Kapal Perang AS Dihantam Iran, AS Balas dengan Serangan Militer Besar-besaran

Sahrul

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali bergerak menuju titik rawan. Situasi yang sempat mereda kini kembali memanas, ibarat bara dalam sekam yang ditiup angin geopolitik. Laporan terbaru menyebutkan militer AS berada dalam status kesiapan penuh, dengan opsi serangan yang bisa dijalankan paling cepat akhir pekan ini atau dalam rentang maksimal 15 hari ke depan.

Sinyal keseriusan itu terlihat dari pengerahan kapal induk tercanggih milik AS, USS Gerald Ford, yang dijadwalkan memasuki kawasan konflik dalam waktu berdekatan. Kapal induk bukan sekadar alat tempur, melainkan simbol supremasi militer—pangkalan udara terapung yang membawa jet tempur, sistem pertahanan berlapis, serta proyeksi kekuatan lintas samudra.

Di sisi lain, Teheran tak tinggal diam. Pemerintah Iran dilaporkan meningkatkan status siaga nasional dan memperkuat sistem pertahanan di sekitar fasilitas nuklir strategisnya. Langkah ini menunjukkan bahwa eskalasi tidak hanya terjadi dalam retorika politik, tetapi juga dalam kalkulasi militer yang nyata.

Jika benturan bersenjata benar-benar terjadi, ini bukan babak pertama dalam sejarah rivalitas kedua negara. Hubungan keduanya pernah meledak dalam konfrontasi terbuka di laut melalui operasi militer yang dikenal sebagai Operation Praying Mantis.

Konflik tersebut bermula pada 14 April 1988. Mengacu pada catatan sejarah angkatan laut, sebuah kapal perang AS jenis fregat kala itu menghantam ranjau laut yang dipasang Iran di perairan dekat Qatar. Ledakan dahsyat melukai sejumlah awak, memicu kobaran api, merusak ruang mesin, dan nyaris menyeret kapal itu ke dasar laut. Insiden tersebut menjadi percikan yang menyulut respons keras dari Washington.

Presiden AS saat itu, Ronald Reagan, merespons dengan perintah balasan militer. Empat hari berselang, pada 18 April 1988, AS meluncurkan operasi tempur skala besar terhadap target-target Iran. Aksi tersebut merupakan bentuk pembalasan langsung atas serangan ranjau yang dianggap sebagai agresi.

Target serangan difokuskan pada anjungan minyak lepas pantai yang digunakan Iran serta satu kapal fregat bernama Sabalan. Meski sasaran terlihat terbatas, kekuatan yang dikerahkan tidak main-main. AS menurunkan kapal induk USS Enterprise, jet tempur, hingga helikopter perang. Skala mobilisasi ini bahkan tercatat sebagai operasi tempur laut terbesar AS sejak Perang Dunia II.

“Angkatan Laut AS memulai aksi perang permukaan terbesarnya sejak Perang Dunia II,” ungkap buku U.S Marines in the Gulf War, 1990-1991: Liberating Kuwait.

Serangan diawali dari laut dengan menghantam anjungan minyak Iran hingga terbakar. Teheran membalas dengan mengirim pesawat tempur dan kapal perang untuk menyerang armada AS serta kapal tanker berbendera Paman Sam. Namun, upaya balasan tersebut tidak berhasil melumpuhkan kekuatan laut AS yang lebih unggul dalam teknologi dan koordinasi tempur.

Puncak pertempuran terjadi ketika Sabalan muncul sebagai target utama. Pada fase ini, AS meluncurkan rudal konvensional dan rudal berpemandu laser yang menghantam kapal tersebut. Dampaknya signifikan: Sabalan mengalami kerusakan berat dan terbakar hebat di tengah perairan.

Di tengah intensitas pertempuran, Presiden AS saat itu akhirnya memerintahkan penghentian operasi. Pasukan ditarik dengan penilaian bahwa tujuan pembalasan telah tercapai melalui penghancuran kapal perang lawan. Bagi Iran, episode itu meninggalkan kerugian besar—baik secara militer maupun dalam posisi geopolitik.

Sejak peristiwa tersebut, relasi kedua negara tidak pernah benar-benar kembali normal. Hubungan mereka terus berada dalam bayang-bayang kecurigaan, sanksi, dan ancaman terselubung. Kini, dengan peningkatan tensi politik dalam beberapa hari terakhir, sejarah seakan berbisik kembali. Dunia pun menanti, apakah ketegangan ini akan mereda lewat diplomasi, atau justru berubah menjadi babak baru konfrontasi terbuka.

Also Read

Tags