang nyawa akibat malnutrisi, termasuk 115 anak-anak.
Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menegaskan bahwa bencana kelaparan kini menjadi ancaman paling mengerikan di Gaza. “Orang-orang menghadapi neraka dalam berbagai bentuk,” katanya, sembari mendesak agar akses penuh diberikan kepada lembaga kemanusiaan dan jurnalis internasional.
Operasi Militer Israel Makin Intensif
Militer Israel pekan lalu mengumumkan dimulainya operasi besar-besaran untuk merebut kendali penuh atas Kota Gaza. Kawasan Zaytoun dan Sabra disebut sebagai titik penting, lantaran dianggap sebagai basis strategis aktivitas kelompok Hamas.
Konflik ini sendiri berawal dari serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 250 lainnya. Hingga kini, sekitar 50 orang sandera dilaporkan masih belum dibebaskan.
Derita Gaza Tak Kunjung Usai
Sejak saat itu, serangan balasan Israel telah menelan korban jiwa dalam jumlah mengerikan. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 62.000 orang tewas dan sekitar 156.000 lainnya terluka. Angka ini terus bertambah seiring intensitas serangan yang tak kunjung mereda.
Di tengah reruntuhan bangunan, asap hitam, dan raungan sirene, Gaza kini benar-benar berada di ambang bencana kemanusiaan. Kehidupan warganya ibarat terjebak di antara dua jurang: serangan senjata yang tak henti, dan kelaparan yang perlahan merenggut nyawa.