Kilau Juara: Perjalanan Arsenal Menembus Kebuntuan Emas Selama Dua Dekade Lebih

Tommy Welly

Perjuangan panjang Arsenal untuk kembali mencicipi puncak kejayaan Liga Primer Inggris akhirnya berbuah manis. Penantian selama 22 tahun, atau setara dengan 8.060 hari, telah terbayar lunas. Kisah kebangkitan tim Meriam London ini tak lepas dari sentuhan unik sang nakhoda, Mikel Arteta, yang berhasil menyulut api kebersamaan dan semangat juang dalam skuadnya.

Di tengah riuh rendah ekspektasi dan tekanan, Arteta kerap kali melontarkan metafora tak terduga untuk memompa semangat pasukannya. Salah satunya adalah perumpamaan tentang "bohlam". Dalam sebuah momen yang terekam dalam serial dokumenter "All Or Nothing" garapan Amazon Prime, Arteta pernah menyampaikan sebuah pesan inspiratif kepada para pemainnya di ruang ganti. Ia mengutip nama Thomas Alva Edison, penemu bola lampu legendaris, bukan untuk memberikan pelajaran sejarah atau fisika, melainkan untuk menyampaikan sebuah filosofi mendalam.

"Sebuah bola lampu saja tidak ada artinya, saya ingin melihat sebuah tim yang terhubung satu sama lain dan bersinar," ujar Arteta, menekankan bahwa kemilau individu takkan berarti tanpa adanya koneksi dan sinergi tim. Pesan ini, meskipun terdengar sederhana, nyatanya mampu membangkitkan rasa persatuan di antara para pemain Arsenal. Arteta memang dikenal sebagai pelatih yang gemar menerapkan metode motivasi non-konvensional. Selain metafora bohlam, ia pernah melakukan simulasi atmosfer pertandingan kandang lawan dengan memutar keras lagu kebangsaan Liverpool, "You’ll Never Walk Alone", dalam sesi latihan. Tujuannya adalah agar para pemain terbiasa dan tidak gentar menghadapi tekanan di stadion rival.

Bahkan, beredar kabar bahwa Arteta pernah menyewa seorang pencopet untuk melakukan aksinya saat sesi makan malam tim. Trik ekstrem ini dimaksudkan agar para pemain senantiasa waspada dan fokus, mencegah mereka "kecopetan" gelar juara seperti yang sempat terjadi beberapa kali di musim-musim sebelumnya, di mana Arsenal harus puas menjadi runner-up secara beruntun. Tindakan-tindakan unik ini sempat menuai beragam pandangan, bahkan dari legenda klub seperti David Seaman. Mantan kiper tangguh Arsenal ini mengaku tidak sepenuhnya memahami alasan di balik metode Arteta, namun ia mengakui bahwa sang pelatih memiliki cara tersendiri yang terbukti efektif. Seaman sendiri adalah saksi mata kejayaan Arsenal di era akhir 90-an dan awal 2000-an, saat ia membantu klub meraih dua gelar Liga Primer Inggris.

Pendekatan Arteta memang kerap membelah opini publik. Sebagian melihatnya sebagai seorang jenius taktis, sementara yang lain menganggap beberapa metodenya terlalu eksentrik, bahkan konyol. Namun, tak dapat disangkal bahwa di bawah asuhan Arteta, Arsenal menunjukkan progres yang signifikan sejak ia mengambil alih kemudi pada Desember 2019. Musim pertamanya memang belum membuahkan hasil gemilang, hanya finis di posisi kedelapan klasemen, sebuah pencapaian yang terulang pada musim berikutnya.

Namun, perlahan namun pasti, Arsenal bertransformasi. Dari tim yang kesulitan menembus papan atas, mereka menjelma menjadi penantang serius gelar juara. Setelah finis di posisi kelima pada musim 2021-2022, Arsenal secara konsisten menduduki peringkat kedua Liga Primer Inggris selama tiga musim berturut-turut (2022-2023, 2023-2024, dan 2024-2025). Progres ini begitu nyata, namun hasrat para penggemar untuk melihat tim kesayangan mereka mengangkat trofi juara tak pernah padam. Hasrat yang terpendam sejak Arsenal terakhir kali meraih gelar tak terkalahkan pada musim 2003-2004. Bahkan, tercatat Arsenal menghabiskan 984 hari berada di puncak klasemen Liga Inggris tanpa pernah berhasil mengunci gelar juara.

Musim 2025-2026 kemudian dinilai sebagai momentum emas untuk mengakhiri penantian panjang tersebut. Arsenal tampil dominan sepanjang musim. Namun, di tengah perjalanan, keraguan sempat muncul ketika mereka mengalami kekalahan beruntun dari Bournemouth dan Manchester City pada bulan April.

Kembali Hantu "Bottling" Menghantui
Istilah "bottling", yang merujuk pada kegagalan meraih kemenangan di momen krusial, kembali menghantui Arsenal. Dalam kurun waktu hanya 11 hari, keunggulan sembilan poin dari Manchester City menguap begitu saja. Momen tersebut kembali memunculkan keraguan akan kemampuan The Gunners untuk menuntaskan misi juara. Namun, seperti yang diungkapkan oleh legenda Arsenal, Aaron Ramsey, dalam sebuah acara di Jakarta, Arsenal memang tidak pernah mengambil jalan yang mudah.

Dan benar saja, Arsenal bangkit dengan caranya sendiri. Mereka tidak larut dalam kepanikan dan berhasil menghindari terpeleset di sisa pertandingan Liga Primer. Sebaliknya, Manchester City justru tertahan di markas Everton dan Bournemouth. Hasil imbang 1-1 antara Bournemouth dan Manchester City di Stadion Vitality, pada 19 Mei 2026, menjadi penentu. Arsenal dipastikan menjadi juara Liga Primer Inggris, mengakhiri penantian panjang selama 8.060 hari atau 22 tahun.

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, pun tak segan memberikan ucapan selamat. Ia mengakui bahwa Arsenal pantas meraih gelar tersebut. Memang, Arsenal mungkin tidak selalu menyuguhkan permainan yang memanjakan mata, namun di bawah asuhan Arteta, mereka menjelma menjadi tim yang tangguh, terorganisir, dan sulit dikalahkan, layaknya bohlam yang teraliri listrik dan memancarkan cahaya. Pertahanan Arsenal musim ini patut diacungi jempol, dengan hanya kebobolan 26 gol, menjadikannya yang terbaik di liga. Selain itu, mereka juga mencatatkan rekor 19 clean sheet, sebuah bukti solidnya lini belakang yang digalang oleh William Saliba dan kawan-kawan.

Organisasi permainan yang rapi ini juga menjadi kunci kebangkitan Arsenal dalam memanfaatkan situasi bola mati. Sebanyak 24 gol tercipta dari skema bola mati, dengan 18 di antaranya berasal dari tendangan sudut. Arteta sendiri pernah mengomentari pentingnya gol-gol dari sepak pojok, seperti saat timnya mengalahkan Chelsea berkat dua gol dari skema serupa.

Kini, setelah penantian panjang, Arsenal akhirnya dapat menyalakan lampu kejayaan mereka. Instruksi Arteta untuk membuat siluet trofi juara Premier League di pusat latihan Colney, yang hanya boleh dinyalakan ketika gelar benar-benar diraih, kini menjadi kenyataan. Para pemain telah menyerap dengan baik setiap pelajaran yang diberikan oleh sang pelatih. Saatnya telah tiba bagi Arsenal untuk bersinar terang dan menikmati manisnya kemenangan.

Also Read

Tags