Arus wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan laju yang kian menguat. Dalam rentang Januari hingga November 2025, jumlah turis asing yang datang ke Tanah Air tercatat mencapai 13.979.655 kunjungan. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 10,44 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Lonjakan ini menjadi penanda penting bagi sektor pariwisata nasional. Setelah sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19, geliat perjalanan lintas negara kini kembali berdenyut. Capaian tersebut bahkan tercatat sebagai yang tertinggi dalam enam tahun terakhir, menandai fase pemulihan yang semakin nyata.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, menegaskan bahwa angka kunjungan tersebut merupakan rekor tersendiri dalam periode pascapandemi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa puncak kunjungan wisatawan mancanegara masih tercatat sebelum dunia dilanda krisis kesehatan global.
“Capaian kunjungan wisman Januari-November 2025 ini merupakan capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir,” kata Pudji dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Sebagai pembanding, pada periode Januari hingga November 2019—sebelum COVID-19 merebak—Indonesia mencatat 14.729.887 kunjungan wisatawan mancanegara. Artinya, jarak menuju level prapandemi kini semakin tipis, seperti garis finis yang mulai terlihat setelah lari panjang pemulihan.
Namun, jika ditarik lebih dekat ke bulan terakhir yang tercatat, pergerakan wisatawan menunjukkan dinamika tersendiri. Pada November 2025, jumlah wisman yang masuk ke Indonesia mencapai 1.199.007 orang. Angka ini memang mengalami penurunan 11,12 persen dibandingkan Oktober 2025, tetapi masih lebih tinggi 9,79 persen dibandingkan November tahun sebelumnya.
Fluktuasi bulanan tersebut mencerminkan sifat pariwisata yang sensitif terhadap musim, jadwal liburan, serta kondisi global. Meski terjadi koreksi secara bulanan, tren tahunan tetap menunjukkan arah positif.
Dari sisi kebangsaan, wisatawan asal Malaysia masih menjadi kontributor terbesar kunjungan wisman pada November 2025 dengan porsi 17,3 persen. Posisi berikutnya ditempati Australia sebesar 11,3 persen, disusul Singapura 10,5 persen, China 8,8 persen, dan Timor Leste 8,3 persen. Negara lain yang turut menyumbang kunjungan antara lain India, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris.
“Dibandingkan dengan Oktober 2025, terjadi penurunan kunjungan wisman dari Malaysia 11,67% dan Australia 14,78%. Sedangkan dari Singapura mengalami peningkatan 2,17%,” beber Pudji.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun dua pasar utama mengalami penurunan secara bulanan, negara lain justru mencatatkan pertumbuhan. Hal ini menandakan bahwa sumber kunjungan wisman ke Indonesia semakin beragam dan tidak bertumpu pada satu atau dua negara saja.
Dari sisi pintu masuk, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali masih menjadi gerbang utama kedatangan turis asing. Sepanjang November 2025, bandara ini mencatat 476.507 kunjungan wisman. Bandara Soekarno-Hatta menyusul dengan 240.330 kunjungan, diikuti Batam 125.503 kunjungan, Juanda 21.629 kunjungan, serta Kualanamu 20.826 kunjungan.
Meski tetap mendominasi, Bandara Ngurah Rai mengalami penurunan kunjungan secara bulanan. Pudji menjelaskan bahwa penurunan tersebut tidak terjadi tanpa sebab.
“Terlihat terjadi penurunan jumlah kunjungan wisman melalui Bandara Ngurah Rai secara bulanan karena menurunnya ini disebabkan karena kunjungan wisman yang berasal dari Australia, India dan Tiongkok,” imbuh Pudji.
Secara keseluruhan, hampir 14 juta kunjungan wisman dalam sebelas bulan menjadi sinyal kuat bahwa pariwisata Indonesia sedang menapaki jalur pemulihan yang konsisten. Meski belum sepenuhnya melampaui capaian prapandemi, angka ini menunjukkan bahwa Indonesia kembali menjadi magnet bagi pelancong global. Dengan tren positif yang terus terjaga, sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi nasional di tahun-tahun mendatang.






