Presiden Prabowo Subianto mengajak publik untuk menatap realitas tanpa menutup mata. Menurutnya, Indonesia tidak perlu merasa sungkan ataupun rendah diri saat mengakui bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas. Salah satu persoalan yang ia soroti secara lugas adalah praktik korupsi yang dinilai masih menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa.
Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2/2026), Prabowo menyampaikan bahwa keterbukaan terhadap kekurangan justru menjadi pintu awal perubahan. Ia menekankan, pengakuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan sebuah bangsa yang ingin berbenah.
“Banyak kawan-kawan luar negeri, kita tidak perlu malu kalau kita punya kekurangan. Korupsi masih terlalu banyak. Kita harus habiskan korupsi dari bumi Indonesia,” kata Prabowo dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan tekad untuk tidak lagi memoles wajah bangsa dengan retorika semata. Korupsi diibaratkan seperti karat pada besi—jika dibiarkan, ia perlahan namun pasti akan melemahkan struktur yang kokoh sekalipun. Karena itu, Prabowo menilai pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan setengah hati atau hanya menyasar permukaan. Ia ingin upaya yang menyeluruh, dari hulu hingga hilir, dari pusat hingga daerah.
Tak hanya praktik suap atau gratifikasi, Prabowo juga menyinggung soal manipulasi serta kebocoran uang negara. Kebocoran di sini bukan sekadar istilah teknis, melainkan gambaran tentang aliran dana publik yang seharusnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi justru menyimpang dari tujuan awal. Dalam konteks antonimnya, jika kebocoran berarti kehilangan, maka tata kelola yang bersih berarti penguatan dan perlindungan terhadap hak rakyat.
Ia pun menyoroti peran kalangan pengusaha dalam menjaga integritas sistem. Bagi Prabowo, dunia usaha bukan sekadar motor ekonomi, tetapi juga mitra strategis dalam membangun budaya kepatuhan terhadap aturan. Tanpa ketaatan pada regulasi, pertumbuhan ekonomi berisiko menjadi semu—besar secara angka, tetapi rapuh dalam fondasi.
“Segala kebocoran, segala penyelewengan, segala manipulasi ya semua tingkatan. Saya kumpulkan pengusaha-pengusaha yang sebagian besar adalah kawan saya sendiri. Saya sampaikan, sudahlah, kalian sudah besar, sudah kaya, patuhi peraturan. Kalian pinter-pinter, tapi di Indonesia ini orang pinter itu pinternya pinter mencari peluang, mengatasi peraturan,” kata dia.
Melalui pernyataan tersebut, Prabowo seakan mengingatkan bahwa kecerdasan sejati bukanlah kemampuan mengakali celah hukum, melainkan kepiawaian dalam menciptakan nilai tambah tanpa melanggar aturan. Ia membedakan antara pintar yang konstruktif dan pintar yang destruktif. Yang pertama membangun, yang kedua justru merusak kepercayaan publik.
Seruan itu sekaligus menjadi refleksi bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab kolektif. Pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat luas memiliki peran masing-masing dalam membentuk ekosistem yang transparan. Transparansi sendiri dapat dimaknai sebagai keterbukaan yang memungkinkan publik mengawasi, sementara akuntabilitas berarti kesiapan untuk mempertanggungjawabkan setiap kebijakan dan penggunaan anggaran.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menggaungkan sebuah visi yang ia sebut sebagai “The New Indonesia”. Frasa ini bukan sekadar slogan, melainkan simbol transformasi. “Baru” dalam konteks ini bukan berarti mengganti identitas bangsa, melainkan memperbarui cara berpikir, memperbaiki sistem, serta memperkuat integritas.
“So, kita harus bersihkan ya. Kita harus ada The New Indonesia. The New Indonesia, harus, tidak boleh, tidak boleh ada korupsi,” ujarnya.
Seruan itu terdengar tegas, bahkan repetitif, seolah ingin menegaskan bahwa tidak ada ruang kompromi terhadap praktik korupsi. Jika Indonesia lama diibaratkan sebagai rumah yang masih memiliki retakan di sana-sini, maka “The New Indonesia” adalah upaya renovasi total—menambal celah, memperkuat pondasi, dan memastikan bangunan berdiri kokoh menghadapi tantangan zaman.
Dengan nada optimistis namun realistis, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak alergi terhadap kritik dan evaluasi. Mengakui kekurangan bukan berarti menyerah, melainkan langkah awal menuju perbaikan. Dalam visi yang ia sampaikan, Indonesia yang baru adalah Indonesia yang bersih, transparan, dan berintegritas—sebuah negeri yang tidak lagi dibayangi praktik korupsi, tetapi berdiri tegak sebagai bangsa yang percaya diri di mata dunia.






