Misi Sang Bintang: Mampukah Salah Menulis Sejarah Baru untuk Mesir di Panggung Dunia?

Tommy Welly

Mesir, negara dengan warisan sepak bola yang kaya di kawasan Arab dan Afrika, kini dihadapkan pada sebuah ujian sejarah di Piala Dunia 2026. Di pundak Mohamed Salah, sang bintang Liverpool, tersemat harapan besar untuk mengukir catatan kemenangan perdana bagi "The Pharaohs" di ajang paling prestisius ini. Perjalanan panjang Mesir di Piala Dunia sejak debut mereka pada tahun 1934 diwarnai oleh catatan tanpa kemenangan, sebuah rekor yang diharapkan dapat dipatahkan oleh performa gemilang Salah.

Piala Dunia 2026 ini diprediksi akan menjadi salah satu panggung internasional terakhir bagi Salah, mengingat usianya yang akan menginjak 34 tahun saat turnamen akbar tersebut bergulir. Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk mengakhiri penantian panjang dan memberikan kebanggaan bagi jutaan penggemar Mesir. Sejak kemunculannya di kancah sepak bola tertinggi, Mesir selalu kesulitan untuk meraih poin penuh, dan seringkali harus mengakhiri kiprah mereka di fase grup tanpa satu pun kemenangan.

Sebagai salah satu pionir dari Benua Afrika dan Timur Tengah yang berhasil menembus Piala Dunia, Mesir sejatinya memiliki sejarah yang patut dibanggakan. Namun, rekam jejak mereka di turnamen ini belum juga tersentuh kemenangan. Tercatat, dalam tiga partisipasi yang berbeda, Mesir selalu gagal meraih tiga poin. Debut mereka pada tahun 1934, saat format turnamen masih menggunakan sistem gugur murni, langsung terhenti di tangan tim kuat Hungaria. Perjuangan mereka berlanjut pada Piala Dunia Italia 1990, di mana meskipun sempat menahan imbang tim Belanda yang tangguh di laga pembuka, hasil akhir tetap belum berpihak.

Tragedi serupa kembali terulang pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Mesir harus menelan pil pahit dengan kekalahan beruntun dalam tiga pertandingan fase grup, meninggalkan mereka pulang tanpa poin sama sekali. Kini, di tahun 2026, fokus utama tertuju pada Mohamed Salah. Dengan segudang pengalaman dan ketajamannya di level klub, publik Mesir sangat berharap sang bomber dapat menjadi pembeda. Ia diharapkan mampu menginspirasi rekan-rekannya dan memecah kebuntuan yang telah berlangsung lama.

Salah bukan sekadar pemain bintang biasa bagi Mesir. Ia adalah simbol harapan dan penentu arah serangan tim. Dengan koleksi 67 gol, ia menduduki peringkat kedua sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk tim nasional Mesir. Selain itu, ia juga sejajar dengan legenda Mesir, Abdelrahman Fawzy, sebagai pemain tersubur di ajang Piala Dunia bagi negaranya. Namun, statistik individu ini tidak pernah cukup untuk membawa Mesir meraih kemenangan di turnamen empat tahunan ini. Beban untuk memutus tren negatif ini kini sepenuhnya berada di pundak Salah.

Tantangan yang dihadapi Mesir di Piala Dunia 2026 dipastikan tidak akan mudah. Mereka tergabung dalam grup yang cukup berat, bersaing dengan tim-tim kuat seperti Belgia, Iran, dan Selandia Baru. Setiap pertandingan akan menjadi pertarungan sengit yang membutuhkan performa maksimal dari seluruh lini tim. Peran Salah tidak hanya sebagai pencetak gol, tetapi juga sebagai pemimpin di lapangan yang mampu membangkitkan semangat juang tim di saat-saat krusial.

Lebih dari sekadar pencapaian individu, kemenangan bagi Mesir di Piala Dunia 2026 akan memiliki makna yang jauh lebih besar. Ini akan menjadi momen bersejarah yang akan dikenang sepanjang masa, sebuah bukti bahwa kerja keras, determinasi, dan bakat individu dapat mengubah nasib sebuah bangsa di panggung dunia. Mohamed Salah, dengan segala kemampuannya, diharapkan mampu menjadi katalisator perubahan tersebut.

Perjalanan Mesir di Piala Dunia selalu menjadi kisah yang penuh harapan namun seringkali berakhir dengan kekecewaan. Sejak awal keikutsertaan mereka, tim berjuluk "The Pharaohs" ini belum pernah sekalipun merasakan euforia kemenangan di turnamen akbar tersebut. Data dari berbagai sumber, termasuk Yahoo Sport, mengkonfirmasi bahwa Mesir belum pernah meraih tiga poin penuh sejak debutnya pada tahun 1934. Rentetan hasil buruk ini terus berlanjut hingga edisi-edisi berikutnya, menciptakan sebuah rekor yang ingin segera dipecahkan.

Piala Dunia 2026 ini menjadi momen krusial, bukan hanya bagi tim Mesir secara kolektif, tetapi juga bagi karier internasional Mohamed Salah. Banyak pengamat memprediksi bahwa turnamen ini akan menjadi penampilan terakhir Salah di panggung Piala Dunia, mengingat usianya yang akan memasuki usia matang di dunia sepak bola. Oleh karena itu, ekspektasi untuk melihat Salah menginspirasi Mesir meraih kemenangan perdana menjadi semakin tinggi. Ketajamannya di depan gawang lawan diharapkan mampu membawa perubahan signifikan dalam kiprah Mesir di fase grup.

Mesir memiliki kebanggaan tersendiri sebagai salah satu tim perintis dari kawasan Arab dan Afrika yang berhasil menembus kompetisi sepak bola tertinggi di dunia. Namun, kebanggaan tersebut belum diimbangi dengan prestasi gemilang di lapangan. Rekam jejak mereka selalu terhenti di fase awal tanpa pernah merasakan kemenangan, meskipun telah berpartisipasi dalam tiga edisi Piala Dunia yang berbeda.

Pada edisi tahun 1934, format turnamen yang masih menggunakan sistem gugur langsung membuat Mesir harus tersingkir di pertandingan awal melawan Hungaria. Kemudian, di Piala Dunia 1990 di Italia, meskipun sempat memberikan kejutan dengan menahan imbang timnas Belanda, Mesir tetap gagal melaju lebih jauh dan harus mengakhiri perjalanan mereka tanpa kemenangan. Perjalanan pahit kembali terulang pada Piala Dunia 2018 di Rusia, di mana Mesir harus merasakan tiga kekalahan beruntun dan pulang dengan tangan hampa.

Menjelang Piala Dunia 2026, Salah akan berusia 34 tahun saat turnamen dimulai, sebuah usia yang matang bagi seorang pesepak bola. Momen ini menjadi lebih emosional karena ini bisa jadi kesempatan terakhirnya untuk memberikan warisan berupa kemenangan bersejarah bagi negaranya. Salah sendiri telah menorehkan namanya dalam sejarah sepak bola Mesir sebagai pencetak gol terbanyak kedua sepanjang masa dengan 67 gol. Ia juga menyamai rekor Abdelrahman Fawzy sebagai pemain Mesir dengan kontribusi gol terbanyak di ajang Piala Dunia.

Dengan sejarah dan pencapaian individu yang gemilang, beban ekspektasi publik Mesir kini tertuju sepenuhnya pada kemampuan Salah untuk membobol gawang lawan dan membawa tim nasional meraih kesuksesan yang telah lama dinantikan. Tantangan di grup yang ditempati Mesir pun tidak bisa dianggap remeh. Mereka harus berhadapan dengan tim-tim kuat seperti Belgia, Iran, dan Selandia Baru, yang diprediksi akan menjadi ujian berat bagi "The Pharaohs". Keberhasilan Mesir untuk lolos dari fase grup, apalagi meraih kemenangan, akan sangat bergantung pada performa impresif Mohamed Salah dan kerja sama tim yang solid.

Also Read

Tags