Jalan Tikus Perbaikan Kendaraan: Seniman Trotoar Jakarta di Tengah Pusaran Ekonomi Informal

Ridwan Hanif

Di tengah hiruk pikuk Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, di mana deru mesin kendaraan seolah tak pernah menemukan jeda, terselip pemandangan para pria yang berdiri di tepi jalan. Dengan tatapan awas, mereka mengamati setiap mobil yang melintas perlahan. Sebagian mengulurkan tangan, menawarkan jasa, sementara yang lain memilih duduk di bawah rindangnya pohon, menanti panggilan rezeki. Di belakang mereka, terbentang spanduk berwarna-warni bertuliskan "CAT DUCO MOBIL MOTOR", "LAS KETOK", hingga "BARET & PENYOK". Tulisan berukuran besar dengan aksen merah sengaja dipasang agar mudah terlihat dari kejauhan. Fenomena serupa tak hanya di Salemba, namun juga menghiasi sudut-sudut jalan di Matraman, Jakarta Timur, dan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Jasa perbaikan bodi kendaraan di pinggir jalan ini menjadi denyut nadi ekonomi informal ibu kota, terus bertahan di tengah gempuran bengkel modern dan bayang-bayang penertiban aparat.

Suasana di lokasi pada suatu siang di pertengahan Mei 2026 terasa begitu hidup. Klakson kendaraan bersahutan dengan suara gerinda dan pukulan besi, menciptakan simfoni yang khas dari aktivitas perbaikan bodi kendaraan. Aroma cat, thinner, bercampur dengan asap knalpot, memenuhi udara. Para pekerja, sebagian mengenakan rompi lusuh, dengan sigap menawarkan keahlian mereka kepada setiap pengendara yang lewat. Peralatan sederhana seperti amplas, kuas, kaleng cat, hingga kompresor mini tersusun rapi di sisi trotoar atau di bawah pohon. Meskipun terkesan seperti bengkel dadakan, proses pengecatan sesungguhnya dilangsungkan di bengkel-bengkel kecil yang tersebar di gang-gang pemukiman di sekitar lokasi.

"Kalau sudah ada kesepakatan, mobilnya baru dibawa ke bengkel. Pengecatan tetap di bengkel, bukan di sini," jelas Luhur, salah seorang pekerja jasa cat duco di kawasan Salemba. Luhur telah menggeluti pekerjaan ini selama hampir satu dekade. Awalnya ia hanya membantu temannya di bengkel kecil, namun seiring waktu, ia pun turut terjun mencari pelanggan di jalanan. Ia bercerita, awalnya hanya bertugas mengamplas dan mendempul, namun lambat laun ia belajar teknik menyemprot cat, hingga akhirnya kini ia pun aktif mencari pelanggan di tepi jalan. Sistem kerja di jasa cat duco ini umumnya terbagi dua: ada yang bertugas mencari pelanggan di jalanan, dan ada pula yang bekerja di bengkel pengecatan. Sehari-hari, Luhur mulai bekerja sejak pukul enam pagi hingga sore, namun penghasilannya tidak menentu. "Kadang sehari bisa dapat dua sampai tiga mobil, tapi kadang seminggu juga tidak ada pelanggan sama sekali," ungkapnya.

Tarif perbaikan baret ringan dipatok mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per panel. Sementara itu, untuk perbaikan penyok yang disertai pengecatan ulang, biayanya bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, tergantung tingkat keparahan kerusakan. "Kalau pengecatan seluruh bodi tentu hitungannya berbeda. Tapi kebanyakan orang datang ke sini karena mencari harga yang lebih terjangkau dan pengerjaan yang cepat," tambah Luhur.

Fenomena jasa cat duco di pinggir jalan ini bukanlah hal baru di Jakarta. Maman, seorang pekerja di kawasan Salemba Raya, menceritakan bahwa profesi ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ia menuturkan, jasa perbaikan kendaraan semacam ini sudah eksis sejak era 1970-an, dan jumlahnya semakin bertambah signifikan saat krisis ekonomi melanda pada tahun 1998, ketika banyak orang terpaksa mencari pekerjaan alternatif. Maman sendiri telah berkecimpung di dunia ini sejak tahun 1996. Pengalamannya didapat langsung dari bengkel, mulai dari proses mengamplas, mendempul, hingga teknik pengecatan. Ia bahkan pernah bekerja di bengkel besar ternama. Namun, ia menambahkan, sistem kerja di lapangan lebih bersifat informal dan kolektif, berbeda dengan struktur perusahaan di bengkel resmi.

Di tengah menjamurnya jasa serupa, persaingan antar pelaku usaha semakin sengit. Dalam satu ruas jalan, tak jarang ditemukan lebih dari sepuluh orang yang mencari pelanggan untuk bengkel yang berbeda. Rony, seorang pencari pelanggan di kawasan Matraman, Jakarta Timur, yang sudah mengikuti jejak orang tuanya sejak usia 13 tahun, merasakan hal serupa. Ia mengungkapkan bahwa semakin banyak orang yang masuk ke bisnis ini, namun ketersediaan mobil yang membutuhkan perbaikan tidak selalu sebanding. "Yang nyari pelanggan memang banyak, tapi mobilnya belum tentu ada," keluhnya. Kondisi ini juga dirasakan oleh Asep (48) di Jalan Kramat Raya, yang telah 26 tahun menjadi pencari pelanggan jasa cat mobil pinggir jalan. Ia mengaku dulu jumlah pelaku usaha ini belum seramai sekarang. Asep memilih menjadi pencari pelanggan karena keterbatasan modal untuk membuka bengkel sendiri. Ia bekerja sama dengan bengkel-bengkel kecil di Jakarta Pusat, dan mendapatkan komisi dari setiap kendaraan yang berhasil ia arahkan.

Pengamat otomotif, Bebin Djuana, menilai keberadaan jasa cat duco di pinggir jalan ini merupakan layanan alternatif yang sudah lama tumbuh untuk memenuhi kebutuhan perbaikan kendaraan masyarakat. Ia menjelaskan, jasa ini biasanya dimanfaatkan oleh pemilik kendaraan yang tidak memiliki perlindungan asuransi atau ingin menghemat biaya perbaikan bodi. "Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan adalah mereka yang tidak mengasuransikan kendaraannya, atau sopir yang khawatir dimarahi bos akibat serempetan di jalan," ujar Bebin. Keunggulan utama jasa informal ini terletak pada kecepatan pengerjaan dan harga yang lebih terjangkau. Namun, ia menambahkan, hal ini juga berbanding lurus dengan kualitas hasil pengerjaan yang tidak selalu tahan lama. "Tentu biayanya juga standar pinggir jalan, dengan konsekuensi kualitas pekerjaan yang seadanya dan tidak tahan lama," jelasnya. Meski demikian, Bebin mengakui bahwa sebagian pekerja di sektor ini memiliki keterampilan teknis yang cukup baik, karena pengalaman bekerja di bengkel profesional atau belajar langsung di lapangan selama bertahun-tahun. "Yang mengerjakan sebetulnya adalah tukang cat yang punya pengalaman dan keterampilan, namun tidak didukung modal yang cukup untuk menghasilkan pekerjaan yang optimal," tuturnya. Kualitas pekerjaan, lanjutnya, juga seringkali dipengaruhi oleh permintaan konsumen yang menekan biaya perbaikan agar tetap murah. "Ada harga, ada barang," pungkasnya.

Dari sisi analisis kebutuhan konsumen dan ekonomi informal, Pengamat Ekonomi dan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa pertumbuhan jasa ini merupakan kombinasi antara permintaan pasar dan tekanan ekonomi masyarakat. Ia menyoroti besarnya basis kendaraan di Jakarta, yang mencapai jutaan unit mobil penumpang, sehingga kebutuhan akan perbaikan bodi dan kosmetik kendaraan sangat tinggi. Di sisi lain, konsumen dari kalangan menengah ke bawah cenderung mencari layanan yang lebih terjangkau dan fleksibel dibandingkan bengkel resmi. "Dalam kondisi daya beli yang tertekan, banyak konsumen lebih memilih hasil yang cukup rapi dan murah daripada layanan sempurna namun mahal," kata Rizal.

Fenomena ini juga mencerminkan besarnya sektor informal di Jakarta, di mana sektor formal belum mampu menyerap seluruh tenaga kerja. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pekerja informal di Jakarta mencapai jutaan orang, atau sekitar 38,13 persen dari total penduduk bekerja. Rizal berpendapat bahwa pendekatan yang paling realistis adalah penataan dan pembinaan, bukan sekadar penertiban. Ia mengusulkan agar pemerintah dapat membuat zona usaha otomotif informal, menyediakan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), memberikan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro, serta membangun kemitraan dengan bengkel formal.

Sementara itu, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, melihat fenomena ini sebagai strategi bertahan hidup masyarakat urban di tengah keterbatasan lapangan kerja formal. Ia menjelaskan bahwa kota besar seperti Jakarta menjadi magnet bagi arus migrasi, kebutuhan ekonomi, sekaligus menghadapi keterbatasan lapangan kerja formal. Jasa cat duco pinggir jalan, menurutnya, merupakan bagian dari ekonomi informal perkotaan yang menawarkan fleksibilitas, biaya terjangkau, dan aksesibilitas yang mudah. Banyak pekerja di sektor ini memiliki keterampilan teknis, namun terkendala modal, sertifikasi, atau akses ke industri formal. Rakhmat menyebut para pekerja ini sebagai "prekariat urban", yaitu kelompok pekerja yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Fenomena ini juga berkaitan dengan budaya konsumsi di mana kendaraan seringkali menjadi simbol status sosial. "Tidak semua orang mampu mengakses bengkel premium. Di sinilah jasa cat duco menemukan pasarnya," ujar Rakhmat.

Keberadaan jasa cat duco di trotoar dan bahu jalan memang kerap menjadi sasaran penertiban petugas karena dianggap melanggar aturan ketertiban umum. Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhsan, menyatakan bahwa kegiatan semacam ini pada umumnya tidak sesuai ketentuan dan seharusnya ditindak oleh instansi terkait ketertiban umum. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, mengakui bahwa penertiban rutin dilakukan oleh Satpol PP Kecamatan Senen, namun ia menggambarkan situasi ini seperti "kucing-kucingan". Para pekerja, menurutnya, seringkali kembali ke lokasi setelah situasi dianggap aman. Kendati demikian, ia menekankan bahwa penertiban saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan. "Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka agar bisa mencari nafkah di suatu tempat," pungkasnya.

Also Read

Tags