Menjelang perhelatan akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXIII tahun 2032, yang akan diselenggarakan bersama oleh Provinsi Banten dan Lampung, persiapan fisik para atlet menjadi sorotan utama. Di balik gemblengan latihan intensif, tersimpan peran vital asupan nutrisi yang tidak hanya mendukung performa puncak, tetapi juga mempercepat regenerasi sel dan jaringan tubuh pasca-pertandingan. Menariknya, kekayaan kuliner tradisional kedua provinsi tuan rumah ini ternyata menyimpan potensi luar biasa sebagai sumber gizi strategis bagi para pejuang olahraga nasional.
Berbeda dari anggapan umum yang mungkin mengaitkan makanan tradisional dengan santapan biasa, hidangan khas Banten dan Lampung kaya akan nilai gizi yang sangat dibutuhkan oleh atlet. Media Indonesia melaporkan bahwa kedua wilayah ini memiliki aneka ragam kuliner yang mampu menjadi pendamping ideal bagi para atlet selama masa kompetisi berlangsung. Salah satu primadona dari Banten adalah Sate Bandeng. Keunikan kuliner ini terletak pada proses pembuatannya yang tidak lazim. Daging ikan bandeng yang kaya akan protein dan asam lemak esensial Omega-3 ini diolah dengan cara dihancurkan setelah durinya dihilangkan, kemudian dicampur dengan berbagai bumbu rempah khas sebelum dibakar. Proses pembakaran yang dipilih justru menjadi keunggulan tersendiri karena dapat menjaga kadar lemak tetap rendah, sehingga memudahkan tubuh atlet untuk mencernanya. Kandungan Omega-3 dalam ikan bandeng berperan krusial dalam perbaikan jaringan otot yang kerap mengalami kerusakan akibat aktivitas fisik yang intens.
Bergeser ke Lampung, terdapat sajian istimewa bernama Seruit. Hidangan ini merupakan representasi kuliner khas Lampung yang mengandalkan ikan bakar sebagai bintang utamanya. Kelezatan Seruit semakin lengkap dengan paduan sambal terasi yang menggugah selera, tempoyak (olahan fermentasi durian), serta berbagai macam lalapan segar. Umumnya, Seruit menggunakan jenis ikan air tawar seperti belida atau baung. Ikan air tawar dikenal sebagai sumber protein tanpa lemak berkualitas tinggi, esensial bagi pemeliharaan massa otot atlet. Keberadaan lalapan segar dalam penyajian Seruit juga memberikan kontribusi nutrisi yang signifikan. Aneka sayuran mentah tersebut kaya akan vitamin dan mineral yang berfungsi sebagai agen antioksidan, ampuh menangkal radikal bebas yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respons terhadap kelelahan fisik. Kendati demikian, para atlet perlu cermat dalam mengonsumsi tempoyak. Porsi yang dibatasi sangat disarankan untuk mencegah potensi gangguan pencernaan atau produksi gas berlebih yang bisa mengganggu performa menjelang pertandingan.
Selain Sate Bandeng dan Seruit, kuliner lain yang patut diperhitungkan adalah Rabeg, sebuah hidangan warisan kesultanan Banten. Rabeg terbuat dari olahan daging kambing atau sapi yang disajikan dengan kuah cokelat kental nan kaya rempah, termasuk jahe, lada, dan kayu manis. Kekayaan rempah dalam Rabeg menjadikannya sumber zat besi yang sangat baik. Zat besi memiliki peran vital dalam meningkatkan produksi hemoglobin, yang bertugas mengoptimalkan distribusi oksigen ke seluruh sel tubuh. Sirkulasi oksigen yang lancar sangat krusial bagi stamina dan daya tahan atlet. Efek hangat dari jahe dan lada dalam kuah Rabeg juga dapat membantu melancarkan peredaran darah, memberikan sensasi nyaman dan pemulihan yang lebih baik.
Dari ranah kuliner Lampung, Pindang juga menawarkan alternatif hidangan yang menyegarkan dan rendah lemak. Baik menggunakan ikan patin maupun simba, Pindang Lampung menyajikan kuah bening dengan rasa asam pedas yang khas, perpaduan nanas dan tomat. Kuah pindang yang kaya akan elektrolit alami sangat efektif dalam menjaga hidrasi tubuh atlet, sebuah aspek krusial yang seringkali terabaikan. Ikan patin sebagai salah satu pilihan bahan utama, menyediakan protein yang mudah diserap oleh tubuh. Sementara itu, nanas dalam kuah pindang mengandung enzim bromelain yang memiliki sifat anti-inflamasi alami, sangat membantu meredakan peradangan pada otot pasca-latihan berat.
Para ahli gizi yang mendampingi atlet PON 2032 pun merekomendasikan metode pengolahan makanan yang lebih sehat. Pembakaran, pemindangan, dan perebusan menjadi pilihan utama dibandingkan dengan menggoreng yang cenderung menambah asupan lemak. Selain itu, tingkat kepedasan sambal juga perlu disesuaikan agar tidak membebani metabolisme tubuh atlet selama jadwal pertandingan yang padat. Dengan pemilihan bahan pangan yang cermat dan metode pengolahan yang tepat, makanan tradisional dapat bertransformasi menjadi sumber energi berkualitas tinggi. PON 2032 ini menjadi momentum berharga untuk menggalakkan diet berbasis pangan lokal, sekaligus membuktikan bahwa kekayaan kuliner nusantara mampu mendukung kesehatan dan performa atlet nasional.
Menjawab rasa penasaran seputar konsumsi pangan lokal untuk atlet, beberapa pertanyaan umum kerap muncul. Mengenai makanan bersantan, yang merupakan salah satu ciri khas kuliner di Banten, para ahli menyarankan agar dikonsumsi dalam porsi terbatas atau lebih diutamakan saat masa pemulihan pasca-pertandingan. Hal ini dikarenakan kandungan lemak jenuh yang tinggi dalam santan memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna oleh tubuh. Untuk sumber karbohidrat lokal, selain nasi yang menjadi makanan pokok, atlet dapat memanfaatkan talas atau ubi-ubian yang melimpah di pasar tradisional Banten dan Lampung. Bahan pangan ini merupakan sumber karbohidrat kompleks yang mampu menghasilkan energi tahan lama, sangat dibutuhkan untuk aktivitas fisik yang panjang. Terkait dengan pemulihan otot, baik Sate Bandeng maupun Seruit menawarkan keunggulan masing-masing. Sate Bandeng unggul dalam kepraktisan karena bebas duri, sementara Seruit memberikan nilai tambah dari asupan mikronutrisi yang melimpah berkat variasi lalapan segar yang disajikan. Keduanya adalah pilihan yang sangat baik untuk mendukung pemulihan otot para atlet.






