Kehadiran perangkat rumah berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian merasuk ke rutinitas harian, mulai dari ponsel, televisi, hingga peralatan dapur. Di tengah gelombang inovasi tersebut, satu hal menjadi penentu: kepercayaan konsumen. Samsung Electronics menegaskan bahwa keamanan dan privasi bukan sekadar pelengkap, melainkan pondasi utama yang menopang seluruh pengalaman AI yang mereka tawarkan.
Penegasan itu disampaikan oleh ChonHong Ng, Vice President sekaligus Head of Regional Marketing Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania, saat ditemui di sela ajang Samsung The First Look dalam rangkaian CES 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat. Menurutnya, tanpa rasa aman, kecanggihan AI justru bisa menjadi pedang bermata dua bagi pengguna.
ChonHong mengungkapkan bahwa pesan soal keamanan juga menjadi benang merah dalam pidato utama CEO sekaligus Head of Device eXperience (DX) Division Samsung Electronics, TM Roh. Prinsip yang diusung sangat tegas: privasi tidak akan pernah terwujud jika keamanan rapuh sejak awal.
“Karena itu, keamanan menjadi inti dari seluruh aplikasi AI kami, mulai dari ponsel, TV, hingga peralatan rumah tangga seperti kulkas,” ujarnya.
Keamanan sebagai Fondasi Ekosistem
Lebih lanjut, ChonHong menjelaskan bahwa Samsung membangun seluruh ekosistem AI di atas sistem pengamanan yang seragam dan berkesinambungan. Pendekatan ini diibaratkan seperti fondasi rumah: tak terlihat dari luar, tetapi menentukan kekuatan bangunan secara keseluruhan. Dengan basis keamanan yang sama, berbagai perangkat dapat saling terhubung dan bekerja secara cerdas tanpa mengorbankan perlindungan data pribadi.
Meski membuka diri terhadap kolaborasi dengan berbagai mitra teknologi, Samsung tidak mengendurkan standar perlindungan. Setiap kerja sama harus melewati lapisan kebijakan dan protokol keamanan yang ketat agar ekosistem tetap terjaga.
“Kami terbuka terhadap ekosistem dan partner, tetapi semua harus melalui kebijakan serta standar keamanan yang sangat kuat,” katanya.
Kesadaran Privasi Konsumen Asia Tenggara
Di kawasan Asia Tenggara, ChonHong melihat adanya pergeseran sikap konsumen yang semakin kritis terhadap isu privasi. Perangkat berbasis AI dengan kamera, sensor, dan konektivitas tinggi memang menawarkan kemudahan, namun sekaligus memunculkan pertanyaan baru tentang bagaimana data pribadi dikelola dan dilindungi.
“Konsumen sekarang tidak hanya melihat fitur AI, tapi juga mulai mempertanyakan bagaimana data mereka dilindungi,” ujarnya.
Ia menilai, rekam jejak Samsung dalam menjaga keamanan menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan kepercayaan konsumen di kawasan ini. Keamanan tidak lagi dipandang sebagai nilai tambah, melainkan syarat mutlak sebelum konsumen memutuskan menggunakan teknologi AI di rumah.
Perangkat Terhubung, Perlindungan Menyeluruh
Samsung juga menaruh perhatian besar pada aspek keamanan ketika berbagai perangkat di dalam rumah saling terhubung. Dalam satu ekosistem, ancaman pada satu perangkat berpotensi berdampak pada perangkat lain. Karena itu, sistem keamanan dirancang untuk bersifat proaktif.
“Jika TV, kulkas, dan ponsel Anda saling terhubung, lalu ada aktivitas mencurigakan di salah satu perangkat, pengguna akan mendapatkan notifikasi,” ChonHong memberikan contoh.
Pengguna juga dibekali akses ke satu dashboard terpadu untuk memantau status keamanan seluruh perangkat. Dengan cara ini, kondisi keamanan rumah dapat dipantau secara cepat, layaknya melihat panel kontrol yang menampilkan kesehatan sistem secara keseluruhan.
Data Dijaga Langsung di Perangkat
Menjawab kekhawatiran soal kebocoran data, Samsung menekankan pendekatan keamanan berbasis perangkat. Data penting disimpan secara lokal dan dilindungi langsung di dalam perangkat, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada penyimpanan cloud.
“Data hanya bisa diakses oleh pemiliknya. Bahkan jika perangkat hilang, data tetap tidak bisa diakses pihak lain,” tegasnya.
Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan risiko penyalahgunaan data, sekaligus memberi rasa aman bagi pengguna dalam memanfaatkan fitur AI secara optimal.
Sebagai penutup, ChonHong mengakui bahwa adopsi AI di rumah masih berada pada tahap awal. Meski prospeknya menjanjikan, Samsung memilih untuk memastikan fondasi produknya—mulai dari daya tahan, keandalan, hingga keamanan—benar-benar kokoh sebelum AI dimanfaatkan lebih jauh untuk meningkatkan kenyamanan.
“AI seharusnya membuat hidup lebih mudah dan menyenangkan, bukan menambah kekhawatiran,” ujarnya.
Ke depan, Samsung meyakini AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rumah tangga. Namun bagi perusahaan asal Korea Selatan ini, penerimaan teknologi tersebut hanya akan terwujud jika kepercayaan konsumen tetap terjaga. Bagi Samsung, AI bukan sekadar mesin pintar, melainkan companion yang hadir untuk mendampingi dan mempermudah keseharian penggunanya.






