Memilih kendaraan Eropa bekas memang menawarkan pesona tersendiri bagi para penggemar otomotif. Di antara deretan pabrikan kenamaan, Audi dan Volvo sering kali dianggap menawarkan pengalaman berkendara yang eksklusif, dengan tingkat kenyamanan kabin dan kesenyapan yang superior, bahkan mampu membuat pemiliknya enggan beralih ke mobil buatan Jepang. Namun, realitas pasar mobil bekas menunjukkan fenomena menarik: kedua merek premium ini ternyata tidak sesukses BMW dan Mercedes-Benz dalam hal popularitas di kalangan pembeli mobil bekas. Mengapa demikian?
Effry, seorang mekanik spesialis mobil Eropa dari bengkel New Benefit Auto Service di Bogor, memberikan pandangan mendalam mengenai hal ini. Menurutnya, secara teknis, kualitas berkendara yang ditawarkan oleh Audi dan Volvo tidak perlu diragukan lagi. Sasis yang kokoh, kabin yang senyap, dan isolasi suara yang mumpuni merupakan keunggulan yang patut diacungi jempol. Namun, tantangan terbesar muncul pada aspek keberlanjutan perawatan.
Effry menjelaskan bahwa meskipun proses perbaikan secara mekanis tidak jauh berbeda dengan merek Eropa lainnya, biaya suku cadang untuk Audi dan Volvo cenderung sedikit lebih tinggi. "Secara pengerjaan, sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan. Namun, harga komponennya memang ada sedikit perbedaan, sedikit lebih mahal," ungkap Effry.
Faktor harga komponen yang lebih menguras kantong ini menjadi semakin terasa dampaknya ketika berhadapan dengan ketersediaan suku cadang. Karena populasi Audi dan Volvo di jalan raya tidak sebanyak BMW atau Mercedes-Benz, ekosistem pendukung suku cadangnya pun tidak sekaya dan semasif kedua merek Jerman tersebut. Hal ini tentu menyulitkan pemilik kendaraan, terutama ketika mereka berusaha mencari komponen pengganti, apalagi jika mereka berencana menghemat biaya dengan mencari suku cadang bekas atau copotan.
"Ketersediaan spare part memang menjadi kendala, apalagi jumlah mobilnya juga tidak sebanyak merek lain, sehingga komponen bekasnya pun lebih sulit ditemukan," tambah Effry. Kesulitan ini akan semakin berlipat ganda jika model mobil Eropa yang dipilih tergolong sangat langka di Indonesia. Effry mencontohkan pengalamannya menangani kendaraan dari merek Prancis seperti Citroen. Proses pemesanan komponen khusus untuk Citroen bisa memakan waktu yang sangat lama, bahkan berbulan-bulan, jika mobil mengalami kerusakan yang membutuhkan komponen yang tidak tersedia di pasar domestik. Dalam kasus seperti itu, komponen harus dipesan langsung dari negara asalnya, yang tentu saja akan berdampak pada tingginya harga.
"Jika ada komponen yang tidak tersedia di sini, harus dicari dari negara asalnya, seperti dari Prancis. Prosesnya bisa memakan waktu satu hingga dua bulan, dan tentu saja biayanya akan jauh lebih tinggi," jelasnya.
Oleh karena itu, kemudahan akses terhadap suku cadang dan ketersediaan bengkel yang memadai menjadi faktor penentu mengapa BMW dan Mercedes-Benz masih menjadi pilihan utama bagi banyak pembeli mobil bekas, terutama bagi mereka yang baru ingin beralih ke mobil Eropa. Kendaraan dari kedua merek ini menawarkan kepraktisan dan prediktabilitas dalam hal perawatan.
Sebaliknya, Audi dan Volvo lebih cocok bagi para penggemar otomotif yang memiliki pemahaman mendalam tentang karakteristik kendaraan tersebut, serta siap secara mental, waktu, dan anggaran untuk merawatnya. Mereka yang memilih Audi atau Volvo biasanya sudah siap menghadapi potensi tantangan dalam mencari suku cadang dan mungkin perlu sedikit lebih sabar dalam proses perbaikan. Keunggulan eksklusivitas dan kenyamanan yang ditawarkan menjadi daya tarik utama bagi segmen pasar ini, yang bersedia mengorbankan sedikit kepraktisan demi pengalaman berkendara yang unik.
Lebih lanjut, persepsi publik terhadap merek juga memainkan peran penting. BMW dan Mercedes-Benz telah lama memposisikan diri sebagai simbol kemewahan dan performa di pasar global, termasuk di Indonesia. Citra yang kuat ini secara alami menarik perhatian calon pembeli, baik mobil baru maupun bekas. Audi, meskipun juga merupakan merek premium, mungkin tidak memiliki resonansi emosional yang sama kuatnya dengan kedua pesaingnya di mata sebagian besar konsumen mobil bekas. Volvo, yang lebih dikenal dengan fokus pada keselamatan dan kenyamanan, mungkin juga memiliki basis penggemar yang lebih spesifik dan tidak seluas BMW atau Mercedes-Benz di pasar mobil bekas.
Selain itu, strategi pemasaran dan distribusi suku cadang dari masing-masing produsen juga berkontribusi pada perbedaan popularitas ini. Merek yang memiliki jaringan layanan purna jual yang lebih luas dan ketersediaan suku cadang yang lebih baik cenderung lebih menarik bagi konsumen yang mencari kepastian dan kemudahan. BMW dan Mercedes-Benz, sebagai pemain lama dan besar di pasar otomotif global, umumnya memiliki infrastruktur yang lebih matang dalam hal ini.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah nilai depresiasi. Meskipun mobil Eropa umumnya mengalami depresiasi yang lebih cepat dibandingkan mobil Jepang, perbedaan ini bisa bervariasi antar merek. Jika Audi dan Volvo bekas memiliki nilai jual kembali yang cenderung lebih rendah atau lebih fluktuatif, ini bisa menjadi pertimbangan bagi sebagian pembeli yang juga memikirkan nilai investasi jangka panjang. Namun, bagi pembeli yang fokus pada pengalaman berkendara dan kenyamanan, faktor ini mungkin kurang menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, perbandingan popularitas ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks, di mana kombinasi antara kualitas produk, ketersediaan suku cadang, biaya perawatan, citra merek, dan persepsi konsumen membentuk preferensi pasar. Audi dan Volvo tetap menjadi pilihan menarik bagi mereka yang menghargai keunikan dan kenyamanan, namun tantangan dalam aspek ketersediaan dan biaya suku cadang menjadi batu sandungan yang membuat BMW dan Mercedes-Benz unggul dalam perburuan mobil Eropa bekas.






