Korban Jiwa Banjir Sumbar Terus Meningkat, Total Tembus 26 Orang

Sahrul

Upaya penyelamatan korban bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat masih berlangsung tanpa henti. Hujan ekstrem yang turun dalam beberapa hari terakhir bukan hanya mengirimkan material banjir ke permukiman warga, tetapi juga memicu pergerakan tanah yang mengancam keselamatan masyarakat. Dalam laporan terbaru, jumlah korban meninggal kembali bertambah, menandai betapa besar dampak bencana yang melanda wilayah tersebut.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengungkapkan bahwa angka kematian kini meningkat menjadi 26 orang. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, melalui siaran resmi yang ditampilkan di akun media sosial lembaga tersebut. Dalam pernyataannya, ia menegaskan, “Meninggal dunia 26 orang.”

Selain memperbarui data korban jiwa, Syafii juga menjelaskan bahwa timnya telah mengevakuasi puluhan ribu warga yang terdampak banjir dan longsor. Proses penyelamatan dilakukan sejak hari pertama kejadian, mulai dari membawa warga ke titik aman hingga mengevakuasi mereka yang terjebak di wilayah sulit dijangkau. Menurut Syafii, setidaknya 29.152 orang telah dievakuasi dari berbagai titik bencana.

Meski demikian, pekerjaan besar masih menanti para petugas di lapangan. Banyak warga yang dilaporkan belum ditemukan, sehingga operasi pencarian terus digencarkan. Dalam keterangannya, Syafii menambahkan, “Masih dalam pencarian 12 orang.” Jumlah tersebut menggambarkan masih adanya kemungkinan bertambahnya korban jiwa jika proses pencarian tidak segera membuahkan hasil.

Sementara itu, laporan sebelumnya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat adanya 23 korban meninggal di Sumatera Barat. Namun, angka tersebut terus berubah seiring masuknya data terbaru dari tim gabungan di lapangan yang bekerja sejak pagi hingga malam.

Tidak hanya Sumbar, provinsi tetangga yaitu Sumatera Utara (Sumut) juga mengalami nasib serupa. Bencana banjir dan tanah longsor di Sumut menimbulkan akibat yang bahkan lebih besar. Dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal resmi BNPB, Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas di wilayah tersebut terus meningkat. Ia menyatakan, “Per hari ini, sore ini, kami mendata untuk seluruh Provinsi Sumatera Utara korban meninggal ada 116 jiwa, kemudian 42 jiwa masih dalam pencarian.”

Suharyanto menekankan bahwa Sumut merupakan wilayah yang paling parah merasakan dampak dari rangkaian bencana tersebut. Dengan intensitas hujan yang tak kunjung mereda, kondisi geografis yang rawan longsor, serta padatnya permukiman di sejumlah daerah, Sumut kini memasuki hari keempat dalam proses penanganan bencana. Situasi ini digambarkan seperti upaya melawan waktu, di mana setiap detik sangat berharga untuk menemukan korban selamat.

Hingga kini, operasi gabungan antara Basarnas, BNPB, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat masih terus dilakukan. Tantangan yang dihadapi sangat kompleks, mulai dari cuaca buruk, akses jalan yang terputus, hingga wilayah terdampak yang sulit dijangkau. Namun demikian, semangat para petugas di lapangan tetap menyala seperti obor yang tak padam oleh terpaan angin, mengingat harapan keluarga korban yang menunggu kabar dari orang-orang tercinta.

Pemerintah daerah dan nasional juga terus memantau perkembangan situasi, termasuk menyiapkan berbagai langkah lanjutan untuk pemulihan pascabencana. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas, terutama mengingat potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Bencana yang melanda Sumbar dan Sumut kali ini menjadi pengingat bahwa alam dapat berubah sewaktu-waktu, dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam mengurangi risiko yang lebih fatal. Sementara itu, upaya penyelamatan dan evakuasi terus berjalan demi menyelamatkan setiap nyawa yang mungkin masih menunggu pertolongan.

Also Read

Tags