Ketegangan AS–Iran Memanas, Trump Kerahkan Kapal Perang dan Minyak Dunia Melonjak

Sahrul

Harga minyak dunia kembali bergolak pada Jumat (23/1/2026). Pasar energi yang sempat tenang seolah kembali mendidih setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengerahan kapal perang AS ke arah Iran. Pernyataan tersebut sontak menyulut kecemasan baru di kalangan pelaku pasar, yang khawatir konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat, terutama menyangkut Iran—salah satu raksasa produsen minyak di bawah payung Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Lonjakan harga kali ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap sinyal militer dan politik. Mengutip Oilprice.com, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak lebih dari 1% ke level USD64,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat dan kembali menembus ambang USD60 per barel, sebagaimana dilaporkan Reuters. Kenaikan ini sekaligus membalikkan tren pelemahan sekitar 2% yang terjadi sehari sebelumnya, sebelum komentar Trump mencuat ke ruang publik dari atas pesawat kepresidenan Air Force One.

Pernyataan Trump yang bernada tegas itu menjadi pemantik utama kegelisahan pasar. Di tengah perjalanan pulang dari World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump menegaskan kesiapan militer AS di kawasan.

“Kami memiliki armada. Kami memiliki armada besar yang bergerak ke arah sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya,” kata Trump kepada wartawan saat kembali dari World Economic Forum di Davos, Swiss.

Ia menambahkan bahwa Washington kini memantau Teheran dengan pengawasan ketat, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Sejumlah pejabat AS kemudian mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln, didampingi beberapa kapal perusak berpeluru kendali, dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Bagi pasar energi, manuver ini bukan sekadar pergerakan armada, melainkan sinyal risiko terhadap stabilitas pasokan minyak global.

Situasi semakin kompleks karena Iran sendiri tengah berada dalam pusaran tekanan domestik. Negara yang menempati posisi produsen minyak terbesar keempat di OPEC—dengan produksi harian di atas 3 juta barel—sedang menghadapi gelombang unjuk rasa paling intens dalam beberapa tahun terakhir. Laporan organisasi hak asasi manusia menyebutkan ribuan korban jiwa sejak demonstrasi besar pecah di Teheran pada akhir Desember lalu. Kondisi ini mempertebal kekhawatiran bahwa gangguan produksi atau ekspor bisa terjadi sewaktu-waktu.

Meski demikian, tidak semua analis sepakat bahwa lonjakan harga ini akan bertahan lama. Sejumlah pengamat menilai fundamental pasar minyak global masih berada dalam kondisi relatif longgar. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Januari. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya sekitar 1,1 juta barel.

Secara akumulatif, harga Brent dan WTI masih mencatatkan kenaikan mingguan di kisaran 0,6% hingga 1,1%. Namun, pergerakan harga berlangsung sangat fluktuatif, mengikuti irama pernyataan politik dan sinyal kebijakan yang keluar dari Washington terkait Iran—ibarat pasar yang menari mengikuti nada geopolitik.

Dari sisi pelaku industri, CEO Saudi Aramco Amin Nasser menyampaikan pandangan yang lebih menenangkan. Ia menilai sektor energi global masih cukup kuat untuk menghadapi guncangan apa pun yang mungkin muncul.

Ia mengatakan kepada CNBC bahwa sektor energi tetap sangat tangguh dalam mengelola volatilitas apa pun yang mungkin muncul. Ia juga menambahkan bahwa kondisi pasar saat ini masih ditopang oleh pasokan yang memadai serta sumber energi yang terdiversifikasi.

Di sisi lain, potensi gangguan ekspor minyak Iran diperkirakan akan paling terasa dampaknya bagi China. Negara tersebut menyerap lebih dari 80% total ekspor minyak mentah Iran. Data Kpler menunjukkan bahwa minyak Iran menyumbang sekitar 13% dari total impor minyak laut China, dengan kilang independen di Provinsi Shandong menjadi pembeli utama.

Ancaman terhadap pasokan global juga datang dari kawasan lain. Di Kazakhstan, produksi di ladang minyak raksasa Tengiz yang dioperasikan Chevron masih terhenti pascakebakaran pada 18 Januari. JP Morgan memperkirakan gangguan tersebut dapat berlangsung hingga akhir Januari. Namun, analis Fitch Ratings menilai dampaknya terhadap harga minyak global kemungkinan tetap terbatas, mengingat pasar saat ini masih berada dalam fase kelebihan pasokan.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak dunia saat ini berada di persimpangan antara ketegangan geopolitik dan realitas fundamental pasar. Selama retorika politik terus berubah dan manuver militer berlanjut, volatilitas tampaknya akan tetap menjadi denyut utama pasar energi global.

Also Read

Tags