Juventus kembali menelan pil pahit di kandang sendiri, Stadion Allianz, dalam lanjutan pekan ke-37 Liga Italia musim 2025-2026. Kekalahan 0-2 dari Fiorentina semakin menambah daftar hasil mengecewakan bagi tim berjuluk Bianconeri, memicu kemarahan para pendukung setia dan kian memperkecil peluang mereka untuk mengamankan tiket ke kompetisi elit Eropa.
Pertandingan yang digelar pada Minggu (17/5/2026) petang WIB ini berlangsung di bawah tekanan tinggi. Seusai peluit panjang dibunyikan, sorakan kecewa dari tribun penonton terdengar jelas. Kelompok suporter ultras, yang dikenal sebagai pendukung garis keras, bahkan terlihat berkumpul di luar stadion. Mereka menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap manajemen dan para pemain, menuntut rasa hormat yang lebih besar terhadap lambang kebesaran klub. Aksi ini mencerminkan kekecewaan mendalam atas performa tim yang dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi.
Di lapangan, Fiorentina tampil efektif dan berhasil mencuri poin penuh berkat dua gol yang dicetak oleh Rolando Mandragora di menit ke-8 dan Cher Ndour di menit ke-33. Pertandingan itu sendiri diwarnai drama, dengan satu kartu merah yang diterima oleh bek Fiorentina, Luca Ranieri, serta tiga gol yang harus dianulir oleh wasit Davide Massa. Keputusan-keputusan wasit ini menambah elemen kontroversial pada laga tersebut.
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menunjukkan reaksi emosional saat sesi wawancara pascapertandingan. Ketika ditanya oleh seorang jurnalis yang menyebut laga tersebut sebagai pertandingan krusial yang wajib dimenangkan, Spalletti memberikan respons tajam. Ia menyatakan bahwa memulai diskusi dengan premis tersebut berarti sudah memulai dari titik yang salah.
Meskipun demikian, Spalletti menolak untuk menyerah sepenuhnya pada harapan timnya untuk berkompetisi di kancah Eropa musim depan. Ia mengakui bahwa hasil ini memang buruk dan pertandingan tersebut sangatlah penting, namun ia menekankan bahwa menganggap segalanya sudah berakhir adalah pandangan yang keliru. Menurutnya, masih ada harapan dan tim harus terus berjuang.
Pelatih kawakan asal Italia ini lebih melihat performa tim sebagai sebuah proses jangka panjang yang bertujuan untuk membangun fondasi klub yang kokoh. Ia meyakini bahwa anak asuhnya telah menunjukkan banyak hal positif dan ada pertumbuhan yang signifikan dalam perkembangan mereka. Fondasi untuk pencapaian penting di masa depan sedang dibangun, terlepas dari hasil minor yang baru saja diraih.
Spalletti menegaskan pentingnya tim untuk tetap menjaga identitas permainan dan kualitas tinggi di setiap pertandingan. Ia menekankan bahwa Juventus harus tetap bermain dengan gaya khas mereka, menunjukkan kepribadian yang kuat di lapangan, dan tidak boleh kehilangan kualitas yang telah mereka tunjukkan sebelumnya.
Akibat kekalahan ini, Juventus harus rela tertahan di peringkat keenam klasemen sementara Serie A dengan total 68 poin. Posisi ini membuat mereka berada di bawah Como, yang menempati peringkat kelima dengan jumlah poin yang sama, namun unggul dalam rekor head-to-head. Ketatnya persaingan untuk memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa semakin terasa. AC Milan dan AS Roma menempati peringkat ketiga dan keempat dengan masing-masing mengoleksi 70 poin, hanya selisih dua poin dari Juventus. Sementara itu, kemenangan ini membawa Fiorentina naik ke peringkat ke-15 dengan 41 poin, sedikit menjauh dari zona degradasi.
Menjelang pekan pamungkas Serie A, Juventus dihadapkan pada tugas berat. Mereka wajib meraih kemenangan dalam laga derbi melawan Torino untuk menjaga harapan tipis lolos ke Liga Champions. Namun, perjuangan mereka tidak hanya bergantung pada hasil pertandingan mereka sendiri. Juventus juga harus berharap pada hasil yang tidak menguntungkan bagi pesaing langsung mereka, yaitu AC Milan, AS Roma, atau Como. Kondisi ini menempatkan Juventus dalam situasi yang sangat genting dan membutuhkan keajaiban untuk bisa mengamankan posisi di kompetisi Eropa musim depan. Tekanan kian memuncak seiring berjalannya waktu dan semakin dekatnya akhir musim.






